
Sebenernya, Yuli sudah menolak tapi seungwu memasak untuk mengantarkannya pulang. Sepanjang jalan yuli terus berdoa agar Jimin tidak pulang lebih dulu dan melihatnya tidak ada di rumah. Kalaupun sudah pulang dan tak menemukan yuli, biasanya dia menelepon. Namun, sejak tadi belum ada panggilan darinya. Yuli rasa, dia aman. Yuli bernapas lega karena tidak melihat mobil Jimin di pekarangan.
"Biar kubantu menurunkan barang-barangnya." Seungwu mengambil ahli dua kantong belanjaan itu.
Dia membantu sampai meletakkan semuanya di atas meja dapur. Dia sempat memilik suasana rumah, seperti orang yang baru pertama kali memasuki sebuah tempat. Dia tampak memiliki sesuatu dan langsung tersadar sedang diperhatikan oleh yuli.
"Kalau begitu, aku harus segera kembali," ucapannya segera.
"Tidak ingin minum dulu?" tawar Yuli sopan.
"Tidak perlu, lain kali. Titip salam saja untuk Jimin Hyung."
Yuli hanya mengangguk samar. Dia terlihat terburu-buru. Yuli sempat membungkuk untuk berterima kasih sekali lagi atas bantuannya. Dia menolak sampai halaman depan. Maka yuli hanya mengantarnya sampai pintu bersamaan dengan berderingnya ponsel yuli. Saat seungwu menyalakan mobil, yuli menjawab telepon dari Jimin.
"Halo?" sapa Yuli.
[Aku dalam perjalanan pulang, bisa tolong siapkan air hangat untuk mandi? Aku ingin berendam.]
Yuli terdiam sebentar, mencerna kalimatnya. Jimin tampak sangat lelah hari ini. "Hmm, baik Oppa. Akan kusiapkan."
[Terima kasih.]
Belum sempat Yuli tanya, dia sudah sampai mana, sambungan terputus. Yuli sedikit cemburu, dia tidak suka Jimin yang sedang lelah seperti ini. Ini bisa jadi berdampak pada mood-nya, padahal Jimin sedang berulang tahun. Harusnya dia bahagia.
__ADS_1
Yuli sudah mempersiapkan semuanya.
Karena perintah Jimin sepertinya mendesak, jadi yuli langsung melakukan apa yang Jimin inginkan. Tepat satu menit setelah yuli keluar dari kamar mandi, suara mobil Jimin terdengar. Yuli berniat keluar untuk menyambutnya seperti biasannya.
Namun, mendadak nyali yuli ciut. Senyumannya memudar berganti takut ketika Yuli lihat Jimin berdiri di depan pintu sambil menatap dirinya dingin.
"Kenapa kamu bisa bersama seungwu?"
Yuli terkejut, dari mana dia bisa tahu?
"Kenapa kau tidak bilang padaku ingin keluar rumah?"
Yuli mendadak gugup, tegang. Jimin mendekati yuli dengan tatapan penuh tuntutan, tenggorokan terasa kering setiap kali melihat sorot kemarahannya. Ini seperti mengingatkan yuli ketika dulu di usir oleh Jimin.
"Apa kau harus diantar pulang olehnya?" Jimin mendesak Yuli lagi. Dia jelas tidak menyukai fakta tentang yuli dan seungwu yang entah dia ketahui dari mana.
Yuli menarik napas, mencoba untuk tenang. Yuli sudah berjanji pada Jimin untuk membantunya. jika dia emosi dan Yuli juga membalas, maka tidak akan ada solusinya.
Saat salah satu menjadi api, satunya lagi harus menjadi air. "Oppa, kau terlihat lelah. Mandi dulu. Aku sudah menyiapkan air hangatnya." Yuli mencoba tersenyum tipis, memberanikan diri menyentuh lengan Jimin. "Aku sudah membeli bahan-bahan untuk membuat makanan kesukaanmu," lanjut yuli lagi.
Jimin melirik ke arah tangan Yuli yang menyentuhnya.
"Kau mencoba menghindari pertanyaanku?" Tanya Jimin sambil melepaskan pegangan tangan Yuli.
__ADS_1
Yuli terluka, jujur. Tapi, dia justru lebih penasaran kenapa Jimin seperti ini. Yuli menelan ludahnya, lalu membuang napas pasrah. Yuli lalu menatap Jimin lagi.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat aku membeli bahan-bahan untuk memasak, aku ingin membuat kejutan, dia menawarkan diri untuk menantuku pulang. Ketahuilah, aku sudah mencoba menolaknya." Yuli menunduk kecewa karena sampai harus mengatakan ini semua.
Mendadak, semua semangat yuli luntur.
"Hanya itu? Kau tidak bohong, kan?" Jimin tiba-tiba menangkup pipi Yuli agar dia menatap Jimin.
Yuli mengangguk, tapi setelah itu langsung mendorong pelan dada Jimin. Bukan karena Yuli kesal padanya, tapi lebih karena rasa mual yang kembali menyeruak. Kenapa Jimin masih memakai parfum yang menyengat?
Yuli langsung menutup mulutnya dan berlari menujuh wastafel terdekat, yaitu di dekat dapur. Yuli mencoba memuntahkan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokan. Mendadak, Yuli jadi lemas hingga hanya bisa berpegangan pada pinggiran wastafel.
"Kau sakit?" tanya Jimin di belakang yuli sambil membantu yuli menyingkirkan rambutnya, sementara yuli mencuci mulut.
Jujur, yuli malu. Jimin membantu memegangi rambutnya dan melihatnya dalam kondisi seperti ini. Awalnya, setelah mencuci mulut Yuli ingin segera berdiri dan mengatakan pada Jimin bahwa dia baik-baik saja agar Jimin bisa segera mandi. Jimin masih setia memegang rambut yuli dan mengusap punggung yuli saat dia muntah lagi untuk yang kedua kalinya.
Yuli berbalik perlahan untuk mengarah pada jimin, ingin mengatakan bahwa dia sudah membaik, tapi Jimin lebih dulu menyela.
"Kita ke dokter."
Yuli menggeleng. "Ah, tidak_"
"Kita harus memastikannya," ucapan Jimin. Kali ini dia menatap yuli dengan penuh harapan. Dari tatapan itu, yuli bisa menebak pikirannya. Sementara, yuli justru takut jika apa yang diharapkannya ternyata tidak benar.
__ADS_1