
Lalu seorang lelaki datang menyapa mereka berdua dan memperkenalkan diri sebagai Im jangsik, salah seorang anggota tim di C.U. Ink.
"Ya. Orang yang waktu itu menyambut aku dengan hangat," kata yuli. "Dua anggota tim yang mengurusi gim ini?"
"Dia anggota tim yang paling kusuka karena ketelatenan dan kecerdasannya."
"Kau hebat." yuli tersenyum bangga.
Jimin mengubah raut wajahnya seperti orang yang memikirkan sebuah beban. "Tapi, aku tidak menyukai kehebatan itu."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya yuli polos.
Jimin menyandarkan lagi dagunya di bahu yuli. "Mungkin kau juga sudah tahu bahwa aku punya daya ingat yang cukup baik." Jimin menarik napas. "Tapi, itu lebih dari cukup baik, itu terkadang terlalu baik. Aku tidak menyukainya."
Lalu, yuli sedikit menoleh ke samping, melihat tatapan jimin yang berubah menjadi kosong. Dia masih ingin berbicara. "Aku mengalami semuanya sejak kecil. Aku mengingat sangat banyak kejadian dalam hidupku, aku bahkan menyimpan ingatan ketika ibuku memakaikanku sebuah topi raju berwarna coklat tua. Saat kutanya, dia bilang bahwa dia membeli tapi itu saat aku berusia delapan bulan."
Yuli terkehut mendengar hal itu seorang bayi yang baru delapan bulan sudap mempunyai ingatan seperti itu, memang luar biasa ingatan Jimin memang tajam.
"Karena aku tidak bisa melupakannya, itu yang akhirnya membuatku menjaga jarak dengan ayahku. hingga akhirnya ibuku menyadari bahwa aku tidak nyaman bersama ayahku." Jimin meletakan Ipad-nya, lalu memeluk pinggang yuli. Seolah jimin ingin yuli lebih memahaminya.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan ayahku, tapi aku tidak bisa melupakan kejadian itu meskipun mereka sudah berbaikan. Tapi, aku tetap sulit mendekatkan diri lagi dengan ayahku. Jadi, kurasa itulah alasan mengapa ibuku memilih untuk bercerai dengan ayahku." Bisa yuli rasakan, Jimin merasa sangat bersalah. "Semuanya karena aku."
Yuli tidak bisa berkata apa-apa. Dia masih ingin mendengar Jimin melanjutkan ceritanya. "Aku tumbuh menjadi orang yang selalu mengingat banyak hal dan kejadian. Aku sampai harus menyembuhkan pikiranku untuk menghafal banyak rumus agar ingatanku yang harus kulupakan tidak menjadi prioritas." Jimin menggenggam tangan yuli. "itu mangkanya, aku sering menyibukkan diri. Itu semua kulakukan agar aku tidak mengingat banyak hal yang tidak perlu kuingat."
Yuli merenung sejenak. Jimin masih mengatur napasnya. "Aku melakukan hal gila apapun untuk meredam segala ingatanku yang kadang bagai suara. Aku lebih baik kelelahan karena berpikir tentang pekerjaan hingga akhirnya tertidur. Aku membiarkan diriku seperti itu." Jimin kembali memeluk yuli. "Maafkan aku untuk itu."
Yuli tidak berbicara. Entah mengapa yuli merasa ini belum semuanya. Jimin masih akan bicara. "Saat aku mengatakan hal gila untuk meredam daya ingatanku yang berlebihan, kau pasti akan membenciku, sayang." Jimin mengeratkan lagi pelukannya.
Entah kenapa, saat ini jantung yuli berdegup kencang. "Di masa lalu, aku mengencani banyak wanita. Bergonta-ganti, tapi hanya beberapa yang tidur denganku. Aku pemili intinya, satu banding sepuluh. jika aku mengencani sepuluh, hanya satu yang tidur denganku."
__ADS_1
Yuli tak percaya Jimin mengatakan hal ini. Yuli tidak bisa bohong, itu sedikit menyakitinya. Padahal, yuli juga sebenernya sudah menerka sebelumnya bahwa Jimin akan mengatakan hal ini.
"Berapa wanita yang kau kencani?" tanya yuli akhirnya.