
Tidak apa-apa, Yuli sangat suka Jimin yang mulai terbuka seperti ini. Mereka memang tidak pernah membahas ini secara mendalam lagi semenjak Yuli melahirkan. Mereka hanya membahas sekadarnya, karena setiap kali mereka membahasnya, tentu mereka berdua akan sama-sama terluka. Karena itu adalah kenangan buruk dalam rumah tangan ini. Terlebih kehadiran Jiyu menyita fokus mereka dan Yuli sebenarnya sudah menunggu hari ini. Hari di mana Jimin akhirnya mau membuka seluruh dirinya untuk Yuli. Berbagi kegusaran dan kesedihannya, tanpa keraguan sedikit pun.
"Oppa......" Yuli menggenggam tangan Jimin. Yuli sandarkan kepala lagi di bahu Jimin agar dia tahu, Yuli serius dalam kalimatnya selanjutnya. "Banyak hal yang terjadi dalam hidupmu ini. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Tapi waktu takkan pernah bisa diputar lagi, kita tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu untuk mengontrol semua itu."
"Lagi pula l, jika kita kembali ke masa lalu, dalam keadaan yang sama. Apakah itu menjamin bahwa kita akan mengambil keputusan yang berbeda? Mungkin iya, jika kita bisa membaca masa depan. Tapi, kenyataannya, di masa lalu pun kita tak bisa memprediksi masa depan, bukan? Jadi, tak ada gunanya terus menyesali apa yang terjadi."
Jimin yang sejak tadi menatap lurus kini melihat wajah Yuli dengan sedikit menundukkan wajah. Yuli juga mendongak dan memberinya senyum yang paling hangat. Yuli bisa melihat samar dari sini, bayang-bayang sempurna wajah serta rambutnya yang tersapu oleh angin petang.
__ADS_1
"Oppa......" Yuli menyelipkan jari-jarinya di sela-sela jari Jimin.
"Aku tahu sulit bagimu untuk melupakan semuanya. kamu juga tidak perlu melupakannya, tapi kamu hanya perlu memaafkan dan merelakan segala yang terjadi."
Sebelum melanjutkan ucapannya lagi, Yuli memandangi pemandangan sore yang indah. Udara di sini begitu dingin, tapi menenangkan. Langit sore yang sudah mulai berubah warna seakan memamerkan pesona yang mampu mengalirkan suasana melankolis untuk menemani Yuli dan Jimin.
Yuli mengangkat kepalanya yang semula bersandar pada Jimin, lalu menatap mata lelaki itu. Bisa Yuli lihat jelas ada kepedihan yang dia tahan di sana. Yuli lalu mengulurkan tangan, memberanikan diri menyentuh pipi kanan Jimin.
__ADS_1
Lalu melanjutkan kembali. "Meski apabila ibumu tidak mengorbankan dirinya untukku, aku akan tetap menyayangi kalian." Yuli memejamkan mata. "Karena, aku tahu. Kalian sebenarnya adalah orang baik. Jadi aku tidak akan menuntut apa pun dalam kematianku."
"Yu-"
Yuli langsung menaruh jari telunjuknya di bibir Jimin. "Tapi, Oppa. Lihatlah, ibumu bahkan membuktikan betapa dia merasa bersalah dengan semua ini. Dia kembali menemui P012 untuk memohon penukaran taruhan lagi. Bukankah itu sudah cukup membuktikan betapa sebenarnya dia juga punya hati dan merasa bersalah?" Yuli sedikit menunduk. "Aku hanya sedih karena Dokter Rose tidak meninggalkan apa pun yang bisa aku ketahui, kami bahkan tidak sempat bertemu."
Jimin juga ikut memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi. "Ibuku sudah mengorbankan dirinya dan bertanggung jawabkan semuanya ketika aku merasa tidak mampu membayar semua ini selain mungkin juga nyawaku sendiri dan -" Ucapan Jimin terhenti karena Yuli dengan cepat menggeser tangan dari pipinya menuju mulut Jimin. Yuli menatapnya kesal. Marah. tegas.
__ADS_1