
Happy reading and happy new year. Jangan keluyuran ya, Guys. Stay at home.
***
Dua orang pasutri yang tampaknya baru saja memasuki area fun fair yang sangat padat sekali.
Mereka berjalan dengan santai, berkeliling pasar malam diiringi dengan suara hingar-bingar orang-orang, baik yang tengah bermain, maupun pengunjung yang berkeliling. Khususnya Saga dan Vana.
Vana menatap kesal ke arah Saga, kala pria itu tak mengizinkannya sama sekali untuk menaiki wahana di sana. Padahal itulah yang sangat ia suka, jika pergi ke fun fair.
Ingin rasanya dia menjambak rambut Saga saat ini juga, melihat pria itu yang tak jarang menggoda cewek-cewek dengan mengedipkan sebelah matanya. Menjijikkan!
“Ih, aku mau naik itu, bianglala. Apaan, sih?! Buat apa kamu ngajak ke sini kalo nggak kasih naik apa-apa?!” kesal Vana menepiskan tangannya yang sedari tadi digenggam paksa oleh Saga.
Saga membalikkan tubuhnya menghadap Vana yang berdiri tak jauh di belakang. Menatap wajah kesal wanita itu yang sangat menggemaskan. Mungkin jika tidak ada rasa gengsi, dia akan segera mencubit gemas pipi chubby Vana.
“Gue kan nggak maksa lo buat ikut! Kenapa tadi lo nggak nolak, waktu gue ajak?” Jawaban yang masuk logika, tetapi mampu menaikkan kadar darah tinggi, lalu menjalar ke seluruh tubuh, mengikuti peredaran darah.
Vana kicep, malas membalas. Percuma saja jika dia membalas, Saga tak akan membiarkannya untuk pergi keliling fun fair ini sendirian. Diam-diam peduli, takut Vana diculik.
“Aku pulang aja lah!” Vana mendengkus, membiarkan Saga berjalan di depan, sementara dia masih belum bergerak sedikitpun.
Kembali Saga menoleh, sekarang sudah memasang raut kesal, memicingkan matanya takjub.
“Nggak! Sini, ikut gue!” Pria itu menarik lengan Vana mulai berjalan lagi tak habis berkeliling unfaedah sedari tadi.
“Gue mau beliin lo hadiah,” ujarnya tiba-tiba, berhenti di tempat penjual segala jenis kalung yang cantik.
“Apa?” tanya Vana tak mengerti, memicingkan mata mengingat kembali kata-kata Saga barusan.
“Maksud gue, buat Elsa! Geer banget, siih!”
Menyebalkan!
__ADS_1
***
“Maksud gue, buat Elsa! Geer banget, siih!”
Vana hanya balas mendengkus, lagi-lagi menepiskan cekalan Saga dari pergelangan tangannya. Mungkin Saga memang harus mendapatkan karma secepat mungkin. Harus!
Pria itu tampak memilih beberapa kalung yang sudah tergantung di jarinya, mengamati satu per satu permata-permata yang sangat indah berkilau itu.
Sesekali dia mencuri pandang ke arah leher jenjang Vana, seperti menyocokkan salah satu kalung di sana. Sedangkan Vana asik menonton orang-orang yang menaiki wahana bianglala.
Setelah Saga selesai dengan membeli kalungnya, dia pun menarik lengan Vana untuk pergi, kembali berkeliling di area fun fair. Tak memperdulikan wajah Vana sudah disetel sekesal mungkin.
Tak sengaja, kedua pasutri itu bertemu dengan rombongan Dira beserta jajaran, serta Ryn yang notabennya adalah kekasih dari Ega.
Vana memalingkan wajah, merutuki kesialannya malam ini. Bisa-bisanya dia bertemu dengan Dira, saat sedang bersam Saga. Apa kata mereka nanti?
“Va? Kamu ... di sini juga?” tanya Dira basa-basi, karena dia tahu tadi Vana mengatakan bahwa dia tidak mau ikut ke fun fair. Nyatanya malah pergi bersama Saga.
Saga memasang ancang-ancang, malah Vana menjawab gugup.
“Lo buta apa? Nggak bisa liat apa, kalo Vana di sini, ya berati dia di sini,” potong Saga bertele-tele membuat Vana kicep.
“Kok kamu sama dia?” Dira kembali bertanya, mengabaikan Saga yang sudah menyorotnya tajam.
“Itu ... tadi kit—”
“Biasalah, orang pacaran. Emang nggak boleh ya, pergi berdua?” Lagi-lagi Saga memotong ucapan Vana. Ryn memberikan kode ke arah Vana, agar segera pergi dan dibalas anggukan oleh wanita itu.
“Eh, aku duluan ya, tadi udah ditelepon mama. Bye ...!”
Buru-buru Vana menarik Saga dari sana, mengajaknya pergi jauh dari Dira yang rautnya kini sudah berubah sangat drastis. Seperti menggambarkan ... kecemburuan.
“Kamu itu gimana, sih?! Nggak jelas banget! Unfaedah!” kesal wanita itu, kala mereka sudah berada di area parkir, karena dia tak mau lagi berlama-lama di sini.
__ADS_1
“Ya emangnya kenapa? Kan nggak mungkin gue bilang ke mereka, kalo kita suami istri. Apa kata dunia? Seorang Saga menikah dengan sendal butut kaya lo! Ogah!”
Gengsi aja terus, Ga.
Kesabaran Vana sudah habis sekarang. Satu kepalan tangan mendarat di dada bidang Saga yang terbaluti kaos, serta jaket kulit. Melemparkan permen kapas yang sebelumnya dibelikan oleh pria itu, Vana berlari kecil meninggalkan Saga yang malah tergelak.
Duduk di atas motor dengan santainya memakakan permen kapas milik istrinya. Ini Saga minta kena santet apa gimana, sih? Buat emosi! Bini ngambek bukannya dikejar, malah menggoda cewek-cewek semoy yang melintas.
“Ekhem! Neng, suka permen kapas, nggak?” tanyanya, pada salah satu perempuan yang berhasil terpikat oleh ketampanannya.
“Mm ... suka,” jawab gadis itu dengan senyuman centil.
“Tapi kayanya kamu nggak cocok deh, makan permen kapas.”
“Kenapa?”
“Soalnya lebih cocok pake kapas mayat. Pftt ...!”
Gadis itu memasang raut kesal. Bisa-bisanya Saga mempermainkannya, malah hilang kendali sampai tergelak di sana. Not have akhlak.
Tanpa berpikir panjang lagi, gadis itu berlalu meninggalkan Saga di sana, jangan lupakan wajah kesalnya yang semakin menjadi saat menabrak seseorang yang tengah membawa minuman soda. Sial!
“Eh, itu si anak teripang ke mana, sih? Apa beneran pulang kali, ya. Mudah-mudahan diculik, Aamiin. Nyusahin mulu!”
Drt, drt!
Pria itu menunduk, merasakan sesuatu bergetar di saku. Jelas saja itu adalah ponsel bahwasanya ada panggilan masuk di sana. Melihat name contact yang berada di layar, segera dia menggeser ikon hijau, menjawab.
Vancung🐖
“Paan? Lu diculik? Alhamdulillah. Beban hidup gue ilang!”
[Ih! Nggak! Nggak jadi!]
__ADS_1
Bersambung ....