
"Dan, aku juga menangis saat tiba di sini karena mobil tidak masuk sampai kesini." yuli melipat tangannya kesal, mungkin betapa lelahnya kaki yuli saat harus berjalan kurang lebih lima kilometer untuk bisa sampai ke tempat ini.
Bagi yuli tidak masalah soal jarak yang ditempuh, tapi ini melainkan medannya yang lebih menanjak dan cukup ekstrim. Padahal, ada penginapan lain yang lebih dekat di bawah, tapi entah kenapa Jimin memilih tempat ini.
Jimin menarik napas setelah membuka tirai jendela itu, dia berbalik hingga yuli bisa melihat jelas penampilan saat ini. Yuli tidak percaya bahwa jimin akan berusia tiga puluh tahun sebentar lagi karena jaket dan celana jeans hitam membuat jimin seperti seorang idola yang baru debut.
Jimin menyibakkan rambut bagian depannya hingga dahinya terlihat, dia menjilat bibirnya saat melangkah mendekati yuli yang masih berdiri di dekat ranjang. mereksa masih sama-sama memakai jaket, yuli bahkan masih memakai syalnya.
Saat sampai di depan yuli, Jimin menangkup pipinya dengan kedua tangan jimin. "Kan sudah aku bilang. Aku sengaja memilih tempat yang jauh agar kau tidak bisa kabur," bisik Jimin entah berniat menggoda atau ancaman. Yuli tak begitu peduli dengan nadanya karena saat ini hanya menginginkan kebenaran dari jimin.
"Jadi, kapan Oppa akan menceritakannya padaku?" tuntut yuli tak sabaran.
__ADS_1
Jimin tersenyum tipis, bahkan tanpa aba-aba mengecup kening.Dengan lembut, bahkan seperti hanya menempelkan ujung bibir tebalnya saja untuk di gesekan-gesekan di atas kening yuli.
"Mandi dulu, nanti malam akan aku ceritakan semuanya." jimin menjauhkan wajahnya dan mengusap bagian area pipi yuli yang mungkin sekarang sudah memerah.
Yuli menarik napas pendek. Jimin benar, mungkin yuli butuh mandi dulu dan menenangkan pikiran. Mungkin, semua itu juga bisa dibicarakan setelah makan malam .
Jimin adalah sosok orang dewasa yang suka membicarakan segala hal dengan ketenangan. Karena, jika Jimin marah dan dalam kondisi tidak tenang, Jimin bisa mengatakan hal yang tidak disangka, seperti saat tidak tenang di mengusir yuli dari rumah.
"Bersama?" tawar Jimin dengan senyuman dan tatapan menggoda yang sungguh sialan bagi yuli.
Yuli spontan memelototi dan berusaha melepaskan diri. "Ugh, kurasa tidak sekarang."
__ADS_1
"memang tidak sekarang, kan kita belum melepas pakaian," jawab Jimin santai.
Yuli mencoba mengelak karena ini sungguh serangan yang tak diharapkan. Namun, yuli tidak tahu sejak kapan dia mulai lengang. Kemungkinan, sejak bibir Jimin berhasil menyapa setiap inci dari kulit leher yuli.
Secara insentif, yuli mengangkat kepala memudahkan untuk menyapa lebih dalam. Yang yuli tahu, dia hanya bisa berkata. "jimin..." sambil menjambak rambut hitam Jimin.
Yuli bahkan tidak sadar tenaga Jimin terlalu mendominasi hingga mendorong-nya mundur menuju kamar mandi. Punggung yuli menubruk pintu kamar mandi dan kedua tangan Jimin mengurung tubuhnya. Napas Jimin tersengal-sengal, dia mencium sudut bibir yuli seketika dan berkata, "Biarkan aku melakukan-nya sebelum kau tak ingin lagi melakukan ini padaku."
Belum sempat yuli mencerna ucapan Jimin, bibir yuli lebih dulu jimin serang.
...Halo semuanya yang suku dengan ceri ini aku minta maaf jika ada kesalahan kata atau alur ceritanya. mohon di maklumi, oh iya. jangan lupa komentarnya dan like agar aku lebih semangat lagi buat cerita ini...
__ADS_1