
***
Suasana malam yang dingin yang menusuk kulit, sama sekali tak membuat kedua insan yang tengah berada di balkon berniat untuk beranjak.
Keheningan tengah menyelimuti keduanya, setelah cukup lama mereka terdiam. Tak ada yang mau membuka suara kembali. Diam bersama pikiran mereka masing-masing.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.10. Waktu sudah memang sudah larut, tetapi masih banyak insan yang berlalu lalang di jalan. Ada yang berkendara, maupun jalan kaki.
Dua orang pasutri yang tengah sama-sama menggenggam segelas teh hijau, tenang sekali. Padahal mereka sama-sama tak nyaman dengan suasana hening saat ini.
Sudah satu jam mereka berada di sana, hanya sekedar melihat kerlap-kerlip bintang yang menghiasi langit. Sebenarnya ada sesuatu yang harus diungkapkan, tetapi rasanya ini bukan waktu yang tepat.
“Gue cape Va, sama perasaan gue sebenarnya yang gue juga nggak ngerti sama perasaan ini.” Saga kembali memulai pembicaraan, fokus menatap kendaraan yang berlalu lalang.
Di sampingnya, Vana pura-pura tak peduli padahal telinganya sudah siap siaga ingin mendengarkan lebih lanjut ucapan Saga.
“Kalo boleh gue ngomong tanpa gengsi, gue pengennya ngungkapin yang sebenar-benarnya.”
“Sayangnya ... lo nggak mungkin paham.”
Entah kenapa, telinga Vana memanas mendengar penuturan itu. Entah itu karena tersipu, atau karena tak suka.
Dia juga bingung sama perubahan perasaanya yang semakin hari semakin sulit untuk dikatakan. Bisa dibilang ... dia sudah mencoba mengabaikan rasa itu.
“Tapi gue juga nggak mau ninggalin Els—”
“Lo mau tahu nggak, siapa yang udah culik gue dan buat gue babak belur?”
***
__ADS_1
Pagi hari biasanya identik dengan kondisi segar dan sejuk, tetapi beda halnya dengan Vana yang malah merasakan hawa panas, serta tubuh yang terasa lemas.
Untuk kejadian tadi malam, lupakan saja. Vana tidak akan memberitahukan itu untuk saat ini. Dia akan menunggu waktu yang tepat saja nanti.
Wanita itu sudah siap berangkat ke sekolah, tapi entah kenapa rasanya ada yang mengganjal, seperti akan terjadi sesuatu padanya.
Baru saja dia melangkah ingin keluar dari apartemen, tiba-tiba terhenti saat satu siluet misterius terlihat dari ekor matanya. Seperti tengah mengintai.
Balik kanan, Vana kembali memasuki apartemen, menghampiri Saga yang masih memakai sepatu di atas sofa.
Dia harus pergi bersama Saga. Harus!
“Kenapa nggak jadi pergi?!” Pertanyaan ketus Saga yang membuat wanita itu setengah kesal.
“G–g–gue pergi bareng lo,” balasnya gugup, ada rasa malu juga karena sebelumnya dia menolak ajakan Saga.
“Cih! Tadi sok jual mahal, lu Markonah!” Yang ada pria itu benar-benar membuatnya kesal sekarang.
***
“Huh! Telat ‘kan?! Lo, sih!” pungkas wanita itu melipatkan tangannya di dada.
“Ih, gue kan nggak maksa lo buat pergi bareng gue. Ya, itu salah lo sendiri, malah nyalahin gue lagi!”
Saga benar-benar menyebalkan! Baiklah, untuk kali ini Vana harus menerima keterlambatannya sebagai murid teladan plus mantan OSIS.
“Turun, lo! Mau di sini aja lu, sampe pulang sekolah?!”
“Iya, iya!”
__ADS_1
Kedua orang itu menuruni mobil dan berjalan perlahan-lahan mendekati lapangan yang sudah ramai diisi oleh murid-murid SMA Andara.
“Heh, kalian berdua! Terlambat ‘kan? Baris di jajaran depan, cepat!” Terciduk. Bu Windi memang tak bisa diajak berbuat curang. Selalu saja mengelilingi sekolah untuk menciduk murid yang terlambat.
‘Oke, Va. Reputasi lo udah lenyap!’ gerutu Vana dalam hati. Ingin rasanya dia menampol suaminya itu saat ini juga.
Terpaksa, mereka berajalan ke barisan murid terlambat yang sudah dijemur di bawah terpaan sinar matahari. Padahal Vana itu mudah sekali terkena sunburn.
Di seberang sana, Dira terus saja menatap Vana, hingga mengabaikan upacara yang semakin berjalan. Serius, awalnya dia biasa saja saat mengetahui hubungan kedua pasutri itu, tetapi setelah melihat langsung, entah kenapa membuat dadanya nyeri, seperti ada yang mengganjal di lubuk hatinya.
***
Saat ini, Saga dan Vana sedang terduduk lemas di roftoop sekolah, lelah bercampur haus karena sudah dihukum membersihkan satu toilet satu orang. Mantap ‘kan?
“Gue haus,” ucap Vana memelas, berharap Saga mau membelikannya minuman.
“Ya terus? Urusannya sama gue apa?” Memang Saga itu ... ck! Buat kesal saja!
“Sayang!” Saga menoleh, mendapati satu gadis yang tengah membawa dua botol minuman dingin.
“Kamu pasti haus ‘kan? Nih, aku bawa minuman. Sekalian buat Vana juga. Nih, Va ambil!” ujar gadis itu seraya menyodorkan satu botol minuman pada Vana.
Saga memicingkan matanya curiga. Ada angin apa Elsa, hingga dia berlaku baik pada Vana? Sebenarnya dia tidak mau berburuk sangka. Hanya saja, pikirannya memaksa untuk melakukan itu.
“Makasih, Sa. Gue pergi dulu!” pamit Vana kemudian buru-buru melangkah dari sana dengan minuman dingin yang digenggam di tangannya.
Elsa tersenyum smirk, menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh, sedangkan Saga sudah meleguk setengah minuman itu.
Di sana, diam-diam Vana membuang minuman itu ke tempat sampah. Sejujurnya dia takut kalau-kalau minuman itu dikasih campuran berbahaya.
__ADS_1
Setelahnya, wanita itu menuju kantin, beli sendiri lebih aman, pikirnya.
Bersambung ....