
***
Beberapa saat kemudian, Elsa pun mendekati Saga yang fokus bermain ponsel dan menduduki satu kursi yang tepat berhadapan dengan pria itu.
“Udah lama, Yang?” tanya Elsa mengawali pembicaraan.
“Nggak, kok. Kamu sendiri?”
“Iyalah, sendiri. Terus mau sama siapa lagi?”
‘Semoga aja si jalang itu ada di apartemen sekarang.’ Elsa berucap dalam hati, menampilkan senyuman smirk di sudut bibirnya.
“Yaudah, kita pesen makan dulu, ya. Abis itu kamu temenin aku belanja. Oke?” ucapnya mengambil alih tersenyum manis.
Saga hanya mengangguk mengiyakan. Pasrah adalah jalan satu-satunya agar Elsa tak curiga padanya.
Di seberang sana, Vana sudah siap dengan earphone di kedua lubang telinga, menghidupkan musik dengan volume kuat. Malas dia mendengar Elsa bermanja pada Saga. Sesak rasanya.
Memejamkan mata, refleks mengembuskan napas kasar, kemudian menyesap cappucino yang masih mengepul untuk menenangkan pikiran.
‘Huft ... santuyy, Va.’
***
Seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam tengah berjongkok di balik semak-semak sebuah apartemen pencakar langit.
Tampaknya, orang itu akan memasuki salah satu apartemen di sana. Tatapannya yang mengarah ke lantai 4, seperti menyiratkan sesuatu di sana.
“Pasti tuh cewek ada di sana,” gumam pria itu menerka, tanpa pikir panjang lagi langsung berdiri, memasuki apartemen itu dengan menyusup.
Memang kawasan apartemen itu sangat sunyi. Para pemilik-pemilik apartemen pun terbilang sangat jarang bermeditasi di sana. Kalau tidak beraktivitas di luar, pasti mereka berada di kamar masing-masing.
Sesampainya di lantai empat dengan menggunakan lift, orang itu pun mengunjungi salah satu apartemen yang tampak sangat sunyi.
__ADS_1
Ia mencoba untuk membuka pintu utama, tetapi dikunci. Juga ada satu layar kecil yang menampilkan enam garis yang menandakan bahwa apartemen itu memiliki pin.
“Sit!” umpatnya geram, menyusuri pandangannya ke sekeliling.
“Kalo pintunya terkunci, nggak mungkin ada orang di dalam. Apa jangan-jangan cewek itu juga pergi?”
Orang itu mengambil ponsel yang berada di dalam saku, kemudian menscrool layar aplikasi kontak.
“Halo, Bos. Nggak ada orang di sini! Pintunya dikunci dari luar, pake pin juga. Mana mungkin ada orang di dalam.”
[Ha? Masa nggak ada, sih?!]
“Nggak ada, Bos, serius!”
[Y–yaudah, lo balik, jangan sampe ketahuan]
“Oke, Bos.”
***
‘Di mana, sih, lo jalang? Awas, kalo gue ketemu sama lo, ya!’ umpatnya dalam hati, dengan wajah yang sudah memerah menahan sesuatu.
“Telepon dari siapa?” tanya Saga tiba-tiba menatap gadis itu serius.
“Dari temen.”
“Yang, kok, kamu tumben nggak bawa dia ke sini?” Kali ini Elsa yang bertanya, demi memastikan keberadaan Vana.
“Buat apa aku ajak dia? Emangnya kamu nggak cemburu?”
“Ya cemburu, lah! Emang dia lagi ada di mana?”
“Di rumah bapaknya.” Jelas saja Saga harus berbohong. Bagaimana jika Elsa tahu kalau Vana di sini? Bisa gawat!
__ADS_1
‘Ihs, sumpah greget banget gue! Kira-kira rumah bapaknya di mana, ya? Nggak mungkin gue tanya ke Saga. Oke, kita percobaan pertama gagal!’ Gadis itu menggerutu dalam hati, memejamkan mata geram.
‘Untuk selanjutnya, jangan harap lo bisa lolos, jalang!’ sambungnya, dengan napas yang mulai memburu.
***
Seperti biasanya, di malam hari Selasa jadwal dua Minggu, Dira akan pergi ke lapangan basket umum yang tak jauh dari pelataran rumah Vana.
Biasanya juga, cowok itu akan mengajak Vana untuk ikut serta dalam latihan, tetapi hari ini entah kenapa dia ragu untuk mengajak Vana ke sana.
Selalunya Vana akan pulang ke rumah Gibran setiap hari Senin pada hari di mana dia akan ikut dengan Dira untuk bermain basket, atau hanya sekedar melihat Dira beserta jajaran latihan bersama. Tak lupa Ryn pun ikut dalam acara itu.
Cowok itu tampak berpikir, kemudian akhirnya dia mengambil benda pipih di dalam saku dan mencari kontak Vana di sana. Dia tak mau menelepon. Kirim pesan saja sudah cukup, pikirnya.
To Vana :
[Va, aku OTW lapangan. Kamu nggak out?]
Di seberang sana, Vana membulatkan mata, lalu menjitak pelan dahi yang seperti lapangan basket.
‘Mampus, gue lupa!’ geramnya, merutuki diri sendiri. Akhirnya, dia pun mengetikkan balasan pesan untuk Dira.
To Dira :
[Aduh, sorry ya, Di. Gue lagi nggak di rumah. Lain kali aja]
Tring!
Dira :
[Oke, sip.]
Serius Vana lupa. Sudah beberapa Minggu mereka tidak ke lapangan karena masa-masa libur. Wajar saja dia lupa. Huh!
__ADS_1
Bersambung ....