
Yuli tidak tahu hari ini Jimin kerasukan apa karena lelaki itu membawa ke kantornya. Padahal, sebelum-sebelumnya dia tidak mengajukan yuli untuk datang ke tempat kerjanya karena kehadiran yuli bisa saja merusak konsentrasinya. Setelah bosan menjelajahi ruangan yang luasnya tiga kali lipat dari ruang kelas Yuli di kampus. Suasananya tidak membosankan karena banyak hiasan seperti patung-patung raksasa tokoh dari karakter gim setinggi manusia dan bisa mengeluarkan suara. Yuli tersenyum pedih saat melihat sebuah replika dari ikon utama dalam 'Wedding season''.
Kini, Yuli berdiri di depan ikon wanita yang tampak sangat mirip dengannya. Dia mengenakan gaun pengantin yang mirip dengan miliknya. Tangan yuli bergerak hendak menyentuh gaunnya, tapi suara pintu ruangan terbuka menyita perhatian yuli. Saat kembali, Jimin melepas jasnya dan langsung melemparkan ke sofa panjang. Di belakang Jimin ada seorang wanita cantik bak model yang menyerahkan beberapa lembar kertas untuk di tandatangani, wanita itu tersenyum patuh pada Jimin dan segala instruksinya. Wanita itu bahkan sempat menatap yuli, memamerkan senyum merah merekah sebelum akhirnya membungkuk dan pamit meninggalkan ruangan.
Dia sekretaris Jimin. Yuli tak percaya, Jimin masih mempekerjakannya setelah pengakuan itu.
"Apa kau terlalu lama menunggu?" Jimin menghampiri Yuli dan menarik tangannya untuk ikut dengan Jimin.
Jimin duduk di kursi kerjanya, lalu membawa yuli duduk di pangkuannya.
"Oppa, nanti ada yang lihat." Yuli mencoba berdiri, tapi Jimin menahannya.
"Aku sudah mengunci pintunya." Tanpa Yuli duga, Jimin menggendong yuli dan meletakkannya di atas meja kerja Jimin setelah dia menyingkirkan semua alat tulis di sana hingga jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Sejak kapan?" tanya yuli saat Jimin mendekatkan wajahnya.
"Sejak aku membayangkanmu mendesah di ruanganku ini." Vulgar sekali.
Yuli mendorong Jimin yang mulai mencium leher yuli. "Oh, jadi Oppa menyuruhku ke sini hanya untuk ini?" protes Yuli kesal.
"Sejak kau hamil muda, aku tidak berani menyentuhmu. Aku takut, jadi aku menahannya. Aku lelah dengan lotion dan kamar mandi. Aku hampir gila," ucap Jimin terlalu jujur dan cukup membuat yuli syok. "Tapi, aku sudah membaca beberapa buku, jadi tidak apa-apa. Aku tidak akan menyakiti bayi kita." Baiklah, itu membuat Yuli semakin syok.
Yuli terdiam sebentar untuk mengatur napas, mencerna pengakuan vulgar dan kelewat jujur itu. kalau diingat lagi, Jimin benar. Dia sudah lama menahannya. Yuli jadi ingat berapa kali Yuli menolaknya. Itu memang sudah sangat lama , Jimin pasti tersiksa.
"Kau ingin aku melakukan-nya lagi dengan sekertaris-ku?" Yuli tak tahu, itu ancaman atau hanya candaan.
Yuli langsung mendorong Jimin. "Lakukan saja, kalau itu yang kau mau," sembur yuli kesel.
__ADS_1
Yuli baru ingin turun dari meja, tapi Jimin menahan-nya lebih dulu, malah Jimin memaksa kaki Yuli untuk terbuka lebih lebar.
"Tidak mau, Inginnya dengan istriku," ucap Jimin sambil menggoda.
Jimin tak memberi Yuli kesempatan untuk berbicara karena bibirnya sudah mencium yuli dengan lembut, tapi berhasrat. Yuli tahu, Jimin sedang berusaha agar tidak terburu-buru. Yuli juga sudah merindukan-nya.
Jimin memang kurang ajar. Dia terlalu bersemangat dengan segalanya hingga seluruh bunyi kecapan itu terdengar. Yuli harap tidak terdengar hingga luar. Itu semua berlangsung pelan. Yuli baru sadar kakinya sudah terbuka lebar dan siap untuk menyambutnya. Dia hanya menatap yuli lama sampai membuat Yuli malu.
"Oppa...." Yuli merengek sendiri, antara malu atau karena geli.
Jimin terkekeh. Dasar berengsek. Saat bergerak di sana, Jimin tidak mencium yuli, tapi justru menjadikan yuli tontonannya.
"Lihat aku." Yuli benci jika Jimin sudah bilang seperti itu.
__ADS_1
Bodohnya, Yuli menurut. Seluruh gerakan ini menghipnotis-nya. Untuk kesekian kalinya mengejar kenikmatannya. Mereka berdua tersengal-sengal.
Sadar akan kekacawan di sini, Jimin memeluk yuli dan berbisik, "Kapan-kapan, kita lakukan lagi seperti ini."