PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 28


__ADS_3

***


Jam menunjukkan pukul 02.00. Di dalam sebuah kamar salah satu apartemen, terdapat dua pasutri yang masih terlelap damai di atas ranjang yang empuk.


Tidak. Bukan keduanya, tetapi salah satunya. Vana membuka mata perlahan, gelap yang ia rasakan kala lampu kamar itu hanya diterangi oleh lampu tidur yang remang.


Dia merasakan sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, hingga tanpa sadar ternyata ia sedang tertidur seranjang dengan Saga. Gawat!


Menoleh, wanita itu langsung melihat wajah damai Saga yang terlelap dengan dengkuran halus yang terlontar dari mulutnya.


“Ganteng,” gumam wanita itu tak sadar, seraya menyunggingkan senyuman kecil.


Satu tangan terulur, mengusap perlahan rambut halus Saga yang acak-acakan. Baru kali ini dia sedekat ini dengan Saga. Tubuh mereka hanya berjarak beberapa centi satu sama lain.


Kruyuk, kruyuk!


Lapar! Vana meringis, memegangi perutnya yang terasa perih. Apa penyakit lambungnya sedang kumat?


“Laper, ih! Mana di sini nggak ada makanan lagi! Mau masak, males banget ... Ya Allah.” Gemas yang ia rasakan. Mana badannya sakit semua, susah untuk bergerak. Sial!


Susah payah wanita itu mencoba beranjak dari kasur dengan perlahan, takut Saga akan terbangun. Terpaksa! Kalau tidak karena memikirkan lambungnya, dia tidak akan mau tengah malam begini memasak. Ada sedikit rasa takut juga, sih, sebenarnya.


Gontai ia berjalan ke arah dapur, kemudian menduduki salah satu kursi makan dan menatap alat-alat masak yang harus ia geluti.


Di sisi lain, Saga yang sedikit terusik oleh gerakan Vana pun terpaksa membuka matanya, mendapati samping ranjangnya sudah kosong.


Pria itu melenguh pelan, menyesuaikan netranya dengan cahaya lampu yang dihidupkan oleh Vana.


Buru-buru ia beranjak dari atas kasur dan melangkah ke arah dapur, langsung mendapati sosok wanita yang duduk membelakanginya.


“Ah ... hantu!” teriaknya menutup wajah.


“Hantu? Mana hantu? Ah ...!” Vana malah menyahut, tak sadar bahwa dialah yang dimaksud hantu.


“Eh, elo ternyata, Vancung! Gue kira hantu,” ujar Saga tiba-tiba, karena melihat rambut Vana yang tergerai panjang, sedikit berantakan.


“Ish, apa, sih! Lo nggak kasian, sama gue yang kesusahan gerak? Malah ditakut-takutin!” kesal Vana, mendudukkan kembali tubuhnya di kursi.


“Ya, gue kira lo hantu! Lagian lo mau ngapain, sih, di dapur jam segini? Mau maling, lo?” tuduh Saga asal.


“Mau main futsal gue! Ya mau masak lah, mau dimakan! Gitu aja nggak paham.”


“Lo duduk aja di situ, istirahat! Biar gue yang masak.”


Seulas senyuman singkat terbit di wajah wanita itu. Saga yang menyadari Vana tersenyum pun langsung berkata, “Nggak usah geer, gue cuman nggak mau aja jadi suami durhaka, karena biarin lo masak sendiri.”

__ADS_1


Lucnut!


Saga mulai berkutat dengan alat masak dan beberapa bahan masakan mentah yang akan diolah. Pria itu tampak telaten sekali menggerakkan satu demi satu alat-alat masak, membuat Vana tak teralih sama sekali dari pemandangan langka itu.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, akhirnya omelet sederhana ala Saga pun telah tersaji di atas meja.


Pria itu menaruh nasi di atas piring, kemudian memberikannya pada Vana yang sedari tadi hanya diam.


“Nih, makan! Spesial buat lo.”


Tahan, Va. Jangan geer. Tarik napas ... buang. Huft ... Alhamdulillah, tetap geer.


“Tapi ini nggak gratis, ya. Enak aja! Udah gue capek-capek masak tengah malam gini, masa lo tinggal menimati,” ungkap Saga tiba-tiba, membuat Vana menghentikan aktivitasnya.


“Mau dibayar berapa lo?” tanya wanita itu, kembali fokus kepada makanannya.


“Gue nggak mau dibayar pake uang. Uang lo cuman seujung kuku gue, jangan songong. Gue cuma ....” Sengaja Saga menggantungkan ucapannya.


“Apa?”


“Yaudah kali, lo makan dulu, nggak usah dipikirin.”


‘Nggak jelas. Udah dia yang songong!’


Lima menit kemudian ....


“Oke. Nanti permintaan gue juga double.” Saga mengambil piring itu, lalu membersihkannya di wastaf. Tak lupa senyuman jahil terbit di wajahnya.


“Serah!”


Selesai mencuci piring, lekas pria itu menatap dalam Vana, hingga membuat si wanita mengernyitkan alisnya bingung.


“Apa?” Vana bertanya, menjauhkan tubuhnya, agar tidak kelepasan. Pasalnya, Saga ini meresahkan sekali.


“Lo nggak mau tidur?” tanya Saga setengah berbisik. Suaranya sexy.


Vana mengangguk, gugup. Mencengkram kursi yang tengah ia duduki, seketika berteriak kencang, kala Saga menggendong tubuh mungilnya.


Mematikan lampu dapur, pria itu berjalan perlahan ke arah kamar, dengan tatapan manja yang sedari tadi menikmati wajah takut Vana.


Bruk!


Ia menjatuhkan tubuh Vana di atas kasur, kemudian men*ndih tubuh mungil yang tak sesuai yang tertutupi dengan tubuh kekarnya.


“L–l–lo mau ngapain?” tanya wanita itu dengan suara yang bergetar. Takut. Ini belum saatnya Saga menikmati tubuhnya.

__ADS_1


“Gue cuman mau ambil hak gue, Va. Lo tahu nggak? Lo itu sampah! Gue benci sama lo!”


“G–g–gue lebih benci sama lo, yang lebih dari sampah.


Bukannya marah, justru pria itu malah menertawakan kegugupan Vana. Sial! Vana tertipu. Masih dengan tergelak Saga menjauhkan tubuhnya dari tubuh Vana, hingga hampir saja dia terjatuh dari atas kasur.


‘Mampus! Gue bakal balas lo, Sagon!’ seringai Vana dalam hati. Saga not have akhlak. Udah bikin jantung Vana mau copot, malah digantung.


“Emang lo udah pengen banget ya, gue cuil-cuil?”


Saat itu juga Saga berhasil terjerembab di lantai, karena tendangan extra dari Vana.


“Buset, Va. Lo pikir gue samsak?”


***


Pagi hari, Vana sudah darah tinggi, saat dia bangun tidak tepat pada waktu biasanya. Itu juga karena ulah Saga tadi malam. Jadinya Vana tidak tidur, karena kesal.


Jadi tadi malam Saga minta diurut, karena terjerembab di lantai. Alasan aja, sih, itu sebanarnya, biar dia bisa uwwu-uwwuan sama Vana.


Buru-buru wanita itu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Gagal saat satu tangan kekar menahan pergelangan tangannya.


Vana berbalik, mendapati Saga yang sudah terduduk di atas ranjang dengan wajah kusut khas bangun tidur.


“Apaan, sih! Awas! Gue mau mandi, Sagon. Lo nggak lihat, ini jam berapa?”


“Gue mandiin.”


“Gila lo, curut! Lo pikir gue kambing? Domba? lembu? Yang harus di mandii—”


“Bidadari.”


Seketika Vana langsung mengatupkan mulutnya rapat. Mengalihkan wajahnya agar Saga tidak melihat ronaan di pipi.


Pria itu beranjak, tersenyum singkat ke arah Vana, menyandarkan wanita itu ke tembok kamar.


“Ck! Pokonya gue nggak baper. Muak gue!” cicit Vana, tanpa memperdulikan Saga yang semakin dekat dengannya.


Shock, ketika tubunya sudah menempel sempurna dengan tubuh Saga. Terpaku, bingung harus apa. Di sisi lain, dia sangat panik.


“Kok lo bau jigong, sih, Vancung?”


“Bangsat! Lo yang mau jigong!”


Untuk yang kedua kalinya, Saga terjerembab di lantai. Kali ini disebabkan oleh dorongan Vana yang seperti hulk.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2