
***
7 bulan berlalu ....
Saat ini, seluruh siswa-siswi kelas 12 SMA Andara tengah menjalankan masa-masa Ujian Nasional, atau UN. Di mana nantinya nilai itu akan menjadi penentu kelulusan mereka dan menjadi syarat layak memasuki perguruan tinggi.
Termasuk Vana dan Ryn yang masuk jadwal siang, sedangkan Saga beserta jajaran mendapatkan jadwal sore.
Saat ini, Vana dan Ryn tengah menunggu giliran mereka di koridor, sedangkan di dalam sana Dira si pintar tengah memperjuangkan nilai akhirnya.
Hari ini adalah hari terakhir ujian, tentu saja mereka grogi, berharap mendapatkan nilai yang memuaskan. Beda lagi dengan Saga yang santuyy, bahkan selama masa-masa ujian tak pernah membuka buku. Yang ia kerjakan hanya menjahili istrinya yang tengah belajar.
“Ryn, sumpah. Gue takut mau nerima nilai,” ujar Vana menutup buku yang semula ia baca dengan kasar.
“Santuy aja, Va. Nerima nilai masih minggu depan. Sekarang kita berjuang aja dulu di dalam sana,” tunjuk Ryn me arah ruang ujian yang menurut Vana menyeramkan.
“Lo mah, sama aja kaya Saga. Nggak ada maju-majunya. Heran, deh, gue sama Ega yang mau sama lo!” Vana lucnut memang.
“Lo mah, sama aja kaya Ega, belajar mulu. Heran, deh, gue sama Saga yang mau sama lo!” balas Ryn tak kalah pedasnya, langsung dibalas tatapan tajam dari Vana.
“Ck! Nggak ada yang bisa nolak kecantikan gue,” kata wanita itu pede, menyibakkan rambutnya ke belakang.
“Kepedean lo! Ini nih, kebanyakan bergaul sama Saga lo, makanya ketularan sifat kepedeannya dia yang melebihi batas wajar. Lo harus gue jauhin dari dia! Harus! Bahaya lo, bergaul sama dia.”
“Lo gila, Ryn? Ya kali gue nggak bergaul sama dia, laki gue! Makanya lo nikah sono, jangan pacaran mulu!”
Untungnya tidak ada orang di koridor itu selain mereka berdua. Biasanya Vana itu memang suka keceplosan berbicara, seperti tadi. Kalau ada yang dengar kan bahaya.
Bisa rusak reputasinya jadi cewek kalem dan anti fakboy. Kan nggak lucu jika orang-orang tahu dia menikah dengan fakboy kuadrat seperti Saga.
***
Malam ini adalah malam pelepasan kelas XII pada angkatan tahun ini, sekaligus pelepasan jabatan OSIS. Juga memeriahkan acara dengan pesta kecil-kecilan.
Setelah hari ini menjadi waktu terakhir bagi seluruh kelas XII berada di ruangan resmi Andara dan malam ini menjadi waktu terakhir mereka berdiri di lapangan luas yang dulunya asing, kini berat rasanya untuk ditinggalkan.
“Good luck untuk seluruh kelas dua belas, semoga hasil dari apa yang kalian perjuangkan selama beberapa bulan ini tidak mengecewakan. Bapak berharap kalian semua bisa lulus dan diterima dengan layak di universitas mana pun.”
__ADS_1
Suara riuh tepuk tangan para murid yang berdiri rapi di lapangan, seperti menggambarkan kekecewaan di tengah kebahagiaan.
Mereka berharap ingin berada di Andara lebih lama lagi, bukan hanya orang pintar dan terpandang saja, tetapi murid badung dan nakal pun rasanya enggan untuk pergi dari sana.
Sudah saatnya mereka melepaskan seragam putih abu-abu yang selama tiga tahun ini menemani mereka berangkat ke sekolah setiap pagi.
Semua itu akan digantikan dengan almamater jurusan mereka masing-masing kelak di universitas, demi menggapai cita-cita yang sebenarnya.
Dira beserta jajaran OSIS berdiri di depan, sedih melepaskan jabatan mereka dan akan digantikan dengan jajaran baru, sedangkan yang mereka bawa hanya kenangan. Suka dan duka.
“Baiklah, kita akan memasuki acara pelepasan jabatan OSIS tahun ini, yang dipimpin oleh Dira, semoga jajaran OSIS periode berikutnya benar-benar mampu menggantikan posisi mereka yang selama ini bekerja dengan sangat baik.”
Satu per satu rompi yang dikenakan oleh para jajaran OSIS di depan, dilepaskan secara resmi dari pemiliknya. Tanda bahwa jabatan itu sudah terlepas dari tanggung jawab mereka.
Sedih rasanya, jika Vana yang berada di posisi itu. Bukannya dia menyesal telah melepaskan jabatan OSIS-nya dulu, hanya saja dia membayangkan ketika dia berdiri di posisi Dira, pasti dia akan menangis tak rela.
Tiba-tiba, tangannya digenggam oleh seseorang, membuat wanita itu terlonjak, refleks menghentakkan tangannya, gagal saat melihat si pelaku.
“Ih, kamu ngapain di sini?” tanyanya pada Saga yang dengan asal keluar dari barisan kelasnya dan malah menghampiri barisan kelas Vana.
“Dingin. Pengen genggam tangan kamu. Kan gini jadi anget,” rayu pria itu tersenyum jahil, seraya menaik turunkan alisnya.
Bohong. Sebenarnya Saga tahu apa yang ada di pikiran Vana, itu sebabnya dia mendekat dan berniat menguatkan wanita itu dengan cara menggenggam tangannya.
Bonus bisa romantisan di bawah terangnya bulan, sekaligus di bawah kerlap-kerlip lampu pesta yang di susun dari satu pohon, ke pohon yang lainnya.
“Kamu nggak kedinginan, Va? Ini dingin banget tahu nggak, sih?” ucapnya sengaja merapatkan tubuhnya dengan Vana.
“Nggak! Kamu aja yang lebay! Mana ada dingin!” tukas wanita itu, tetapi ia biarkan tangan kekar Saga melingkar di perutnya.
Untungnya mereka berdiri di barisan paling belakang, jadi tak perlu membuat para jomblo abadi merasa iri, ataupun terganggu. Tidak berlebihan, kok, cuma gandengan doang.
Acara resmi telah selesai. Kini waktunya acara perayaan yang dimeriahkan dengan penampilan-penampilan para murid berbakat, terutama Saga and the geng, yang hanya menonton maksudnya. Mereka mana ada bakat. Tak berguna!
Dimulai dari pertunjukan drama pantomim, walaupun pemainnya tidak didandani seperti badut pada umumnya. Itu sangat menyeramkan dan Vana tidak menyukainya.
Dia pernah melihat pertunjukan pantomim dengan Gibran ketika SMP dan malah menangis teriak histeris melihat dandan badut yang padahal lucu, berakhir terbaring di rumah sakit karena trauma.
__ADS_1
“Keren banget!” teriaknya menyemangati para pemain pantomim itu, langsung disuguhi tatapan tajam dari Saga yang duduk disampingnya.
“Nggak usah teriak-teriak gitu! Aku cemburu!”
Seketika Vana mengatupkan mulutnya rapat. Dia sudah terbiasa mendengar itu dan mendapatkan gombalan dari suaminya, tapi entah kenapa rasanya tetap saja baper.
Tak menyangka, Saga beserta jajaran sudah berada di atas panggung, berdiri di depan alat musik, sedangkan Saga siap dengan mic.
“Va, itu laki lo, lagi nggak mau ngancurin panggung ‘kan?” tanya Ryn takut-takut, melihat raut wajah Vana yang shock.
“Gue nggak tahu, Ryn.” Vana menggeleng, takut Saga malu-maluin. Dia tidak tahu kalo Saga itu vokalis limited edition yang tingkat kepedeannya sudah mendarah daging.
Treng, treng ....
Azka mulai memetikkan senar gitarnya, diikuti oleh Vino, Bayu dan Dika yang memegang alat musik mereka masing-masing.
Melihat tawamu mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu
Menatap langkahmu meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah 'ku miliki
Sifatmu nan selalu redakan ambisiku
Tepikan khilafku dari bunga yang layu
Saat kau di sisiku, kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu anugerah terindah yang pernah 'ku miliki
Saga menyanyikan lagu Anugerah terindah yang dipopulerkan oleh Sheila on 7. Sepanjang lagu dia hanya menatap ke arah Vana yang menutup wajahnya malu.
Ternyata suara Saga ... nggak enak!
Enggak, enggak. Suaranya Saga itu cool banget, loh. Sampek-sampek Vana menutup telinganya rapat-rapat.
__ADS_1
Bersambung ....