
"Apa mereka senang?" tanya yuli. hanya itu yang ada di kepalanya.
Jimin membenarkan posisi kepala yuli yang bersandar di bahunya, jarinya bergerak untuk mengusap tepian pipi yuli dan Jimin menatapnya dalam.
"Tentu, itu cucu pertamanya." Jimin menarik senyum yang nyaris tak kentara. "Bahkan, mereka menyuruhku untuk mengirimmu sejak tadi pagi.".
Itu sebuah kejutan. Yuli tidak tahu bahwa dia sampai disuruh ke sana. "Lalu, kenapa Oppa tidak membawaku ke sana?"
"Aku sibuk hari ini, tidak bisa bersamamu di sana," jawab Jimin dengan suara tenang yang terkesan serak. Mungkin Jimin mulai mengantuk.
"Hah? tapi kan aku bisa pergi ke sana sendirian," ucap Yuli santai, dingin. Jimin menatap Yuli tajam dan penuh peringatan.
__ADS_1
"Takkan kubiarkan kamu ke sana pergi sendirian dan jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu. Tidak, Yuli. Tidak sekali pun."
Yuli merinding kalimatnya begitu menusuk, seperti sebuah peringatan yang tak boleh di langgar sama sekali.
"Ke-kenapa?" Itu spontan dari mulut Yuli.
Jimin memejamkan mata, mengatur napas pelan lalu membuka lagi matanya. Tatapannya kini tak sedingin sebelumnya.
"Sudah malam, waktunya kau dan bayiku tidur." Jimin tak memberi Yuli jeda waktu untuk menanggapi karena Jimin langsung menyelipkan tangannya di belakang lutut dan punggung yuli, membawa yuli ke dalam sebuah gendongan menuju tempat yang Jimin inginkan.
Jimin tak mengatakan apapun lagi. Dia sempat meninggalkan Yuli untuk melepas pakaiannya, Yuli sedikit terkejut melihatnya karena tidak biasanya jimin tidur dengan bertelanjang dada diluar hubungan badan.
__ADS_1
Yuli jadi was-was karena jujur, dia terlalu lelah untuk melayaninya malam ini. Namun, Yuli bernapas lega ketika Jimin hanya berbaring di sampingnya. Tanpa melakukan gerakan mencurigakan untuk menyentuh yuli, dia hanya menyampirkan selimut nya di batas pinggang perutnya terpapar jelas. Yuli lihat Jimin mengatur napas. Lengannya terangkat menutup keningnya sendiri, mata Jimin memejam, jaku-nya naik turun untuk beberapa saat.
Mungkin Jimin hanya terasa kepanasan. Meskipun tampak lelah, dia masih terlihat seksi. Yuli memandanginya sambil ikut mengatur napas, buru-buru yuli pejamkan mata untuk tidur.
★★★★★
Untuk pertama kalinya dalam hidup, yuli terbangun dengan rasa mual yang luar biasa. Yuli bahkan langsung terbangun dalam posisi duduk, menutup mulutnya, satu detik sebelumnya langsung menuju wastafel dan membuang semua apa yang bisa yuli muntahkan.
Cairan pahit begitu terasa di lehernya. Yuli seketika lemas setelah mencoba memuntahkan semuanya berkali-kali, yuli dengan cepat menyalakan kerang air dan membasuh mulut sekaligus wajah.
Sepertinya obat penahan mual yang diberikan dokter itu tidak terlalu membantu. Yuli menatap dirinya di kaca, sedikit pucat dan terlihat menyedihkan. Namun Yuli tak ambil pusing meskipun perutnya masih terasa agak terkoyak, yuli tetap melanjutkan aktivitas di kamar mandi setelah menyikat gigi.
__ADS_1
Keluar dari kamar mandi, yuli baru sadar bahwa sisi sebelah ranjang-nya kosong. Jimin kemana? Bukankah kemarin Jimin bilang tidak akan ke kantor karena ingin pergi ke rumah ayahnya? Sejak kapan Jimin tidak ada di sebelah yuli?
Yuli mengikuti instingnya untuk keluar kamar, lalu menyusuri beberapa ruangan tapi masih tidak Yuli temukan eksistensi Jimin. Namun saat yuli berjalan melewati area halaman belakang, dia mendengar suara musik barat yang terdengar.