Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 103


__ADS_3

Hari ini mereka berdua mengunjungi makan orangtua mereka. kedua orangtua Yuli dan tentu saja Dokter Rose. Ini adalah pertama kalinya setelah kelahiran Jiyu. Setelah usia Jiyu memasuki tiga bulan. Yuli baru berani membawa Jiyu ke tempat yang agak jauh dari rumah setelah cuaca dan keadaannya mendukung. Setidaknya, Yuli membawa Jiyu untuk memberi penghormatan terhadap kakek dan neneknya. Namun Jimin dan Yuli benar-benar memberi proteksi pada Jiyu. Mereka memberikannya baju hangat dan mastikan cuaca sedang dalam kondisi baik. Mereka pun juga membatasi waktunya.


Mengingat kembali saat mereka mengunjungi makam, Yuli seakan bisa merasakan dengan jelas, bagaimana perbandingan momen Yuli mengunjungi makam kedua orangtua Yuli dan Jimin mengunjungi makam ibunya.


Saat mengunjungi makan kedua orangtua Yuli, Yuli lebih tegar dan lepang dada, malah bisa mengukir senyum saat menggendong Jiyu di depan batu nisan mereka, sedangkan Jimin hanya terdiam saat mengunjungi makam ibunya, lebih sering menunduk, bahkan menyembunyikan kesedihannya di balik kacamata hitam yang dia kenakan. Yuli tahu, Jimin sedang berusaha menahan tangis dan tetap tegar, tapi Yuli juga tahu dia sangat terpukul atas kematian ibunya.

__ADS_1


Bahkan sampai detik mereka sudah tiba di rumah, Yuli masih memergoki Jimin duduk sendiri di kursi panjang di balkon sambil memegang sebuah lembaran foto polaroid yang bisa Yuli lihat dari jauh adalah fotonya dengan ibunya.


Itu adalah foto kelulusan Jimin. Tangan kirinya memegang sertifikat kelulusan dan tangan kanannya merangkul ibunya. Jimin terlalu sibuk, melamun hingga tidak menyadari Yuli yang sudah berdiri di dekatnya. Dari sini, Yuli bisa melihat jelas ekspresi wajah dalam foto itu, Jimin tersenyum lebar hingga giginya terlihat dan matanya jadi menyipit. Dia masih sangat muda di sana dan Dokter Rose terlihat begitu bangga.


Yuli menarik napas dan berdehem, lalu duduk di sebelah Jimin dan menyampaikan selimut kecil yang Yuli bawa dari dalam, cukup panjang untuk tersampir ke bahu mereka berdua. Yuli bisa melihat Jimin buru-buru membalikan foto itu dan mengubah raut wajahnya saat melihat yuli. Dia masih tampak seperti orang kepergok sedih dan mencoba menutupinya.

__ADS_1


"Saat aku kehilangan orangtuaku, aku juga mencoba tegar di depan orang-orang. Meski diam-diam, aku sebenarnya juga masih sering menangis saat mengingat mereka." Yuli memegang satu tangan Jimin yang membalik foto dirinya dan ibunya, lalu mengambil foto itu dan membalikkannya lagi, mengamatinya dengan jelas. "Ibumu sangat menyayangimu." Yuli tersenyum samar.


Jimin menarik napas beratnya. "Kenapa?" tanyanya.


"Kenapa apanya?" Bola mata Yuli bergerak untuk melirik Jimin yang tengah menatap lurus ke depan. Dari sini Yuli bisa melihat jakunnya naik turun.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa dengan mudah memaafkanku dan ibuku?" jimin menahan ucapnya selama beberapa detik untuk menelan ludah. "Kenapa aku masih belum bisa mengeluarkan air mata akan kepergiannya?" Jimin terdiam lagi. Merenung. "Apa karena aku terlalu membencinya atas kenyataan bahwa dia mendekatkan kita untuk mengorbankanmu. Atau, aku terlalu membenci diriku sendiri dan merasa tak pantas menjadi seperti ini?"


__ADS_2