PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 9


__ADS_3

\*\*\*


Vana menatap wajah Dira yang dengan mata yang masih terpejam. Mengeluarkan satu kotak makanan yang sebelumnya sudah dibawa dari rumah, kemudian meletakkannya di atas nakas tepat di samping cowok itu.


“Cepet sembuh ya, Di. Aku minta maaf,” lirih wanita itu mengelus sekilas dahi Dira yang benar saja terasa panas, tetapi wajahnya tak pucat sedikitpun.


“Eugh ...!” Tiba-tiba, lenguhan seseorang terdengar dari samping, saat Vana berniat keluar kembali dari kamar itu, agar tak menimbulkan fitnah nantinya.


Vana menoleh, kembali menatap Dira yang sebentar lagi akan membuka mata. Cowok itu masih siaga mengumpulkan nyawanya demi bisa melihat seseorang yang berada di sampingnya itu siapa.


“Dira, kamu ... udah bangun?” tanya Vana halus, kala Dira sudah membuka matanya sempurna, pun tengah menatap ke arahnya.


“Vana? Kamu di sini? Sejak kapan?” Bukannya menjawab, Dira justru malah balik bertanya, dengan suara serak khas orang sakit.


“Masih baru aja, kok. Mmm ... aku keluar dulu ya, Di.”


Baru saja wanita itu ingin melangkah, tiba-tiba satu tangan kekar sudah mencekal pergelangannya, hingga sontak langkahnya langsung terhenti.

__ADS_1


“Kan baru sebentar, kenapa mau pergi?” Dira tersenyum hangat menarik halus pergelangan tangan wanita itu, supaya duduk di atas kasur.


Seketika suasana canggung menyelimuti Vana. Bagaimana jika Ryn, atau yang lainnya melihat? Kan sungguh memalukan! Apalagi Ryn sudah tahu tentang pernikahannya.


“Di. Aku ... minta maaf, ya. Soal kemaren malam,” ujar Vana ragu, mengalihkan pandangannya tak mau menatap wajah cowok yang sangat damai itu.


“Soal apa? Soal matematika? IPA? Atau IPS?”


Vana berdecak kesal, Dira benar-benar menyebalkan! Bisa-bisanya dia bercanda padahal lihatlah keadannya yang sangat mengenaskan itu. Rambut acak-acakan dan kantung mata yang sedikit kecokelatan.


“Aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu, Di.” Sekali lagi, Vana berusaha terlihat biasa saja, menyembunyikan rasa sedihnya.


“Aku mau berhenti jadi ketua OSIS.”


\*\*\*


“Nggak usah gengsi deh, Bos. Entar kalo Vana yang ninggalin lo duluan, jangan sampek lu nangis berok-berok di aspal,” kelakar Bayu memanas-manasi.

__ADS_1


“Tauk si Bos. Awas mati keselimut gengsi,” timpal salah satunya lagi, yang bernama Azka.


“Heh, bilang aja cemburu apa susahnya, sih?!” Sekali lagi, hujatan keluar dari Dani, yang sebelumnya berkata panjang lebar, namun langsung dipotong Saga menyangkal. Sedangkan tadi Agil tak mau berkumpul dengan mereka, dengan alasan badmood.


Vino? Dia kembali ke rumahnya terlebih dulu, karena dia memang tidak akan mau keluyuran tanpa pamit dengan orang tuanya.


“Gue nggak bakalan mau jatuh cinta sama orang rese kaya dia! Yang setiap hari ngehukum gue, tanpa intropeksi diri. Cari-cari kesalahan orang lain, tapi nggak lihat kesalahannya. Emang anggota OSIS ahli neraka semua kali, ya? Suka banget, cari kesalahan orang lain. Padahal kan itu soda. Eh, maksud gue dosa!”


Saga berucap panjang lebar dengan kata-kata yang sulit untuk diserap oleh otak-otak udang seperti ketiga temannya itu. Apa maksudnya dia berkata seperti itu?


“Lo itu yang berdosa. Solimi sekali sama istri,” tuduh Azka langsung diacungi jempol oleh Dani dan Bayu bersamaan.


“Busrek! Tumben bener berdua setuju sama gue,” sambung Azka sombong, menyugar rambutnya dengan jari.


Seketika kedua jempol yang tadinya diarahkan padanya, berubah menjadi terbalik, tanda bahwa Dani dan Bayu menggagalkan niat mereka untuk berada di kubu Azka.


“Anjif!” umpat cowok itu kesal, sedangkan Saga sudah tergelak, plus menjitak pelan batok kepala Azka.

__ADS_1


Bersambung ....


Masih mau cerita ini dilanjut, nggak?


__ADS_2