PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 10


__ADS_3

\*\*\*


“Aku mau berhenti jadi ketus OSIS,” ungkap Vana, masih dengan menunduk seraya memainkan ujung seragam putihnya yang sudah dikeluarkan dari rok.


Seketika Dira tercenung sejenak, menatap dalam manik mata wanita yang berada di hadapannya, mencari celah kesungguhan di sana. Benar saja. Vana benar-benar serius sekarang.


“Kenapa? Bukannya jabatan itu yang sedari dulu kamu impikan?” tanya cowok itu meyakinkan, memegang kedua bahu Vana yang merosot pasrah.


“Itu dulu, Di. Sekarang enggak. Aku cuman mau kaya siswi SMA biasa, tanpa punya tanggung jawab tambahan, selain sebagai seorang siswi,” jawab Vana asal. Hanya itu yang dapat terlontar dari mulutnya, pun secara tiba-tiba tak terkondisikan.


Dira mengangkat bibir atasnya, menikmati keanehan yang menyelimuti Vana. Kenapa tiba-tiba dia ingin mengundurkan diri, padahal tanggung jawabnya dalam bertugas sangatlah baik.


“Kamu lebih pantas jadi ketua. Lagian aku juga udah ngomong sama Buk Astri. Dia juga setuju-setuju aja kalo kamu yang gantihin posisi aku. Kamu lebih pantas, Di.”


“Bisa kamu kasih aku alasan yang logis?” tanya Dira lagi, tak cukup puas dengan perkataan ngawur Vana.


“Alasannya karena aku juga akhir-akhir ini mudah capek, kaya nggak sanggup lagi buat arahin anak-anak yang jumlahnya nggak sedikit, Di. Kamu kan cowok, pasti kamu lebih kuat.”


Di balik itu, sebenarnya Vana tak mau melepaskan jabatan berharganya itu, tetapi ada sesuatu yang mengharuskannya untuk melakukan itu. Dia harus mengikhlaskan. Harus!


Tak berapa lama, datanglah beberapa orang dengan heboh bergabung dengan Vana dan Dira, hingga terbuyar dari kecanggungan.


\*\*\*


“Weh, gila, bor! Coba lu liat nih!” ucap Azka heboh, mennghadapkan layar ponselnya ke arah Saga di mana menampilkan story WA yang baru dua menit lalu ter-aploud.

__ADS_1


Saga mengamati satu buah foto yang berada di sana, menatap baik-baik satu per satu wajah yang berada dalam foto itu.


Ada lima orang remaja dengan memakai seragam sekolah lengkap dan satu orang cowok yang memakai baju santai tengah duduk di atas kasur dengan selimut yang menutupi batas pinggang hingga kakinya.


Seketika Saga menepiskan ponsel milik Azka, menyadari ada siluet yang sangta ia kenal di sana tengan tersenyum cantik menghadap lensa kamera yang sukses membidik mereka.


“Dah, dah. Pulang lo pada! Gue mau istirahat. Nyah sono!” usir Saga mendorong satu per satu temannya yang mengumpat menatapnya tajam.


\*\*\*


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Saga tengah berdiri di teras apartement dengan secangkir kopi di tangan, sebelah tangannya lagi tenggelam di saku celananya.


Matanya sudah memerah sedari tadi, tampak menahan sesuatu yang sedari tadi belum dipastikan kapan akan memuncak. Kesal bercampur emosi meluap menjadi satu, mungkin sebentar lagi akan dilampiaskan dengan brutal.


Satu motor Go–Jek berhenti di pagar apartemen, satu orang wanita tampak menuruni kendaraan beroda dua itu, kemudian berjalan mendekati Saga setelah memberikan helm pada bapak Go–Jek.


Plak!


Vana memejamkan matanya, merasakan sebuah telapak tangan mendarat di pipi mulusnya, tetapi aneh. Dia tidak merasakan sakit sedikitpun.


Seketika wanita itu membuka matanya perlahan, mendapati Saga dengan raut bingungnya. Ternyata nggak ditampar, pikirnya.


“Kenapa? Gue cuma mukul nyamuk di pipi lo,” ujar Saga datar. Menunjukkan bangkai nyamuk dengan bercak darah di telapak tangannya.


“Ha?” Vana mendadak canggung dengan suasana ini. Tumben sekali Saga berbicara datar padanya. Biasanya selalu dengan bentakan dan teriakan.

__ADS_1


“Dari mana lo?” tanya Saga jutek, meletakkan tangannya di pinggang.


“Dari ....”


“Liat si waketos itu?”


Wanita itu mengangguk, tak berani menatap wajah Saga yang sudah berubah menjadi serius dan menyeramkan.


“Gue udah pernah bilang 'kan, sebelumnya? Jangan deket-deket lagi sama mereka, lo ngerti nggak, sih?!” damprat si pria, tetapi masih menjagakan volume suaranya.


“Masuk!” perintah Saga seraya menggeserkan tubuhnya, memberikan celah untuk Vana lewat.


Tanpa berpikir panjang lagi, Vana pun waberjalan memasuki apartemen itu kemudian memasuki salah satu kamar yang berada di lantai atas, tepat di samping kamar suaminya.


“Capek,” lirih Vana, merebahkan tubuhnya dengan kasar, berharap rasa lelahnya akan berkurang walaupun sedikit.


Tok, tok!


Baru saja wanita itu ingin memejamkan matanya sejenak, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya.


Mengembuskan napas lelah, Vana beranjak dari atas kasur mendekati pintu kamar itu dan membukakan pintu untuk orang yang sepertinya adalah Saga.


“Ada apa?” tanya Vana menatap sekilas Saga yang tengah menelusuri isi kamarnya, hingga wanita itupun mengikuti arah pandang Saga dengan bingung.


“Gue kira lo bawa cowok masuk ke dalam.”

__ADS_1


Bersambung ....


Besok, bakalan cepat di-up👍


__ADS_2