
***
Baru saja Saga ingin segera memasuki mobilnya, tiba-tiba lengannya langsung ditahan oleh seseorang dan orang itu dengan lincah bergelayut di lengan kekar Saga.
“Sayang, kamu mau ke mana? Anterin aku ke perpus, yuk!” goda gadis itu, menatap Saga dengan tatapan berharap.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, tampak menahan sesuatu. Setelahnya dia mengembuskan napas normal dan mengangguk.
“Oke.” Sembari menampilkan senyuman khas-nya.
Elsa tersenyum smirk, berujar dalam hati, ‘Biarin aja Vana mati di dalam gudang itu. Dasar parasit! Perusak hubungan orang!’
Walau dengan berat hati, tetapi Saga antarkan juga kekasihnya itu ke perpustakaan umum, setelah mendapatkan izin dari BK untuk keluar.
Bukannya tidak mempunyai aturan, tetapi ada satu dua alasan yang dapat diterima jajaran BK untuk mengizinkan muridnya belajar di luar sekolah.
Hal itu pun memiliki batas waktu dan kedua orang itu hanya diizinkan keluar dalam waktu dua puluh menit. Mengingat jarak dari SMA ke perpustakaan umum habis memakan waktu lima menit. Katakanlah mereka menghabiskan waktu di sana cukup sepuluh menit.
Tadinya Saga tidak izin ke guru BK, bahwa dia akan keluar. Bolos lebih aman, pikirnya. Malah Elsa datang merusak rencananya yang akan mencari Vana. Baiklah, setidaknya untuk saat ini Elsa termaafkan.
Di sisi lain, Ryn dan Ega tampak celingak-celinguk mencari seseorang di area parkir SMA Andara. Kedua orang itu sudah stand by di atas motor hitam milik Ega.
Berdecak, Ryn mengambil handphone-nya. Berniat menelepon Saga yang saat ini tak terlihat batang hidungnya. Padahal dia yang mengajak Ryn sebelumnya untuk mencari Vana.
“Kenapa kita nggak ajak Dira aja? Lebih berguna, daripada si Sagu,” tutur Ega santai di atas motornya.
“Nggak. Enggak untuk saat ini. Nanti bakalan salah paham.”
Ega mengernyit, tak mengerti apa maksud dari perkataan kekasihnya itu. Ryn berbicara bak seorang musisi yang kata-katanya sangat sulit dicerna oleh otak hasil give away, seperti Ega.
“Di mana, sih, dia? Buat orang dartingan aja! Kita duluan aja, deh!” ucap gadis itu, seraya menduduki jok belakang motor Ega.
“Emangnya kamu tahu, Vana ada di mana, Yang?” Ega bertanya santai, membuat Ryn menahan emosi. Ega ini memancing untuk berbuat dosa saja.
__ADS_1
Tak tahan, akhirnya gadis itu menimpali dengan nada tak santai. “Ya nggak tahu, lah, bege. Kalo tahu bukan hilang namanya! Bego banget, sih!”
“Ya, santai, dong, Yang. Galak pisan.”
***
Seorang wanita tengah terlelap damai di atas kasur empuk yang nyaman. Dibaluti oleh selimut tebal nan hangat, rasanya dia tak mau beranjak dari sana.
Tisya masih setia menjaga wanita itu, hingga tak jarang dia membersihkan darah yang masih sesekali menetes, kemudian mengoleskannya dengan obat luka.
Keadaan Vana sungguh miris, dengan beberapa luka lebam dan luka basah di wajahnya. Bahkan kerap wanita itu merasakan mual yang berkepanjangan. Mungkin efek dari injakan kaki Elsa semalam di perutnya.
Gadis itu menghentikan pergerakan tangannya, kala melihat Vana yang meringis dan menggeliat kecil, hingga wanita itu sukses membuka matanya.
“Tisya, aku lama banget ya, tidurnya?” Dia bertanya dengan nada lirih, melirik ke arah samping nakas yang terisi banyak buah-buahan segar.
“Nggak, kok. Kalo Mbak masih ngantuk nggak papa, tidur aja lagi.”
Vana menggeleng, mencoba mendudukkan tubuhnya, seketika Tisya bergerak, membantu.
Untuk saat ini, dia tidak mau bertemu dengan Saga. Semoga saja pria itu lupa pada dirinya dan dia bisa hidup tenang, tanpa kehadiran Saga yang hanya menyiksa batinnya.
“Boleh, Mbak. Boleh banget malah. Saya malah seneng kalo Mbak-nya mau tinggal di sini.”
“Makasih, ya. BTW nggak usah panggil mbak, aku masih 16 tahun, OTW 17. Panggil aja Vana.” Vana tersenyum malu, meyakinkan orang yang berada di hadapannya.
“Serius? Semuda itu?” tanya si gadis tak yakin.
“Iya, serius. Emangnya wajah aku kelihatan tua, ya? Nggak cocok sama umur aku yang terbilang muda?”
“Nggak, kok. Kamu mau gimanapun, tetap aja cantik.”
***
__ADS_1
Saga dan Elsa baru saja keluar dari perpustakaan umum dengan membawa satu kantong plastik yang pastinya isinya adalah buku.
Sedari tadi pikiran pria itu tak tenang. Bagaimana caranya agar dia bisa menjauhi Elsa dan mencari Vana yang entah di mana.
Elsa tahu, bahwa Saga akan pergi mencari Vana, makanya dia beralibi ingin pergi ke perlustakaan. Padahal sebelumnya, dia tidak pernah melakukan itu. Jangankan membaca, memegang buku saja jarang.
“Makasih ya, Sayang udah anterin aku,” kata Elsa, menggandeng manja lengan Saga yang dibirkan jatuh.
Pria itu hanya membalas dengan anggukan, malas berbicara. Mood-nya sudah hancur karena Elsa. Padahal tadi dia sangat bersemangat sekali untuk mencari Vana.
Drt, drt!
Suara getaran ponsel Saga di dalam saku. Buru-buru pria itu mengambil benda pipih miliknya dan menggeser ikon hijau, ketika melihat name contact yang tertera di layar.
“Aku duluan ke mobil ya, Sayang,” pamit Elsa, lagi-lagi Saga hanya mengangguk menanggapi.
[Eh, Fakboy Jahannam. Lo itu ke mana, sih?! Kita usah ada di gang sebelah, nih, nungguin lo! Buruan ke sini bege!]
“Gue OTW. Lo tunggu di situ, jangan ke mana-mana. Gua mau nganter Elsa dulu ke sekolah,” balas Saga berbisik.
Tut, tut!
Setelahnya pria itu mematikan sambungan telepon sepihak, kemudian memasuki mobil yang di mana Elsa sudah duduk manis di sana.
***
“Tisya, aku boleh minta tolong sama kamu, nggak? Aku bakal kasih apa pun yang kamu minta, tapi kamu harus bantu aku. Please.” Vana memohon, menangkupkan tangannya di depan dada.
“Tolong apa? Selagi saya sanggup, bakal saya lakukan.”
Wanita itu terdiam sebentar, tampak memikirkan sesuatu yang akan ia ungkapkan. Pasalnya, Tisya masih orang baru yang ia kenal. Masih sangat sagu untuk memberikan amanah ini pada gadis itu.
“Apa?” Sekali lagi Tisya bertanya.
__ADS_1
“Mm ... gantihkan posisi aku. Sebagai Vana.”
Bersambung ....