PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 30


__ADS_3

***


Waktu berjalan begitu cepat. Baru saja rasanya menginjakkan kaki di SMA Andara, tiba-tiba sekarang sudah berada di kelas XII. Khusunya Vana, Ryn, Saga dan Dira, beserta jajaran.


Tak terasa pula, sudah setengah tahun Vana dan Saga menyandang status mereka sebagai ‘pasutri putih abu-abu’. Mungkin sebentar lagi, status itu akan berubah menjadi pasutri almamater. Ah, rasanya tidak cocok.


Hari ini adalah hari pertama Vana dan seluruh siswa kelas XII lainnya, menginjakkan kaki di SMA Andara dengan status kelas yang berbeda.


Walaupun ada sebagian yang tinggal kelas, tetap tak menghilangkan acara besar-besaran setiap tahun untuk menyambut anggota calon angkatan SMA tersebut.


Akhir-akhir ini, Vana sering sekali merasa bahwa dia sedang diikuti oleh orang misterius. Itu bukan perasannya saja, melainkan yang sebanarnya.


Tak jarang pula, dia memergoki orang yang mencurigakan yang kerap mengintipnya dari sisi-sisi yang mutlak sering digunakan oleh penjahat untuk menyusup.


Setelah dua Minggu dia menikmati masa liburannya, tetapi tak ada sama sekali perubahan dalam diri.


Saga memang menyebalkan, tidak pernah mengajaknya liburan. Pria itu hanya terus saja lebih mementingkan Elsa daripada dirinya.


Biarlah. Suatu saat dia akan mendapatkan kebahagiannya, walupun bukan bersama Saga. Sedikitnya dia berharap, Saga akan tetap menjadi miliknya dan akan berubah pada saatnya. Semoga saja.


“Va, lo liat Ega, nggak?” Seorang gadis bertanya kepada Vana yang tengah asik berduduk santai di balkon lantai dua SMA Andara, seraya menikmati pemandangan dari atas sana.


“Nggak, tuh. Ya kali, gue intipin cowok lo, Ryn,” balas Vana santai, membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ryn.


“Eh, Va. Lo tahu nggak, sih, Ega sweet banget. Kita mau ngerayain anniv dua tahun ntar malem,” tutur Ryn menampilkan senyuman khasnya.


“O, iya? Bukannya tahun semalam juga kalian ngerayain anniv?” tanya Vana, siap mengobrol dengan sahabatnya itu.


“Nggak loh, kemaren kan Ega pigi ke Swiss, makanya kami nggak ngerayain anniv. Cuman VC-an aja.”


Eh, ini Ryn kenapa pake logat Medan? Vana kan jadi bingung.


“Iya, gue lupa.”


“BTW lo, kemarin kenapa nggak ikut keluar bareng Saga? Kemaren kan hari terakhir liburan kita.”


“Males, Ryn. Dia pergi bareng Elsa.”

__ADS_1


Sungguh, Vana sudah mulai tak nyaman dengan obrolan ini. Ditambah cuaca sudah berubah menjadi panas.


“Ck! Sampe kapan, sih, lo itu terus ngalah? Greget gue! Coba, deh, lo itu sedikit aja pikirin kebahagiaan lo sendiri. Jalan sama Dira, kek, apa, kek!” kesal Ryn serius menatap Vana. Pasanya, dia sudah lelah menasehati sahabatnya itu.


“Selagi kesabaran gue masih ada stock, gue nggak bakalan ngelakuin hal yang nggak seharusnya gue lakuin, Ryn.”


***


Di satu tempat SMA Andara, Saga beserta jajaran tengah mengobrol ria, seperti biasanya ditemani oleh bungkusan-bungkusan sebat dan beberapa jenis minuman soda.


Kali ini, Agil pun ikut serta dalam acara pesta kecil-kecilan itu, ikut mengkonsumsi barang-barang yang ada di sana.


Agil sudah tahu, tentang hubungan Saga dan Vana yang sebenarnya. Bahkan dia juga mengetahui kehidupan kedua pasutri itu. Itu sebabnya, dia mempunyai rencana untuk menyadarkan Saga atas perbuatannya. Yang jelas, dia akan membuat Saga merasa benar-benar kehilangan dan sadar bahwa Vana itu lebih berharga dari segalanya.


Cowok itu tahu, apa yang harus dia lakukan. Itu juga demi kebaikan hubungan rumah tangga sepupunya, sekaligus sahabat kecilnya.


Sakit yang ia rasakan, setelah mengetahui bahwa Vana sering sekali tersakiti akibat ulah Saga yang egois. Maka dari itu dia akan memberikan pelajaran berharga kepada Saga.


Untuk saat ini, dia harus berpura-pura tidak tahu terlebih dahulu.


“Bos, ada undangan nikahan, nih. Dari mantan,” ujar Azka melemparkan sebuah kertas undangan yang berwarna hitam, berpadukan gold.


Sebenarnya mayoritas koleksi mantan-mantan Saga itu yang berumur lebih tua darinya. Itu sebabnya, banyak mantannya yang menikah, bahkan kuliah.


“Gue nggak bakalan datang. Lagi sibuk, nggak bisa diganggu! Lagi ngurusin unta gue bunting!” jawab Saga ketus, kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan teman-temannya di sana.


“Ealah, si Bos. Main nyelonong aja! Mau ke mana, sih?!”


Agil dan Vino tak memperdulikan ocehan ketiga temannya. Berjalan santai menyusul Saga yang sudah setengah jauh dari sana.


Sontak Saga menghentikan langkahnya, kala mendapati Vana yang tengah bercengkrama dengan Ryn, di balkon.


“Gue sayang sama lo, Givvana,” gumamnya tiba-tiba, tetapi samar tidak terdengar. Kemudian melanjutkan, ”Tapi boong.”


Melengos, berlalu dari hadapan Vana, sekaligus tebar pesona, menyugar rambutnya yang mentang-mentang bagus itu.


“Gila, Va. Damage-nya. Buat leleh,” cicit Ryn menyenggol lengan Vana yang sudah memasang raut datar.

__ADS_1


“Apa, sih? Nggak, ah! Biasa aja!”


Meanwhile Saga: Pada dasarnya kalo orang ganteng yang brengsek itu, akan tetap ganteng.


***


Hari ini, Elsa tidak hadir ke sekolah. Gadis itu sedang mencari tahu seseorang yang kata anak buahnya telah membebaskan Vana dari gudang tua itu.


Sebenarnya hal itu sudah diketahui dari lama, tetapi dia belum tahu pasti, orang yang sudah menyelamatkan Vana tersebut. Bahkan anak buahnya yang memberitahukan peristiwa itu pun tak tahu pasti.


Yang dia tahu hanya, orang itu adalah seorang gadis yang berpenampilan cupu, tetapi mirip dengan Vana dan tinggal tak jauh dari kawasan gudang tua. Kira-kira berjarak 10 meter.


“Gery, kamu yakin, kalo orang yang kamu temui kemarin itu orang yang udah bebasin si jalang itu?” tanya Elsa, yang memutar pandangannya ke kanan dan kiri, bersama anak buahnya yang bernama, Gery.


“Yakin, lah, Bos. Saya ingat betul!” balas Gery antusias, seraya tetap fokus mengemudikan laju mobil mereka.


“Kenapa nggak kamu ajak ngobrol dia?”


“Ya, gimana, Bos. Soalnya saya juga belum kasih tahu ke Bos, sih.”


“Ck! Dan bodohnya kamu, bukannya ngikutin orang itu malah pergi keluyuran sama geng kamu!” tukas Elsa, melemparkan kepalan tissu ke arah Gery.


Citt!


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, kala mereka hampir saja menabrak seseorang yang tengah melintas sembarangan.


Gery memicingkan matanya, seperti melihat siluet yang tak asing di netra hitamnya. Tanpa pikir panjang, cowok itu pun langsung menuruni mobil dan menghampiri orang yang diduga adalah Tisya.


Memang benar, itu adalah Tisya.


“Kamu nggak papa ‘kan?” tanya Gery, membantu Tisya yang terduduk di jalan, karena sempat tertubruk, walaupun agak pelan.


Elsa mendekati kedua orang itu, tercengang melihat sosok Elsa yang memang benar mirip dengan Vana, seperti apa yang dikatakan oleh Gery.


Seketika seulas senyuman smirk terbit di sudut bibirnya.


‘Kau akan kuperbudak, cupu!’

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2