PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 18


__ADS_3

***


Saga berjalan memasuki kamarnya, kemudian berjalan ke balkon, hanya sekedar menenangkan pikiran yang akhir-akhir ini sering sekali kacau.


Pria itu bersandar di pembatas balkon dengan menghadap ke taman samping apartemen. Rasanya sulit sekali menghilangkan gengsi dan ego. Menyebalkan!


“Sial!” teriaknya, memukul besi pembatas balkon itu dengan tangan kosong.


Napasnya kian memburu, Vana benar-benar telah membuatnya kacau, tapi dia tidak akan pernah meninggalkan Elsa yang notabennya adalah cinta pertama.


Saat ini Saga berada dalam posisi serba salah. Di mana dia harus memilih salah satunya, tetapi bukan mudah baginya untuk melakukan itu.


Jujur saja dia juga menyukai Vana, bahkan bisa dikatakan dia sudah menempatkan Vana di hatinya sebagai seorang istri, tetapi Elsa yang menemaninya sejak dulu juga tak akan bisa hilang dari hati itu.


“Sial! Sial! Sial! Sial!”


Bukan. Bukan memilih di antara satu itu yang membuat dia frustasi, tetapi bagaimana caranya dia bisa mengalahkan ego untuk belajar mencintai Vana secara terang-terangan.


Ego memang mampu membuat kita gila.


***


Bergegas Vana beranjak, guna untuk memasak makan malam untuknya dan Saga. Dia berjalan keluar dari kamarnya itu dan mengunjungi dapur, siap berkutat dengan alat masak.

__ADS_1


Wanita itu mengeluarkan beberapa bahan masakan mentah dari dalam kulkas, mulai mengolah bahan-bahan itu dengan telaten.


Suara derap langkah kaki yang mendekat, seketika membuatnya berbalik, mengira bahwa orang itu adalah penjahat.


Langsung berbalik kembali, menyadari Saga sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan datar tak berekspresi.


“Nggak usah masak,” ujar pria itu mendekati Vana, berdiri tepat di sampingnya.


Vana hanya diam saja, tak mau menyahut. Dia masih kesal dengan Saga karena kejadian dj rooftop tadi. Bisa-bisanya pria itu mempermainkannya.


Ctek!


Sesantai mungkin Saga mematikan kompor yang terdapat wajan berisi minyak goreng dan tanpa rasa bersalah menyimpan bahan-bahan masakan itu kembali di dalam kulkas.


“Ngeyel banget sih, jadi orang? Buruan siap-siap! Kita makan di resto,” sambungnya tak memperdulikan tatapan menyebalkan Vana.


“Sotoy banget, deh! Buruan siap-siap!”


Terpaksa wanita itu menurut, berjalan dengan kesal memasuki kamarnya kembali. Sumpah demi apapun, Vana tidak suka makan di resto.


“Kalo bukan karena suami aja, gua nggak bakalan mau makan di sana. Ditambah nanti dijadiin obat nyamuk lagi! Ya Allah ... hamba nggak siap jadi istri yang tersakiti.”


***

__ADS_1


Suasana ramai di salah satu restorant bintang lima di pusat ibukota. Tampak sepasang pasutri yang baru saja memasuki restorant itu dengan tangan yang bertautan satu sama lain.


Vana tampak anggun sekali, dengan memakai dress abu sebatas lutut, serta rambut yang dikuncir setengah menambah kesan imut pada dirinya.


Sedangkan Saga hanya memakai celana jeans beserta jaket kulit yang terbuka, menampakkan kaos hitam di sana.


Mereka terus berjalan, hingga berhenti di satu meja, di mana sudah terdapat empat orang remaja cowok di sana.


Coba kita absen mulai dari kiri, ada Azka, Bayu, Vino dan terakhir ada Dani. Lah, kok cuman empat? Agil mana?


“Si Agil lagi have fun bareng temen-temen lamanya,” balas Azka, menjawab pertanyaan author. Hahanjay!


Saga mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi, diikuti oleh Vana yang duduk di samping suaminya itu.


‘Kok malah sama temen-temennya, sih? Cewek yang katanya mau ditembak ke mana?’ batin Vana bertanya-tanya, menyusuri pandangannya ke sekeliling.


“Ekhem! Tumben lo Bos, bawa Permaisuri. Biasanya kalo ke mana-mana berasa kaya anak lajang. Pftt!”


Saga menatap tajam ke arah Bayu yang sudah dengan santai berani membuka aibnya di depan Vana. Ampas! Satu kata terlontar, satu anggota tubuh melayang.


“Biasalah, si Bos. Ciri-ciri fucekboy tobat ya gini, nih!” Azka ikut menimpali, membuat ukuran bola mata Saga semakin meningkat.


“Aku mau ke toilet dulu. Permisi!” pamit Vana berusaha menghindari suasana yang menyebalkan menurutnya.

__ADS_1


Bruk!


Bersambung ....


__ADS_2