
yuli yang berada dalam mata yang terpejam. Selama lima belas detik, dia menenangkan perasaannya. tiba-tiba saja sebuah suara membuat yuli membuka mata. Dia mendengar sebuah bunyi bip khas pintu apartemennya yang berhasil di buka. Sesaat itu Yuli mengira dia harus berdiri dan mengeceknya. Namun, sedetik setelah, aku langsung sadar dan tahu siapa yang datang.
seseorang yang mengetahui password dan punya kartu untuk ke sini. Hanya orang itu yang memiliknya selain yuli, yaitu Jimin sudah di sini. Yuli kembali memejamkan mata. Dia benar-benar tak punya tenaga. Yuli akan lebih memilih untuk pura-pura tidur saja saat mendengar langkah kaki yang semakin nyata.
Jantung yuli berdegup kencang dia berusaha untuk memejam erat dan tidak mau berbicara dengan jimin, tidak setelah apa yang Jimin katakan pada yuli. Jadi, yuli tetap diam saja, tak bergerak saat membuka pintu kamar Yuli. Dalam pejamannya, yuli bisa membayangkan aktivitas Jimin, Yuli merasakan dia berdiri di depan pintu, menatap ke arahnya kemudian mendekatinya.
Yuli merasa jantungnya akan copot tapi yuli benar-benar harus tetap menutup matanya dan berusaha tenang, bahkan saat bau parfum jimin mulai menyeruak secara perlahan di hidung yuli. Sebisa mungkin dia tidak bergerak. Yuli harus terlihat seperti tidur, bahkan dia juga sampai tidak bergerak saat Yuli rasakan ruang kosong ranjang yang dia punggungi berguncang pelan.
Jimin berbaring di samping Yuli ini akan menjadi lebih sulit bagi yuli. Kenapa jimin tidak pergi saja? yuli harus tetap tenang, tapi tampaknya akan gagal. Tanpa dia duga, sebuah lengan menyusup melewati perut dan sela-sela lengan yuli hingga yuli merasakan tubuhnya sedikit di tarik ke belakang, lalu kepala yuli membentur sebuah leher berkerah dengan bau keringat yang sangat has ini adalah bau Jimin setiap kali baru pulang dari kantor.
"Maafkan aku," bisik Jimin lembut di dekat telinga Yuli. "Aku tahu kau mendengarkanku."
__ADS_1
hal yang ada di dalam pikiran yuli. "Ah, aku aktris yang buruk. Hal seperti ini saja aku ketahuan."
Jimin mengeratkan pelukannya. "Tadi pagi aku benar-benar emosi. Aku sudah mempersiapkan sesuatu untuk kita, kupikir kita bisa berdamai. Tapi, kau malah..."
"Ah, aku tetap saja salah, seharusnya aku tidak mengatakan semua itu." Jimin sedikit menurunkan kepalanya agar dia bisa mengecup bagian belakang leher yuli atau juga menghirup aroma tubuhnya. Jimin sering melakukan itu dan yuli selalu menyukainya. Namun, untuk saat ini bagi Yuli itu semuanya terasa aneh.
Yuli masih diam dan mendengarkan ucapan Jimin. "Aku akan mengatakannya padamu, segera, tapi tidak sekarang."
Jimin membisikan kalimat itu lagi. "Percaya saja padaku dan tetap berada di sisiku. Hanya itu yang kubutuhkan darimu."
"Aku mencintaimu, Yuli." kalimat itu menggema di kepala yuli. ini pertama kalinya dia mengatakan hal ini selama mereka menikah.
__ADS_1
"Sangat," bisik Jimin lagi.
Detik itu juga yuli tidak bisa menahan diri. Punggungnya gemetar dan hanya dalam hitungan detik Yuli menangis lagi. Jimin memeluk yuli semakin erat saat menyadari bahwa yuli mulai bisa melepaskan apa yang sejak tadi dia tahan. yuli tidak bisa berkata apa pun, dia hanya ingin menangis.
yuli tidak tahu, apakah dia bahagia atau justru marah karena Jimin mengatakan kalimat itu justru di saat-saat seperti ini. Jadi.
"Maaf-maaf-maaf..." Jimin mengecup kepala yuli beberapa kali dan Tangannya tak meloloskan yuli sedikit pun. "Ya Allah, apa yang sudah kulakukan padamu.....Tolong maafkan aku."
Yuli justru semakin menangis mendengarnya seperti itu. Di sela-sela rungan lengan jimin pada tubuh yuli, Jimin perlahan mencari satu telapak tangan yuli dan menyatukan jari-jarinya kepada selah jari-jari yuli saling berpegangan. Dia menggenggam tangan Yuli dengan erat dan hangat.
"Kita bisa melalui ini, Yuli. Tolong tetap bersamaku." Detik itu juga, Yuli memejamkan mata dan perlahan tangannya membalas genggaman jimin, meskipun tak sama kuatnya.
__ADS_1
Jimin merasakan hal itu dan mencium yuli lagi. Yuli bisa merasakan dia tersenyum di sekitar lehernya dan terus berbisik tanpa suara, mengulangi kalimat yang sama.
"Terima kasih. Aku mencintaimu." Begitu seterunya, hingga mereka sama-sama tertidur dalam posisi yang sama.