
***
Semillir angin melintas damai, menerpa wajah denga lembut, di cuaca mendung di pagi hari SMA Andara.
Kedua orang pasutri yang berada di roftoop sekolah masih dalam suasana hening dengan posisi berhadapan di mana Vana bersandar di pembatas roftoop, sedangkan Saga berdiri kokoh di hadapannya.
Baik Vana maupun Saga, tak ada sama sekali yang mau membuka suara. Terlebih lagi Saga yang padahal dia mengatakan ingin berbicara kepada wanita itu.
“Lima menit lagi bel,” ungkap Vana menunjukkan jam tangan biru langit yang melingkar di tangannya.
Saga melirik sekilas ke arah arloji itu dan mengembuskan napasnya kasar. Balik lagi menatap wajah datar Vana seperti menyiratkan sesuatu.
Pria itu mendekatkan tubuhnya dengan Vana, mengikis jarak. Kemudian menggamit satu tangan si wanita dan menggenggamnya dengan erat.
“Sorry,” bisiknya, mendekatkan wajah dengan wajah istrinya.
Vana mengerutkan alis, menatap dalam manik mata Saga, mencari celah kebohongan di sana. Nihil! Dia tidak menemukannya.
“Buat?” tanya wanita itu hampir tak terdengar. Jantung sial!
“Karena gue udah cuek sama lo semenjak kita nikah. Sekarang, gue mau rubah semuanya. Gue cuman mau lo satu-satunya,” jelas Saga, menggenggam satu buah kalung yang semalam ia beli di fun fair.
“Harga kalung ini emang nggak seberapa, dibandingkan harga lo di mata gue. Gue yakin, kalo sekarang ....”
Satu alis Vana terangkat, kala Saga menggantungkan ucapannya.
“Gue cinta sama lo.”
Terharu. Itulah perasaannya kini. Jelas saja dia tidak menyangka Saga akan seromantis ini. Ingin rasanya dia berteriak dan mengelilingi dunia bersama pria itu dan tak akan pernah melepaskan genggamannya.
Seulas senyuman tipis terbit di sudut bibirnya. Terlebih melihat senyuman tulus dari pria itu. Hatinya benar-benar tersentuh. Benarkah Saga mencintainya?
__ADS_1
“Tapi boong! Jangan geer lo! Gue cuman ngetes doang, mau nembak cewek entar malam. Semoga respon dia sama kaya respon lo. Makasih atas waktunya!”
Setelah mengatakan itu, Saga langsung melangkahkan kaki meninggalkan Vana yang mematung dengan wajah kesalnya di sana.
“Bangke!” umpat wanita itu mengepalkan tangan. Saga benar-benar menyebalkan! Dasar nggak guna!
***
Saga berjalan hingga ke lantai dasar, memasuki toilet yang tak jauh dari kelasnya. Entah kenapa hari ini semangatnya hilang. Dia sendiri pun tak tahu, apa sebabnya.
Di dalam toilet, pria itu memandang bayangan dirinya di cermin besar yang sudah disediakan di sana. Mengepalkan tangan, di mana masih terdapat kalung yang sebenarnya dibeli untuk Vana.
Dasar gengsian!
“Bodoh lo Saga, kucur! Bego banget, sih! Kenapa lo harus bilang tapi boong, bego?!” kesalnya menjambak rambut kasar.
Napasnya kian memburu, dia benar-benar benci pada kegengsiannya. Padahal awalnya, dia ingin berbicara tulus, tetapi ia tarik kembali karena alasan gengsi.
“Aduh! Anjir, sakit euy!”
Pria itu mengangkat satu kakinya yang sakit, kala dengan dengaja menendang bahan-bahan padat di sana, alias saluran wastafel.
Mendengkus, memutar kran air, kemudian membasuh wajah yang terasa panas di sana. Adem.
Kembali dia mendongak, menatap wajahnya yang sudah dikucuri oleh air dan masih terdapat banyak sekali tetesan air di sana.
“Gue emang ganteng, pada dasarnya. Makanya semua cewek tunduk ke gue! Heh, orang ganteng mah bebas.”
***
Jam menunjukkan pukul 19.30. Vana baru saja selesai melakukan salat Isya‘ dan tengah merapikan alat-alat salat-nya.
__ADS_1
Sejenak wanita itu merenung, memikirkan nasibnya yang sudah seperti istri di dalam fil sinetron. Tersakiti dan tak dianggap.
Terkadang dia ingin sekali membalas perlakuan Saga, tetapi perkataan ibunya dulu terngiang-ngiang jelas di telinga.
Pada saat empat tahun lalu, ketika ibunya sedang sakit dan parah-parahnya, dia pernah pernah berpesan kepada Vana.
“Nak, nanti kalo kamu punya suami, jangan sekali-kali kamu berdosa sama dia. Karena sejatinya seorang istri, dia yang tidak akan membantah. Jangan ngelawan ke suami kamu kelak, karena surga kamu ada di bawah telapak kakinya.”
“Tapi, Ma. Kalo suami aku jahat kaya di film-film gimana?” tanya Vana polos.
“Kamu tahu Siti Asiyah?” tanya mamanya, tetapi tak memberikan Vana kesempatan untuk berpikir, langsung berkata.
“Dia yang kedatangannya dirundukan oleh surga, sekaligus salah satu wanita yang namanya berada di dalam Al–Qur‘an. Kamu tahu siapa suaminya?”
Vana menggeleng, tetap mendengarkan cerita mamanya.
“Raja Fir‘aun. Raja yang paling kejam sepanjang masa pada zaman Nabi Musa a.s.”
“Sekejam-kejamnya orang zaman sekarang, tidak akan lebih kejam dari Raja Fir‘aun, ‘kan?”
Dua hari setelah itu, mamanya pun meninggal dan itulah pesan terakhir yang dikatakan kepada putri satu-satunya itu.
Tak sadar, Vana menjatuhkan air matanya, mengingat kembali sentuhan dan teguran lembut dari mamanya yang tak akan bisa tergantikan oleh apapun. Bahkan papanya sekalipun.
“Mama,” lirihnya menuduk, menjatuhkan air mata sederas-derasnya dari kelopak mata.
Tanpa disadari, ada seseorang yang mengintip dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka.
“Gue udah nyakitin lo banget ya, Va?” gumam orang itu dari balik sana, kemudian melangkah menjauh dari kamar Vana.
Bersambung ....
__ADS_1
Sorry for typo🙏