PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 23


__ADS_3

***


Vana dibawa ke dalam sebuah gudang tua yang sangat gelap, kemudian diikat di salah satu tiang penyangga. Sementara itu, orang yang menculiknya sudah pergi entah ke mana.


Wanita itu masih dalam keadaan tak sadarkan diri, saat obat bius itu bereaksi dalam jangka waktu yang cukup lama.


“Eugh ...!” Suara lenguhan Vana terdengar lirih, beriringan dengan suara jangkrik yang menemani remangnya cahaya malam.


Samar-samar wanita itu melihat seberkas cahaya yang sangat silau, hingga akhirnya dia tersadar bahwa saat ini sedang tidak berada di apartemen-nya.


“Aku di mana? Ha? Di mana ini? Awh!”


Wanita itu meringis, menggerakkan tangannya, tetapi tergesek kala tali yang mengikat cukup kuat. Sial!


“Aws ... pedih,” ringisnya, merasakan cairan kental mengalir di lengan. Darah.


Cklek!


“Selamat datang, Nona! Selamat mengawali penderitaanmu!” seru seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu dan menghidupkan lampu, seketika membuat Vana memicingkan matanya silau.


“S–s–siapa kamu? Lepasin saya!” teriak Vana dengan lantang, menggema dalam ruangan kedap suara itu.

__ADS_1


“Apa? Melepaskanmu, setelah aku lelah menangkapmu ke sini? Mustahil! Sayangnya, bos-ku sudah memerintahkanku untuk membiarkanmu mati dalam gudang tua ini.”


Orang misterius itu berbalik, hingga Vana dapat melihat dengan jelas wajah kejam binasa seorang cowok yang menatapnya dengan seringai horor.


‘Kok ganteng? Ya Allah, Vana! Kamu lagi diculik! Masih sempat-sempatnya!’


Buru-buru wanita itu menepiskan pikiran yang traveling dan menatap tajam sosok cowok tampan, tetapi menyeramkan yang sudah berjalan ke arahnya.


“Siapkah kau bertemu dengan bos-ku, Nona?” Cowok itu bertanya, mengelus dagu Vana, kemudian mencengkramnya, hingga membuat sang empu meringis.


“Hehehe, lemah!”


***


Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 dan mereka pergi sudah sedari tadi pagi, sekitaran jam sepuluh, tetapi nampaknya tak ada wajah lelah sedikitpun tersirat dari keduanya.


“Makasih ya, Sayang, waktu satu hari-nya,” ujar sang gadis yang bergelayut manja di lengan kekasihnya.


“Iya. Aku seneng banget, kok,” balas Saga mengelus sekilas puncak kepala Elsa. Mereka pun memasuki mobil, kemudian melaju dengan santai, membelah jalanan ibukota yang masih saja padat.


“Sayang, kamu janji ya, sama aku, kalo kamu bakalan cerai sama cewek gatel itu.” Elsa menatap harap ke arah Saga, menggenggam lengan pria itu dan mengecupnya berkali-kali.

__ADS_1


Sementara itu, Saga hanya diam saja, mengangguk singkat tanda merespon. Lagi-lagi dia hanya bisa berkata ‘entahlah’ dalam hati.


“Aku sayang kamu.”


Cup!


Satu kecupan hangat mendarat di pipi mulus cowok itu. Siapa lagi pelakunya jika bukan Elsa?


“Aku juga, Sayang.”


Dua puluh menit, mereka melaju hingga akhirnya mobil Saga berbelok ke seuah komplek, beberapa menit kemudian berhenti di salah satu rumah megah di kompleks itu.


“Makasih ya, Sayang.” Elsa membuka pintu mobil, kemudian melangkah keluar dari sana, diiringi tatapan hangat Saga.


“Iya, aku pulung dulu, ya. Langsung tidur, biar besok nggak telat!” ungkap Saga memperingati.


Menstarter mobil, kemudian melaju Elsa yang masih berdiri di gerbang. Senyuman manisnya kini berubah menjadi devil, mengingat rencana jahatnya yang berhasil.


“Waktunya, gue kasih hukuman ke jalang itu. Dasar pelakor!”


Elsa memasuki salah satu mobil yang terparkir di halaman, lalu melajukan mobil itu dengan kencang keluar dari kompleks.

__ADS_1


Berhubung orang tuanya sedang ke luar negeri, jadi dia tak perlu mencari alasan untuk keluar setelah satu harian pergi bersama Saga.


Bersambung ....


__ADS_2