
Seminggu setelah Jimin membuatku semakin bingung dengan sikapnya, aku benar-benar tidak tinggal diam. Meski aku tidak bisa keluar untuk menemui Nam, akhirnya aku menemukan cara untuk berkomunikasi dengannya agar tidak bisa dilacak oleh sistem apa pun.
Meski kami masih tidak tidur satu kamar, Jimin selalu tahu apa yang aku lakukan. Dia bahkan mengecek SNS-ku. Dua hari yang lalu, dia memintaku untuk berhati mengunggah apa pun di Internet atau SNS yang aku punya. Jimin masih memintanya dengan baik, walaupun ditambah ancaman jika aku tidak menurut, maka dia sendiri yang akan melakukan backing untuk seluruh akun SNS-ku. Menyebalkan Aku tidak tahu apa apa alasan pastinya.
Saat aku tanya, Jimin hanya bilang bahwa 'tidak semua hal harus dibagikan ke media sosial'. Padahal, aku juga tidak terlalu sering memosting tentang diriku. Hanya jika bosan saja dan ingin mengobrol dengan teman-teman lamaku atau keluarga jauh yang juga mengikuti media sosialku.
Terkadang aku juga ingin membagikan kabar bahagia seperti mengunggah foto hasil USG bayiku. Namun Jimin tidak menyukainya, jadi dia benar-benar menyuruhku berhenti bermain SNS, entah sampai kapan.
Gojung membantuku untuk berkomunikasi tanpa terlacak. Aku meminta Gojung untuk datang. Gojung sebenernya tidak terlalu pandai bermain dengan sistem teknologi, tapi dia datang ke rumahku untuk menginstal sebuah software di laptopku l, lalu mengikuti semua instruksi dari Nam yang sebelumnya sudah dia pelajari.
Gojung dan Myura sudah tahu semua masalahku karena tepat seminggu lalu, aku akhirnya menceritakan semua pada mereka. Awalnya, mereka marah tapi kemarahan itu tak berlangsung lama karena hubungan pertemanan kami sangat dekat. Aku duduk di atas ranjang dengan laptop yang kuletakan di atas bantal.
Aku meletakkan satu jariku di antara dua gigi, gugup menunggu sambungan panggilan video. sepasang earphone sudah terpasang di kedua telinga, menunggu Nam menjawab panggilannya. Sesekali aku melirik jam dinding, melihat bahwa seharusnya ini sudah waktunya kami terhubung. Atau, mungkin Nam lupa? Tidak mungkin. Sebenernya, aku bukan gugup karena harus menunggu sambungan ini, tapi karena Jimin bisa pulang kapan saja. Aku tidak pernah tahu pasti apakah malam ini Jimin kembali atau tidak.
Yang aku tahu setiap kembali, Jimin biasanya akan mengecek keadaanku sendiri. Dia akan masuk sendiri ke kamarku untuk mengecek, apakah aku sudah meminum susu dan vitaminku. Jimin akan masuk dan mengambil piring makan malam atau beberapa gelas kosong yang biasanya kuletakkan di nakas dekat ranjang. Jika aku mengunci pintunya, Jimin akan masuk dengan kunci cadangan.
Aku tahu itu, karena aku pernah berpura-pura tidur dan mungkin aku juga setengah mengantuk. Aku merasakan kehadiran dia masih memakai jasnya, menatapku selama beberapa menit, terkadang menyingkirkan helaian rambutku sampai akhirnya pergi dan membawa gelas atau piring yang sudah kosong dari nakasku.
__ADS_1
"Maaf, aku baru tiba di rumah."
Suara dari layar laptop membuyarkan lamunanku. Aku segera menatap ke monitor dan melihat Nam yang seperti baru datang dari suatu tempat. Dia bahkan sedikit berkeringat dan kini sedang melepaskan tas kameranya.
"Ah, maaf. Apakah aku mengganggu? Mungkin, aku bisa beristirahat dulu. Kita bisa membiarkan ini lain kali." Aku jadi merasa sungkan terhadapnya.
Nam terkekeh sambil mengambil sapu tangan dan mengusap keringatnya. "Tidak apa-apa, aku malah sangat bersemangat ingin menceritakan banyak hal yang mungkin sangat ingin kau dengar," ucapnya antusias.
Pembicaraan ini mulai menarik. Secara garis besar, Nam sudah mulai mengerti ceritanya. Gojung merekam saat aku berbicara dan memberikan memberikan itu pada Nam. Jadi, kurasa Nam sudah tahu apa yang ingin kudengar.
"Terima kasih." Ucapku juga ikut tersenyum.
Nam lalu menarik napas. "Harus kuakui, sangat sulit memecahkan ini. Tapi, aku pernah mendengar tentang sekelompok orang yang melibatkan mereka dalam gim untuk melakukan misi-misi yang menantang untuk kepuasan pribadi."
Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar kalimat itu dari Nam. Di otakku langsung terpampang wajah Jimin, Jimin dan memang hanya Jimin sialan itu yang memenuhi kepalaku.
"Ada beberapa sebutan untuk permainan itu." Nam mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan. Dia tampak membaca sebentar. Astaga, dia benar-benar melakukan riset untuk mencari tahu tentang itu. "Di negara bagian barat, itu dikenal dengan istilah 'Escaping heaven', ada yang juga menamainya 'Play or Die?' dan dari data yang kudapat, di daerah timur sendiri khususnya di Korea ini dikenal dengan sebutan 'How Come?'." Penjelasan Nam membuatku menelan ludah. "How Come?" Aku mengerutkan kening, masih merasa namanya aneh.
__ADS_1
Aku masih mencerna kalimat itu, tapi sejauh ini aku tahu intinya."Baiklah, teruskan."
"Permainan ini dijadikan dalam kurun waktu tertentu, sesuai kesepakatan, mulai dari tiga bulan sampai maksimal dua tahun. Jumlah pemain 21 orang, dibagi menjadi tujuh babak. Satu babak dimainkan oleh tiga orang dan kurasa mereka semua bukan orang-orang yang tidak punya uang karena di sini dijelaskan bahwa setiap pemain akan mempertaruhkan tiga hal terpenting dalam hidupnya."
Mendengar kalimat penjelasan itu, aku spontan mengepalkan tanganku di bawah bantal. Ini persis seperti yang kuketahui dan itu mengingatkanku bagaimana aku menjadi salah satu dari taruhan itu. Brengsek!
"Hal pertama yang pertaruhkan adalah benda kesayangan," Jelas Nam.
Aku ingat Jimin mempertahankan Range Rover miliknya di pilihan pertama. Mobil itu memang kesayangan Jimin, jarang dipakai tapi Jimin selalu merawatnya. Itu adalah mobil pertama yang berhasil dia beli setelah pencapaian terbesar dalam hidupnya. Jimin pernah menceritakan itu saat kami masih masa pendekatan.
"Hal kedua yang di pertaruhkan adalah kekayaan terbesar," jelas Nam lagi.
Jimin mempertaruhkan seluruh sahamnya di posisi kedua. Aku yakin, jika Jimin kalah hidupnya akan benar-benar berubah.
"Lalu, hal yang terakhir yang dipertahankan adalah hal yang paling mengerihkah, biasanya." Nam menatapku sejenak, dia sepertinya juga sudah tahu, bahwa Jimin ikut mempertaruhkan namaku. Aku lupa mengatakan itu dalam rekaman penjelasannya atau tidak.
Aku lantas tersenyum pedih. "Ya, dia mempertaruhkan nyawaku."
__ADS_1