PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 29


__ADS_3

***


Saga dan Vana baru saja memasuki kawasan SMA Andara, bertepatan dengan Pak Sanjaya menutup. Untung saja masih terlambat sedikit.


Wanita itu tampak mengembuskan napasnya lega, menyandarkan tubuh pada kursi yang tengah ia duduki. Sedangkan Saga. Lihatlah dia! Santai, seperti tidak ada beban.


“Untung nggak telat! Ini semua gara-gara lo!”


Buk!


Vana mendaratkan buku setebal 400 halaman ke lengan Saga, kemudian keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa.


“Woy! Nggak sopan lo! Mampus lu ketekok! Pfft!” Bukannya membantu, justru Saga malah menertawakan Vana yang terduduk di tanah, akibat keseleo. Sial!


Melihat Vana yang langsung berdiri, tanpa memperdulikannya, pria itu pun langsung menyusul dengan langkah tergesa-gesa, hingga saat ini dia berjalan tepat di belakang istrinya.


“Sayang!”


Saga menghentikan langkahnya, kala mendengar suara seseorang yang tengah memanggilnya. Berbalik, seketika mendapati Elsa yang berdiri di hadapannya dengan senyuman khasnya.


“Eh, Sayang. Kamu baru dateng juga?” tanya pria itu, basa-basi.


“Iya, sengaja biar bareng sama kamu,” jawab Elsa, melirik ke arah seorang wanita yang juga menghentikan langkahnya, tetapi masih membelakangi mereka.


‘Itu bukannya si jalang? Kok, dia ada di sini, sih?! Seharusnya kan, dia udah mati di gudang.’ Dalam hati, gadis itu bertanya-tanya, sedikitnya kesal, karena Vana kembali lagi.


“Kok, kamu sama dia, sih?” tanya Elsa akhirnya, menunjuk Vana dengan dagunya.


“E ... nanti aku ceritain. Kita ke kelas, yuk!”

__ADS_1


Buru-buru Saga membawa Elsa dari sana, meninggalkan Vana yang sudah berubah menjadi murung, entah apa sebabnya.


Tersenyum miris, Vana kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menuju kelas yang tak seberapa jauh lagi. Walaupun wajahnya terhalang masker, tetap saja luka lebamnya masih terlihat.


Sesampainya di kelas, ia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi, tepat di samping Ryn yang sudah melongo menatapnya.


“Ya ampun, Va. Lo dari mana aja? Ini beneran lo ‘kan? Tapi muka lo kenapa?”


“Iya, ini gue, Ryn. Ini ... nggak papa, kok. Cuman luka biasa aja. Gue lagi flu makanya pake masker. Takutnya nular,” balas wanita itu pura-pura batuk.


Ryn menatap Vana dengan tatapan menyelidik, seakan mencari kebenaran di netra hitam nan bulat milik sahabatnya itu.


“Lo nggak di-KDRT-in sama si Sagon ‘kan?”


“Apa, sih, Ryn? Ya enggak lah! Lo lupa, kalo gue anak karate?” cicit Vana membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.


***


“Sayang, kamu ngapain, sih, pergi bareng dia? Jangan-jangan bener lagi, kalo kamu itu memang suka sama dia!” tuduh Elsa, menepis tangan Saga yang menggenggam tangannya.


“Ish, kamu apaan, sih? Ya enggak lah! Mana mungkin aku suka sama dia, Yang. Jangan ngadi-ngadi, deh, kamu!” Masih saja pria itu mengelak, berusaha tetap santai.


“Terus kenapa kamu pergi sama dia?”


“Itu juga karena terpaksa, Yang. Dia lagi sakit,” tutur Saga apa adanya. Terpaksa katanya? Bacot!


‘Kenapa dia bisa bebas, coba! Ihs, awas aja lo jalang, gue bakal balas sama yang lebih parah lagi!’


Di sisi lain, seorang gadis misterius sedang bersembunyi di semak-semak belakang SMA. Gadis itu mengenakan masker dan pakaian yang serba tertutup, tampak mengintai sesuatu.

__ADS_1


“Jadi itu suami Vana? Dia nikah semuda itu? Masa, sih?”


Berbalik, dia merasakan pegal saat sedari tadi hanya berjongkok karena semak-semak itu tidak tinggi, jika dia berdiri sedikit saja, pasti akan terlihat.


“Kenapa coba, aku nggak nerima tawaran Vana kemarin? Kalo tahu suaminya seganteng itu, walaupun brengsek.”


Melihat ke sekelilingnya, akhirnya gadis itu berjalan dengan perlahan-lahan, mencoba keluar dari gerbang yang ada di belakangnya. Untung saja tidak terkunci.


***


“Anak-anak, silahkan buka buku Matematika kalian, halaman 123 dan catat semua rumus yang ada di sana. Minggu depan kita sudah mulai ujian kenaikan, ibu harap, kalian semua bisa naik kelas. Sekarang, semua guru sedang rapat. Jangan ribut, kerjakan tugas dengan baik!” peringat Bu Anda, guru Matematika.


“Baik, Bu!” sahut seluruh siswa-siswi kelas XI IPA 2, diantaranya Vana dan Ryn yang saat ini sedang dilanda mode malas dan extra gosip.


“Va, sebenarnya perasaan lo ke Dira itu gimana, sih? Jujur ya, Va. Gue itu kasihan banget sama Dira yang notabennya PDKT-an lo dari lama,” ungkap Ryn tiba-tiba, menatap serius orang yang berada di sampingnya.


“Gue juga nggak tahu, Ryn. Lagian kalo misalnya gue suka sama Dira, percuma. Gue udah punya Saga, suami gue.”


“Iya juga, sih. Lagian apa, sih, yang lo harepin dari si Sagon itu. Bahagiain kagak, nyakitin iya!”


“Ck! Mau gimana lagi, Ryn. Status gue sama Saga itu suami istri, bukan pacaran doang. Cuman 30% aja kemungkinan gue bisa jauh dari dia.”


“Tapi, Va, lo suka nggak, sama Saga?” Ryn bertanya kepo, mendekatkan telinganya dengan Vana, tak mau ada satu huruf pun yang tertinggal.


“Gue nggak tahu.”


Bangsat!


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2