
***
Seketika Tisya mengatupkan mulutnya rapat, menatap intens wajah puppy eyes Vana yang menatapnya dengan penuh harap.
“Gimana?” tanya wanita itu, menaik turunkan alisnya.
“Maaf, saya nggak bisa.”
Vana terdiam, kemudian berkata, “Nggak lama, kok. Seminggu doang. Please ....”
“Nggak bisa, Va. Maaf. Tapi kalo kamu mau minta bantuan lain, aku siap, kok.”
“Ck! Yaudah, deh! Aku juga nggak bisa maksain kamu.” Pasrah Vana akhirnya.
Walaupun mereka terbilang mirip, tetapi jika dilihat lebih teliti, ada banyak perbedaan dari keduanya. Mulai dari bentuk mata, warna rambut, walaupun perbedaannya samar, bahkan senyumnya pun berbeda. Ditambah Vana mempunyai dua lesung di pipinya, sedangkan Tisya tidak.
MK dilihat hanya dengan sekilas saja, memang mereka sangat mirip. Mirip sekali.
Vana tampak berpikir sejenak. Rasanya, dia ingin segera kembali ke apartemen, karena terlalu segan dengan Tisya yang sudah banyak sekali dia repotkan.
Entah kenapa tiba-tiba pikirannya teringat kepada Saga. Padahal tadi dia berniat untuk berdiam diri di rumah Tisya untuk beberapa lama.
***
Saat ini, Saga, Ryn, beserta Ega tengah berada di sebuah kompleks, berkeliling tak jelas demi mendapatkan kabar tentang keberadaan Vana.
Setelah setengah pingsan Saga membujuk Elsa agar tidak ikut, akhirnya gadis itu mau juga menurut. Terlalu lelah untuk memaksa.
Sedari tadi ketiga orang yang mengendarai motor dan sebuah mobil itu tak ada habis-habisnya, berkeliling dari kompleks A ke kompleks B dan begitu seterusnya.
Tadinya mereka sudah memencar, tetapi bertemu di satu titik kompleks pertanda bahwa mereka benar-benar sudah mengellingi setiap gang di sana.
Sekarang, mereka sudah berada di bahu jalan, tampak berbicara serius memikirkan ide lain untuk mencari Vana.
__ADS_1
“Udah dua jam loh, kita keliling kompleks, bentar lagi anak-anak juga udah pada pulang. Apa kita nggak usah balik ke sekolah lagi?” tanya Ega yang sudah risau dengan kondisinya. Dia itu anggota OSIS, masa bolos? Mau dikemanakan reputasinya?
“Ga, pokonya lo harus tanggung jawab, kalo ssmpek Ega kena masalah,” ungkap Ryn asal, mengarahkan jari telunjuknya ke arah Saga yang terduduk lesu di trotoar.
“Enak aja lo, biji salak! Gua nggak nyuruh lo buat ajak dia, kok. Lo yang harus tanggung jawab, ya kali!” balas pria itu lebih jutek.
“Udah. Itu nggak usah dipikirin! Yang penting sekarang Vana ketemu.” Ega menimpali, terlalu malas untuk berdebat.
‘Tau ah, ini si mertua dari tadi nelepon mulu, dah!’ kesal Saga dalam hati, seraya menggenggam ponsel dengan sebelah tangannya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Saga baru saja memasuki apartemen-nya dengan lesu. Pencarian Vana setengah hari, berujung nihil.
Benar-benar merusak mood.
“Va, lo di mana, sih? Nggak ingat pulang apa? Lo nggak kangen sama gue? Gue aja kangen banget sama lo, Va,” gumam pria itu mendudukkan dengan malas tubuhnya di atas kasur.
“Sumpah, Va. Ini bukan boongan, tapi real. Gue kangen banget sama lo. Kangen ocehan lo, kangen wajah datar lo. Gue bisa gila!”
Pria itu melemparkan sebuah benda berat yang berukuran kecil ke arah kaca yang berada di lemari bajunya.
“Ck! Ahk ... sial!” teriaknya, menangkupkan wajah dengan kedua tangannya.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu apartemen yang membuat pria itu mendengkus malas. Walau dengan berat hati, tetapi ia paksakan juga tubuhnya untuk menghampiri orang yang berada di sana.
“Ganggu banget, sih?”
Cklek!
“Iya, cari sia—”
__ADS_1
“Pa?”
Tercengang, melihat keberadaan seseorang yang sedari tadi ia rindukan, katanya. Pria itu menampar wajahnya, memastikan ini bukanlah sebuah mimpi. Sakit!
Mulai menelusuri penampilan sosok di hadapannya yang sangat ia kenal betul itu siapa. Melihat senyuman indah orang itu, sungguh membuat lelahnya hilang seketika.
“Va, ini beneran lo? Astrea, lo ke mana aja?” Tanpa permisi dia menarik lengan orang yang diduga adalah Vana itu, membawanya ke ruang TV dan mendudukkan wanita itu di sana.
“Lo ke mana aja, Va? Nyusahin gue mulu, dah! Ini kenapa wajah lo lebam-lebam gini? Tawuran lo?!”
“Kepo!” desis Vana, tak memperdulikan wajah tengah suaminya.
“Lo beneran nggak papa ‘kan?” Saga bertanya sekali lagi.
“Nggak papa, pala lo! Nggak lihat wajah gue udah bonyok?!” kesal Vana melipatkan tangannya di dada.
Grep!
Refleks pria itu menarik tubuh Vana, menenggelamkan wajah wanita itu di dada bidangnya.
“Maafin gue, Va. Gue nggak bisa jaga lo, kaya baju di toko,” gumam Saga mengelus singkat puncak kepala istirnya.
“Apa, sih?! Nggak jelas banget!” Baiklah, Vana benar-benar kesal sekarang.
“Buset, Va. Lo ngilang sehari malah makin galak! Jangan gitu lah, lo pikir kehilangan lo itu enak apa?!”
Vana mengatupakan bibirnya rapat, tak percaya dengan ucapan Saga yang hanya seperti sampah baginya. Tak penting! Palingan itu hanya pencitraan.
“Bodo! Awas! Gue mau istirahat!”
“Lo tidur di kamar gue aja. Biar lo nggak ilang lagi. Sebenarnya bukan khawatir, sih ... ya gue males aja cari-cari lo keliling komplek, tapi kalo nggak gue cariin segan sama mertua!”
Emang dasar, Saga. Mati kegengsian. Udah dalam kondisi gitu masih aja gengsi. Tahu rasa, Vana hilang beneran.
__ADS_1
Bersambung ....