PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 22


__ADS_3

***


Suasana sarapan pagi yang hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Baik Saga, maupun Vana enggan untuk mengawali pembicaraan.


Sebenarnya Saga tak tahan. Dia ingin membuka pembicaraan terlebih dahulu, tetapi urung saat sisa-sisa gengsi masih terselubung di hati.


‘Ntar dia kegeeran lagi, mentang-mentang gue ngomong duluan. Bisa rusak reputasi gue jadi cogan tergengsi,’ batin pria itu, memicingkan matanya menyelidik.


Pura-pura dia berjalan ke wastafel, hingga harus berlalu dari samping kursi yang di mana Vana tengah duduk meneguk jus jeruknya.


“Ambilin piring gue, dong! Biar gue cuci sini!” perintahnya, melirik sekilas ke arah Vana yang tersenyum manis, sedikit jahil.


Wanita itu mengumpulkan semua piring kotor yang berada di atas meja, kemudian memberikannya pada Saga dengan sukarela.


“Sekalian cuciin semua, ya! Makasih.”


Setelahnya, Vana berlalu. Meninggalkan Saga dengan tumpukan piring kotor, serta wajah kaku bin datar, yang menyiratkan penyesalan.


“Bangssat!” umpat pria itu pelan, men-double huruf ‘s’. Jangan lupakan wajahnya yang sudah memerah menahan sesuatu.


Padahal tadi dia berharap akan mencuci piring itu berdua dengan Vana, tetapi malah gagal dan berujung miris.


***


Hari Minggu itu pasti identik dengan kemalasan, kebosanan dan kegabutan yang tak ada bandingnya dengan hari-hari lain. Apalagi jika dipadukan dengan keadaan palang merah. Damage-nya melebihi apa pun.


Sama halnya seperti Vana yang sedari tadi berguling-guling tak jelas di atas kasur, hingga tak jarang terjerembab di lantai, akibat terlalu lasak.


Di atas nakas sudah tersedia beberapa camilan dan aneka buah-buahan, serta susu kotak favoritnya. Jika tidak dalam keadaan seperti ini, pasti wanita itu sudah menghabiskan semuanya.


“Aduh ... bosen, ih! Tolong!” teriaknya menenggelamkan wajah di bantal.


Dia ingin sekali seperti teman-temannya yang pergi have fun bersama pacar mereka. Apalah daya. Dia tidak memiliki pacar, malah mempunyai suami tak berakhlak.


Berharap Saga akan mengajaknya jalan, tetapi itu adalah suatu kemustahilan, karena pria itu pasti akan pergi bersama kekasihnya. Menyebalkan!


Cklek!


Pintu kamar Vana terbuka, menampilkan sosok Saga yang sudah rapi dengan style-nya yang yang menakjubkan. Dua kata.

__ADS_1


Mirip kudanil. Pftt! Eh. Maksudnya tampan.


“Apa?” tanya wanita itu, setelah berdiri tepat di hadapan suaminya.


“Gue mau keluar, nggak tahu kapan mau balik,” jawab Saga santai, menatap manik mata Vana tak berekspresi.


“Terus? Urusannya sama aku apa? Yaudah sana, gih! Nggak penting!”


Brak!


Membanting pintu itu kasar, mengabaikan Saga yang dahinya kepentok. Biarkan saja. Dia tidak peduli. Semoga saja otaknya bergeser.


Sepersekian detik kemudian, Saga pun berjalan menjauhi kamar itu dan memasuki lift. Jelas dia keluar apartemen lah, emang ke mana lagi?


***


Di sebuah mall besar, terdapat keberadaan beberapa anak remaja yang tengah nongkrong di caffe, ditemani oleh cappucino dan beberapa camilan di sana.


Mereka adalah Dira dan geng, beserta Ryn yang notabennya adalah pacar Ega.


“Sekarang Vana susah banget diajak nongkrong. Pasti selalu ada alasan ‘pergi bareng papa’.” Alfin membuka suara, setelah sebelumnya mereka terdiam sebentar.


Ryn hanya diam saja menyimak. Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya, tetapi urung saat mengingat perasaan khusus Dira kepada wanita itu.


Biarkan saja waktu yang menjawab. Sedikitnya dia berharap, semoga tidak ada hati yang terluka kelak. Kelak. Di saat dunia berkata yang sesungguhnya.


“Menurut lo gimana, Bos? Gua rasa, sih ... dia emang sengaja ngehin—”


“Dia emang punya urusan sama keluarganya, kok,” jawab Dira cepat, memotong ucapan Alfin. Dia tidak mau membahas Vana sekarang.


Mungkin, ungkapan Saga di fun fair beberapa hari lalu sudah cukup membuktikan arti hubungan mereka. Jadi tidak perlu dipertanyakan lagi.


‘Dia tidak mencintaimu, dia mencintai orang lain.’


Kira-kira begitulah kata-kata yang selalu menggerayangi pikirannya akhir-akhir ini. Hal itu membuatnya harus mundur teratur, sebelum sakit ia dapatkan. Miris.


***


Meanhwhile Saga.

__ADS_1


Pria itu sudah berada di depan sebuah rumah megah yang di mana seorang gadis sudah menunggunya di sana.


Buru-buru Elsa berlari kecil mendekati mobil Saga, kemudian memasuki mobil itu dan mereka pun melaju dengan santai, di tengah rintikan gerimis sisa-sisa tadi pagi.


“Kok, kamu lama banget, sih?!” tanya gadis itu kesal, seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Kan, janjinya jam sepuluh! Ini udah lewat sepuluh menit, Yang ... ih! Kesel!” sambungnya melipatkan tangan di dada.


“Telat sepuluh menit doang,” bela Saga, masih fokus pada jalan yang dilintasinya.


“Kalo telat, ya, telat aja! Kamu pikir nunggu sepuluh menit itu nggak lama? Lihat, tuh! Rambut aku sampe berantakan, kamu lama banget!”


“Kok, bawel, sih? Yaudah, kan sekarang aku ada di sini. Kan sayang, kalo kita nggak seru-seruan. Masa kamu ngambek gitu? Sorry.”


Satu tangan kekar Saga terulur, mengacak gemas puncak kepala Elsa, membuat si empu meringis kesal, lagi-lagi rambutnya berantakan.


***


Sekarang Vana hanya sendirian di apartetemen. Sedari tadi, wanita itu asik ke sana ke mari, mondar-mandir, hingga berakhir di ruang TV dengan aesthetic.


Menonton drakor, wanita itu berdecak kesal. Film itu sudah beberapa kali tayang dan dia selalu melihatnya.


Tak apa, yang penting dia tidak kesunyian dan sedikit rileks, karena melihat cogan yang sedang tayang di sana.


Tok, tok, tok!


Suara ketukan pintu apartemen. Mengganggu! Berdecak, dengan terpaksa wanita itu membuka pintu, sontak terkejut melihat seseorang berpenampilan serba hitam, tengah berdiri membelakanginya.


“Mau cari siapa, ya?” tanyanya, memberanikan diri, tetapi sudah siap siaga memegang pintu, kalau-kalau orang itu ingin menjahatinya.


“Cari kamu.”


Grep!


Orang itu dengan cepat menarik tengkuk Vana, kemudian membekap mulut wanita itu dengan sehelai tissu yang sudah diberi obat bius.


Berakhir Vana menutup mata tak sadarkan diri, kemudian digendong seperti karung beras oleh orang itu.


Dia membawa Vana menuruni anak tangga yang berada di belakang apartemen yang langsung berujung di pintu utama bagian belakang. Cocok untuk menyusup.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2