PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 36


__ADS_3

***


“Lo ngapain, sih, nerima tawaran si Dirabali itu?! Emang sengaja biar gue cemburu?!” sarkas Saga di dalam mobil, menatap orang yang berada di sampingnya.


“Gue juga nggak tahu, kalo lo cemburu.” Vana mengalihkan tatapannya dari sang suami, menatap lurus ke depan agar tak melihat wajah Saga yang pasti menyebalkan.


“Yang bilang gue cemburu siapa? Ya kali, gue cemburu! Gue cuma nggak mau lo jalan sama yang bukan mahram lo! Salah?” Kan, wajah datarnya muncul lagi. Menyebalkan!


Vana tak menggubris. Malas dia jika Saga sudah seperti itu, pasti kata-kata pedasnya lagi yang akan keluar.


Shock, kala satu buah tangan kekar melintang di depan dadanya, mengambil sesuatu dari sisi kiri. Seat belt.


“Gitu aja nggak paham!”


Lagi, dia hanya diam tak mau membalas. Biarkan Saga berbicara sendiri, toh nanti kalau sudah lelah berhenti sendiri.


Mereka pun melaju meninggalkan kawasan SMA Andara dan bergabung dengan kendaraan lain di jalan. Deru napas Saga terdengar samar-samar, membuat Vana mengernyit heran.


‘Kenapa dia gitu? Apa dia punya penyakit asma? Mana mungkin! Pasti asmanya takut mau nyerang dia.’ Batin wanita itu menepis rasa penasaran.


‘Apa dia lagi emosi?’


“Gue nggak papa! Nggak usah sok peduli gitu!” pungkas pria itu, seperti tahu apa yang ada di pikiran istrinya.


Ini kenapa Saga jadi menyebalkan begini?


“Tadi lo bilang mau makan ‘kan? Kita ke resto,” sambungnya melambatkan laju mobil karena ingin berbelok ke sebuah restoran.


“Nggak usah! Udah nggak laper!” balas Vana ketus, melipatkan tangannya di dada, tetapi tatapan tajam Saga berikan.


“Lo udah kurus, kecil, nggak berbentuk kaya semut. Nggak mau makan?”


Sumpah, Vana ingin menjerit sekuat-kuatnya sekarang. Tak bisa lagi menahan kesalnya. Apa Saga sedang palang merah, makanya jadi sensitif seperti itu?


“Turun!” perintahnya, setelah melepaskan set belt dan menuruni mobil.


Vana yang masih berada di dalam sana menggerutu, bola matanya mengikuti Saga berjalan hingga pria itu memasuki resto, tanpa menunggunya.


“Sabar, Va, sabar.”

__ADS_1


***


Walaupun selera makannya sudah tak ada lagi, tetapi wanita itu tetap memesan banyak makanan di sana. Bukan salahnya, itu semua salah Saga.


Saga tengah berada di kasir, membayar tagihan makan mereka, sedangkan Vana sudah kembali masuk ke dalam mobil, menunggu sang suami kembali.


“Gue mau ke Indomarket bentar,” cicit wanita itu, melirik Saga yang menoleh ke arah spion, untuk memutar mobil.


“Mau ngapain lagi, sih?!” kesal Saga terus direcoki.


“Mau main DJ, badminton! Ya mau belanja lah, bahan masakan di rumah abis! Lo mau nggak makan?!”


“Gue mau makan lo!”


Terpaksa, dia turuti juga permintaan Vana untuk berhenti di Indomarket. Walau bagaimanapun urusan dapur itu tanggung jawabnya juga. Vana mana ada duit untuk belanja.


***


Sesampainya di apartemen, kedua orang pasutri itu memasuki apartemen dengan wajah lelah dan kusam. Lama sekali mereka menunggu di kasir karena Indomarket sedang padat.


Saga merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi terlentang, membiarkan seragam putihnya masih melekat di tubuh.


“Ck, trobos aja lah, anying!”


Wanita itu mengguncang-guncang tubuh Saga di sana, walaupun dia kewalahan karena tenanganya tak cukup kuat dibandingkan dengan bobot tubuh Saga.


“Apa, sih?”


“Bangun, buka baju lo!” perintahnya sudah melepaskan sepatu dan kaos kaki suaminya.


“Ha? L–l–lo mau ngapain?” Seketika raut yang tadinya mengantuk, kini berubah fresh tak terkendali.


“Buka baju lo, nggak denger?”


“Aduh, Va. Gue belum siap! Tapi kalo lo maksa oke gue siap.”


Vana mengerutkan alisnya, tak mengerti perkataan sang suami yang nyanyar. Apa katanya? Belum siap? Memangnya mereka mau apa?


“Apa, sih, lo?! Bajunya mau gue cuci sini! Emangnya lo kira mau ngapain?!”

__ADS_1


****! Wajah datar kembali Saga tampilkan. Misuh-misuh dia membuka kemeja putihnya dan melemparkannya ke arah Vana. Nggak ada akhlak! Setelahnya, pria itu berlalu memasuki kamar mandi, membersihkan tubuh yang terasa lengket.


***


Seminggu berlalu ....


Suara gemercik air hujan yang turun dari atas sana, tak membuat dua orang yang tengah menduduki balkon gedung pencakar langit, beranjak ataupun mengeluh kedinginan.


Hanya gerimis memang, tetapi cuaca malam ini begitu dingin. Ditambah lagi mereka duduk saling berjauhan, dibatasi dengan satu meja yang berbentuk bundar.


“Ini suratnya. Aku udah urus semuanya, sekarang tinggal tugas kamu minta tanda tangan ke Vana,” ucap satu cewek menyerahkan semacam surat resmi kepada pria yang berada di sampingnya.


Pria itu menerima surat yang diberikan Elsa, membuka dokumen yang berisi tiga lembar itu. Surat perceraiannya dengan Vana. Elsa yang menguruskan.


Kemarin, Elsa sudah berusaha keras untuk menculik Vana, tetapi entah kenapa sulit sekali saat wanita itu memiliki banyak sekali orang yang menjaganya.


Jadi dia terpaksa mencari cara lain untuk memisahkan kedua pasutri itu, inilah akhirnya. Dia yang harus menguruskan surat perceraian itu dan Saga harus menurutinya.


Pria itu masih diam, menatap nanar dokumen yang berada di tangannya. Hatinya berkata sulit, namun pikirannya harus melakukan itu. Tak bisa dipungkiri, bahwa dia memang sudah mencintai seorang Vana.


Bagaimana caranya dia meminta tanda tangan Vana? Apa dia akan tega nanti? Bagaimana cara dia menjelaskan kepada orang tuanya dan Gibran?


Mengembuskan napas kasar, kepalanya bergerak untuk mendongak mengamati satu bintang yang ada di ujung sana. Terlihat redup, tak ada yang menemaninya. Bahkan bulan pun enggan untuk mendekat, memberikan dia cahaya.


“Kamu nggak bisa nolak, Ga. Kamu harus pilih aku! Aku yang pertama kali ada di hati kamu dan aku juga harus yang terakhir! Kamu nggak boleh egois!”


“Bukan egois, tapi ada saatnya kita berjalan di tikungan, karena jalan yang lurus terkadang bisa buat kita celaka.” Entah kenapa kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Entahlah, sekarang dia hanya ingin bersama Vana.


“Kamu nggak rela pisah sama dia, Ga? Atau jangan-jangan kamu udah cinta, sama dia?” tuduh gadis itu berang, menatap Saga dengan mata tajamnya.


“Saga, aku ini pacar kamu! Aku yang duluan kenal kamu!”


“Terus? Kalo lo pacar gue, terus Vana itu siapa, lo kira? Dia istri gue dan dia lebih penting daripada lo!”


Ingin rasanya Saga mengatakan itu, tetapi sayangnya dia hanya mampu mengatakan itu di dalam hatinya.


“Gue bakal usaha,” kata pria itu akhirnya, menyesap kopi hitam yang masih mengepulkan asap tebal.


‘Bagus! Selamat tinggal, Givanna. Lo bakal nyah dari kehidupan Saga!’

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2