
Kami berjalan berdampingan, tapi sedikit berjarak. Jimin tetap bisa menjaga langkahnya, meskipun terlihat sibuk dengan ponsel.
Beberapa orang yang berpapasan dengan kami seolah tak bisa menolak untuk tidak memperhatikan lebih baik tiga detik. Oh, mungkin sebagian besar wanita yang lewa memperhatikan Jimin. Kupikir, penampilan Jimin terlalu mencolok dan menarik perhatian. Dia bisa saja sengaja melepas jasnya, menentengnya di salah satu lengan hingga hanya menampilkan kemeja putih kantornya dengan bagian lengan agak terangkat sedikit.
Setelah mencari-cari, akhirnya mataku menemukan toko pakaian dengan koleksi dress dan sweater yang cukup banyak. Mereka juga menjual beberapa sepatu, aku bisa melihatnya dari etalase.
Sakin semangatnya ingin segera masuk ke dalam, aku jadi langsung berbelok lebih dulu mempercepat langkahku menuju toko itu. Namun, baru berselang lima langkah, pergelangan tanganku tiba-tiba saja di tarik ke belakang hingga membuatku mundur __punggungku menabrak Jimin.
"Hati-hati, di depanmu lantainya masih belum kering," ucap Jimin penuh peringatan.
Tiga detik aku terdiam, barulah bola mataku bergerak, menemukan sebuah tanda peringatan lantai basah di jalan yang akan kulewati. Aku baru menyadarinya, sebelumnya benar-benar tidak sempat meneliti.
Aku kini malah dibuat terdiam dan heran, bagaimana bisa Jimin yang semula hanya fokus dengan ponselnya bisa lebih teliti dari pada aku yang sejak tadi memegang apa pun?
"Lewat sini saja." Jimin langsung menarik lenganku tanpa menungguku bereaksi.
__ADS_1
Dia seakan tahu ke mana tujuanku. Jadi, membawaku ke jalan menuju toko yang ingin aku datangi. padahal, di sana dulu. Nanti kususun!".
Jimin melepas tanganku, lalu memajukan sedikit dagu lancipnya tanda menyuruhku untuk melakukan
perintahnya. Oh, siapa yang membuatnya semakin menjadi boss sekarang? Aku hanya memutar bola mata tak ingin mengambil pusing berlebihan. Aku masuk lebih dulu kedalam.
Aku cukup merasa baik saat melihat koleksi-koleksi mereka, aku disambut dengan ramah oleh seorang pegawai perempuan yang tampak seusia denganku sehingga dapat membantuku untuk memilih apa yang kira-kira cocok untukku.
Aku sudah mendapatkan pakaian yang menurutku cukup untuk saat ini, lalu beralih kebagian sepatu, melihat tiga pasang sepatu yang sesuai_ yang tidak punya hak tentunya.
"Ini sangat cocok dan sangat pas di kaki anda." komentar karyawan yang sejak tadi memandangiku. Dia tersenyum ramah.
Namun, di depan cermin itu aku mendadak terdiam ketika melihat pantulan bayangan lain. Aku melihat Jimin diluar sana menelepon__Aku baru ingat bahwa dia tadi mengatakan ingin menelepon dan aku rasa, sudah lebih dari satu setengah jam.
Sebenernya buka itu yang membuatku heran, melainkan pantulan bayangan Jimin yang terlihat gelisah, setra atau mungkin kesal. Jimin masih menempel telepon di telinga kanannya dengan mulut bergerak seperti dengan berusaha menjelaskan sesuatu, kadang juga terlihat marah atau protes. Bahkan, tak jarang Jimin meremas rambutnya sendiri sebagai wujud bahwa lawan bicara di telepon itu pastilah orang yang tidak membuat hatinya merasa baik.
__ADS_1
Aku terus memperhatikan itu dari cermin yang ada di depanku. Sampai akhirnya Jimin menghela napas mengusap wajah seperti orang yang pasrah, lalu dia menarik napas cukup panjang hingga akhirnya menurunkan ponsel itu dari telinganya.
Detik itu juga aku langsung memalingkan pandanganku karena aku lihat Jimin berjalan ke toko.
"Nyonya, anda ingin yang ini?" tanya karyawan itu lagi, membuyarkan pikiranku.
Aku mengangguk dan duduk kembali hendak melepaskan sepatu bersama dengan kedatangan Jimin. Aku keringat di wajahnya yang membuatnya tampak begitu lelah.
"Sudah menemukan semua yang kau mau? Ada lagi?" tanya Jimin padaku, dia berkaca pinggang.
"Aku sudah selesai." Jawabku singkat.
Setelah selesai melepas sepatu, Jimin tiba-tiba saja berjongkok di depanku lalu mengambil sepatu yang tadi kulepas dan meraih kakiku untuk memasangkan kembali sepatu itu. Hal yang sukses membuatku terbengong.
kini, Jimin mendongakkan kepalanya, menatapku lalu menarik senyum tipis. "Sepatu yang sebelumnya ada haknya terlalu tinggi. pakai ini saja langsung." ucapnya terdengar begitu lembut.
__ADS_1
perlakuan Jimin ini sampai membuat beberapa pasangan yang melihat kami ikut terkagum-kagum. Aku yang di perlakukan seperti ini, tapi orang-orang yang menyaksikan justru yang tersipu. Aku sendiri malah tidak bisa berkata apa-apa, bukan terkagum atau tersipu dengan yang Jimin lakukan. Aku malah merasakan hatiku mendadak terasa sesak karena pikiranku sudah mencerna hal lain. Aku menatap Jimin yang masih mempertahankan senyumannya yang mengiris hati di depanku.
Terlebih, saat aku menemukan kenyataan bahwa dia masih bisa tersenyum di depanku setelah menerima telepon yang membuatnya seperti orang depresi beberapa saat lalu. Apa dia sebegitu tertutupnya padaku? Apa usahanya sekeras ini untuk menutupi semua masalah sendiri? apa dia sekuat itu dalam menutup lukanya sendiri? Bagaimana bisa?