
***
Di dalam ruangan yang remang, Vana masih terduduk lesu, berteriak, berharap ada seseorang yang melepaskannya dari gudang tua, bak jeruji besi itu.
Sudah berkali-kali wanita itu mencoba melepaskan diri dari sana, tetapi malah semakin sakit karena lengannya sudah habis lecet, tergesek oleh tali yang mengikat.
“Tolong ...!”
Teriakan demi teriakan pun sedari tadi sudah terlontar, tetapi tetap saja tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di luar sana.
Tubuhnya kian melemas, satu hari sudah dia tidak mengisi perutnya. Lapar, haus, letih dan lelah yang ia rasakan saat ini.
“Ya Allah, mungkin ini juga yang dirasakan orang-orang gelandangan di luar sana. Kedinginan, kelaparan.”
Setetes demi setetes cairan bening kembali berjatuhan dari kelopak matanya yang memerah. Lingkaran hitam pun sudah terpancr jelas di sana.
“Papa ... kenapa papa nggak cari aku? Apa Saga juga nggak sadar, kalo aku nggak ada di apartemen, makanya dia nggak nyari? Mana mungkin. Dia nggak mungkin peduli sama kehilangan aku.”
Cukup lama wanita itu berbicara pada dirinya sendiri, hingga seseorang dari luar sana dengan perlahan memasuki gudang itu, seketika terkejut mendapati Vana dalam keadaan yang miris.
“Ya Allah, Mbak. Kenapa Mbak ada di sini? S—s—saya tolongin ya, Mbak?” ujar seorang gadis lebih tepatnya, memakai kaca mata bulat, serta rambut yang dikepang dua.
Vana tercengang, fokus menatap gadis yang berada di hadapannya yang tengah berusaha melepaskan ikatan tali di tubuhnya.
“Tadi saya nggak sengaja dengar suara minta tolong. Berhubung saya penasaran, jadi saya samperin aja dan ternyata bener, ada Mbak di sini. Saya bukan orang jahat kok, Mbak,” jelas gadis itu karena sadar dengan tatapan Vana.
__ADS_1
Bukan itu maksdunya. Wanita itu tercengang, karena wajah gadis itu ... mirip dengannya. Walaupun dia memakai kaca mata dan berpenampilan cupu, tetapi bisa dipastikan bahwa mereka itu memang mirip.
***
Bel SMA Andara baru saja berbunyi nyaring, seketika mengosongkan kelas-kelas dan memenuhi kantin dengan warga SMA yang kelaparan.
Saga yang bukannya ke kantin, malah pergi ke kelas XI IPA 2 dengan tergesa-gesa, ingin bertemu dengan seseorang di sana. Siapa tahu orang itu tahu tentang keberadaan Vana.
Pria itu mengembuskan napasnya, kala masih dapat menemui Ryn di kelas itu. Takutnya, gadis itu sudah ke kantin dan akan susah untuk menemuinya. Mengingat keadaan kantin yang cukup padat.
“Ryn, lo lihat Vana, nggak?” tanya Saga to the point. Terlalu malas untuk basa-basi.
“Hih, ngapain lo nyariin dia? Palingan dia kabur, nggak tahan sama sikap lo yang ke-kanak-kanakan. Sadar diri aja, deh!”
Ryn malah menanggapi dengan jutek, tak tahu bahwa Vana memang benar-benar hilang. Padahal menurutnya, Vana paling hanya pergi ke rumah Gibran.
“Ha? Lo udah tanya ke bapak-nya belom?”
“Udah. Om Gibran juga bilang, kalo Vana nggak ada di sana.”
Seketika Ryn terdiam, mengikuti jalan pikirannya yang sudah travelling ke Benua Eropa. Pasalnya, Vana juga tidak memberitahukannya pergi ke mana.
“L–lo serius, dia nggak ada di apartemen?”
“Kita cari sekarang.” Tanpa permisi, Saga langsung menarik lengan Ryn, membawa gadis itu keluar dari kelas dan berjalan dengan tergesa-gesa di lorong koridor sekolah.
__ADS_1
“Tunggu!” cegah Ryn, menghentikan langkah kakinya.
“Apa lagi? Kita nggak punya waktu lama.”
“Ya gue harus bawa Ega, lah. Mana mau gue berdua sama lo. Ntar jadi gosip lagi!”
Saga tampak berpikir, setelahnya mengangguk. Iya juga, pikirnya.
***
Di dalam satu ruangan minimalis yang bernuansa putih dan di atas sebuah kasur empuk. Di situlah Vana sekarang berada. Dia dibawa ke rumah gadis yang sudah menolongnya tadi.
Rumah ini tidak lebih besar dari apartemen-nya, tetapi cukup nyaman untuk mengistirahatkan tubuh, daripada berdiam diri di gudang tadi.
“Makasih ya, Tisya? Kamu udah nolong aku. Kalo nggak ada kamu, aku nggak tahu lagi gimana keadaan aku di gudang.” Vana menatap orang yang bernama, Tisya itu. Menatapnya dengan tatapan hangat dan sayu. Lelah.
“Sama-sama, Mbak. Tapi tetap aja, yang nolong Mbak itu Allah. Saya cuman sebagai perantara,” balas gadis itu, tersenyum singkat.
“Kamu ... tinggal sendiri?” Vana bertanya, sedikit kepo.
“Iya, Mbak. Orang tua saya ... keduanya sudah meninggal dunia, waktu saya masih kecil.”
Vana tersentuh. Ternyata masih ada yang lebih sepi daripada dirinya. Bersyukur, masih mempunyai ayah, sedangkan Tisya. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya.
“Kamu yang sabar, ya?” Tanpa sadar, wanita itu menyentuh pipi mulus Tisya, seakan melakukan itu pada adik kandungnya. Rasanya dia ingin sekali memiliki adik.
__ADS_1
Berasambung ....