PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 44


__ADS_3

***


“Kita putus!”


“Dan gue bakal laporin kalian berdua ke penjara, atas kasus penjualan perempuan!” ucap Saga mutlak, menyorot kedua gadis di hadapannya jijik.


Elsa yang semula hanya bisa menunduk pun mendongak, menatap Saga dengan wajah panik, sekaligus memelas.


“Ga, aku bisa jelasin semuanya. Aku sama sekali nggak ada niat buat ngelakuin semua ini, Ga! Please, dengerin ak—”


Gadis itu mengatupkan bibirnya rapat, kala Saga mengambil benda pipih di dalam saku dan menelepon seseorang. Pasti itu polisi.


“Ga, ini semua salah dia!” tuduh Elsa menunjuk Tisya dengan jari telunjuknya.


“Enak aja! Jelas-jelas kamu yang minta tolong ke aku! Kamu yang harus nanggung semuanya!”


“Tapi semua ide ini muncul dari lo!”


“Diam!” Sekali lagi, bentakan Saga membuat kedua orang itu kicep. Muak dia mendengar perdebatan tak penting yang membuatnya semakin emosi.


“Ga, aku nggak mau dipenjara. Aku nggak mau kehilangan kamu.” Elsa memohon, menggenggam kedua tangan Saga dan berjongkok di lantai.


Tanpa belas kasihan, Saga langsung menepiskan kasar kedua tangannya hingga genggaman itu terlepas, membuat Elsa melongo.


“Ga, kamu nggak sayang lagi, sama aku?” tanya wanita itu dengan nada lirih, samar karena dia mulai menangis.


“Enggak! Sia-sia gue sayang sama iblis kaya lo! Apalagi lo!” tunjuk Saga pada Tisya. Wajah lugunya itu membuat Saga muak.


Tak berapa lama, suara sirine mobil polisi terdengar semakin nyaring kala mobil-mobil itu berhenti tepat di depan rumah Elsa.


Setelahnya, beberapa orang polisi berdatangan dan mendekati mereka di halaman belakang, disusul para maid yang sebelumnya bersembunyi mendengar perdebatan itu, tapi kedua orang tua Elsa tidak sedang berada di rumah.


“Den, saya mohon, jangan penjarakan Non Elsa,” ujar salah satu maid yang berdiri takut-takut di samping Elsa.


“Iya, Den. Kasihan.” Satu maid lagi menimpali dengan wajah memelas berharap Saga akan mengurungkan niatnya.


“Kasihan, kalian bilang? Terus kalian nggak kasihan sama Givanna yang dijual di kota sebelah sana, ha?!”


Biasanya, Saga itu tidak pernah berbicara dengan nada tinggi apalagi sampai membentak orang yang lebih tua darinya, tetapi kali ini ... entah kenapa dia tega-tega saja melakukannya kepada maid-maid paruh baya itu.


“Bawa mereka berdua, Pak!” perintah pria itu kepada para polisi yang langsung memborgol kedua tangan Elsa dan Tisya.

__ADS_1


“Den, tolong jangan lakuin ini, Den. Apa yang akan kami katakan sama tuan besar, nanti?”


“Kebebasan mereka ada di Vana. Kalo dia mau maafin, kalian bisa bebas. Tapi kalo enggak, rasakanlah penderitaan kalian selama dua tahun di penjara!” kata Saga santai, kemudian berjalan keluar dari rumah Elsa diikuti polisi-polisi yang membawa kedua gadis iblis itu.


Baru kali ini dia melihat Elsa menangis sesedih ini. Biasanya hanya wajah tengil yang selalu dia lihat, membuatnya sedikit iba melihat gadis itu, tapi penderitaan yang didapatkan Vana belum ada apa-apanya dengan apa yang mereka lakukan.


“Bawa mereka, Pak! Kalau ada orang yang mengaku-ngaku suruhan saya buat bebasin mereka, jangan percaya! Saya mau cari satu setan lagi dulu,” ucap Saga mengingat si Gery itu.


“Baik. Terima kasih atas kerja samanya. Kami permisi dulu!” Polisi itu pamit mengundurkan diri, melaju dengan Elsa dan Tisya berada di dalam sana.


“Bik, aku minta maaf, tapi aku pastikan mereka bakal keluar secepatnya. Berdo‘a aja semoga Vana mau maafin mereka.” Saga menatap dua orang maid dengan wajah sedih mereka, sebelum pergi dari sana.


“Iya, Den. Den juga harus maafin perlakuan Non Elsa, ya.”


Saga mengangguk. “Iya, Bik. Aku pulang dulu.”


“Hati-hati, Den!”


Akhirnya, Saga pun pergi meninggalkan pelataran rumah Elsa dan keliar dari komplek perumahan itu dengan motornya.


Lega rasanya, setelah dia mengetahui sifat tersembunyi Elsa yang ternyata adalah iblis yang jahat. Beruntungnya dia belum menceraikan Vana dan memilih Elsa. Pokonya dia harus membatalkan perjanjiannya dengan Vana.


Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mencari Vana besok. Sekarang dia ingin istirahat terlebih dahulu. Bacot sebenarnya! Palingan kalo ada tawuran bakalan ikut.


Dasar, Saga!


***


Keesokan harinya ....


Sepagi ini, Al sudah berdiri di depan kamar Vana, menyuruh wanita itu untuk segera bersiap, karena mereka akan berangkat pagi. Mereka harus sampe sebelum jam 11 siang, makanya harus OTW pada jam-jam anak sekolah berangkat seperti ini pada hari biasa, tapi hari ini Minggu.


Sebenarnya Vana malas, tetapi tak enak dengan Al yang sudah banyak ia repotkan. Cowok itu juga rela kehabisan banyak uang untuknya.


Mulai dari pembelian dirinya, biaya hotel selama dua minggu, serta kebutuhan hariannya yang tidak sedikit. Bagaimana lagi? Dia tidak punya uang sepeser pun, jadi terpaksa ... Al harus membayar semuanya.


“Buruan, Givanna! Ini udah jam 7 lewat, ntar kita sampenya kesiangan!” cicit Al, jenuh sedari tadi menunggu Vana yang lama sekali bersiap.


“Bagus! Jadi aku nggak harus cepat-cepat ketemu sama ....”


“Hush! Kamu nggak boleh ngomong gitu! Saga itu suami kamu dan kamu harus balik ke dia!”

__ADS_1


Vana baru tahu, ternyata Al itu lebih tua tiga tahun dari dirinya. Seharusnya Al tengah menjalani masa-masa kuliahnya, tetapi mengingat betapa tak ada tujuan hidupnya cowok itu, membuat Vana mengerti alasan mengapa Al tidak melanjutkan pendidikannya.


Kalau kata Al sendiri, “Aku ini anak sultan, Givanna! Nggak perlu kuliah ataupun kerja juga uang udah ngalir terus.”


Oke, sip!


Tidak. Al itu kerja, tapi Vana sendiri pun tak tahu apa pekerjaan cowok itu. Yang jelas, Al selalu mengenakan jas, atau pakaian seperti ... aktor mungkin, ketika sedang bekerja. Itu artinya, profesi-nya lumayan oke ‘kan? Atau jangan-jangan Al itu memang seorang aktor?


Dua puluh menit Vana bersiap dengan lambat. Setelah sarapan, mereka pun melaju menggunakan mobil Al membelah jalanan kota yang super sibuk, membuat cowok itu menggerutu karena kebanyakan macet.


Gemas! Vana hanya tertawa melihat wajah kesal cowok itu yang menurutnya sangat menggemaskan.


“Aku jadi penasaran, deh, kenapa Kakak itu suka banget nidurin cewek, sewa cewek? Kenapa nggak nikah aja dan fokus ke satu cewek?” Inilah pertanyaan yang sudah lama Vana pendam.


“Males! Ceweknya udah diambil orang,” jawab Al fokus menatap lurus ke depan.


“Ha? Itu berati, Kakak udah pernah pacaran? O, aku tahu! Jangan-jangan ... Kakak cuman melampiaskan sakit hati karena pacar Kakak nikah sama cowok lain?” tanya wanita itu menerka-nerka, tetapi tak satu pun terkaannya yang tepat.


“Bukan lah, orang cewek itu aja nggak suka sama suaminya,” balas Al lagi seraya tersenyum tipis. Ini Vana memang polos, atau bagaimana?


“Kenapa Kakak bisa tahu, kalo dia nggak suka sama suaminya?”


“Ya, buktinya. Waktu aku ajak dia balik ke rumah suaminya dia nggak mau! Itu kan artinya dia nggak suka ‘kan?”


“Kakak lagi ngomongin aku?!” tanya Vana dengan suara meninggi. Kepedean sekali Vana ini. Padahal memang iya.


Al tidak menjawab. Hanya tawaan yang ia berikan sebagai jawaban.


“Aku serius!” tukas Vana kesal. Melipatkan tangannya di depan dada. Pagi harinya sukses dibuat hancur karena Al. Mulai dari mendesaknya mandi, mengambil semua skincare-nya, sampai saat ini.


Tepat jam 10.30, mobil mereka mulai memasuki Ibukota. Tak ada yang berubah, masih tetap sama pada hakikatnya. Ya, iyalah! Kalau pun berubah, apa yang harus dirubah? Bagaimana, sih, Vana ini?


Untuk sampai ke apartemen, masih membutuhkan waktu setengah jam lagi. Al yakin mereka akan sampai dua jam lagi, karena Vana memaksanya untuk singgah ke resto terlebih dahulu.


Dia tahu, Vana sengaja melakukan itu agar dia tidak bisa secepatnya bertemu dengan Saga. Bahkan awalnya wanita itu berharap, Saga pergi ke sekolah.


Untungnya kepintaran Al menyadarkannya dari itu semua. Tolonglah, ini hari Minggu! Mana mungkin Saga sekolah.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2