
\*\*\*
Vana mengerutkan alis, bingung apa maksud Saga memasuki kamarnya dengan pernyataan aneh yang bisa didefinisikan sebagai mengintrogasi.
“Kamu mau apa?” Akhirnya Vana bertanya mengikuti langkah Saga yang berkeliling di dalam kamarnya itu. Apa Saga sedang kerasukan?
“Mau mastiin, kalo lo nggak ngotorin kamar apartemen gue,” jawab Saga santai. Setelahnya, pria itu berlalu dari hadapan Vana mendekati kamar mandi dan memasukinya.
“Lo duduk aja di situ, nggak usah ngikutin gue!” sambung Saga memerintahkan.
Vana menurut saja. Sebelumnya dia berniat untuk berendam di bath tub setelah membaringkan sejenak tubuhnya, tetapi gagal seketika karena ulah tak jelas Saga.
“Gue laper. Masakin gue makanan!” ucap Saga tiba-tiba setelah dia keluar dari dalam kamar mandi, sedangkan Vana masih berdiam diri di atas kasur.
Wanita itu mengangguk, berjalan keluar dari kamar itu dan berjalan ke arah dapur, guna membuatkan makanan untuk Saga.
Sepuluh menit Vana berkutat dengan alat dapurnya, tak lama kemudian masakan sederhanapun telah selesai. Hanya mie goreng dengan suwiran ayam.
“Udah jadi,” gumam wanita itu meletakkannya ke atas meja makan.
Menatap sejenak Saga yang masih diam, belum bergerak untuk makan, Vana pun berniat mengambilkannya untuk sang suami.
“Gue udah kenyang,” ujar pria itu datar, tanpa rasa berdosa sedikitpun. Tenang, seraya melipatkan tangannya di atas meja.
__ADS_1
Vana membulatkan mata, menunduk menatap makanan yang baru saja dimasaknya.
Tiba-tiba Saga menarik pergelangan tangannya, membuat wanita itu kaget, sontak melepaskan cekalan itu, tetapi Saga malah menatapnya tajam.
“Masakan itu buat lo. Gue tahu lo belom makan. Kalo tadi gue bilang itu masakannya buat lo, pasti lo bakalan bilang ‘nanti belom lapar’. Sini!”
Akhirnya, Vana mengekori Saga yang sudah membawa makanannya ke ruang TV. Dia mendudukkan tubuh di sofa, lalu menyodorkan sendok berisi nasi ke arah Vana.
“Ha?”
“Makan!”
***
Salah satu dari mereka adalah Saga. Saga memang suka bersepeda. Bahkan, dia kerap mengikuti ajang perlombaan balap sepeda yang dilaksanakan di sekolahnya. Mulai dari SD, hingga SMP.
Saga menambah laju sepedanya, melewati teman-temannya yang masih santai di belakang. Sementara, dia yang tak melihat ada tikungan, membelokkan sepedanya paksa, hingga akhirnya menabrak tubuh seseorang di sana.
Bruak!
“Awh ...!” ringis seseorang yang tertabrak. Saga yang sudah tergeletak di aspal seketika melupakan rasa sakitnya, kala melihat siapa orang yang mengaduh di sampingnya.
“Lo? Ya ampun, kok lo sih, yang ketabrak?! Ada-ada aja dah!” damprat pria itu mendekati Vana dengan sikut berdarahnya.
__ADS_1
Refleks, Saga meniup-niup luka kecil itu, kemudian tanpa berpikir panjang menggendong Vana menuju apart, karema tidak seberapa jauh lagi memang.
Sesampainya di apartemen, buru-buru Saga menaiki lift menuju lantai dua, memasuki salah satu kamar yang berada di sana.
Saga mengambil kotak P3K dari laci nakas, lalu mendudukkan tubhuhnya di kasur, tepat di samping Vana yang masih meringis.
Tanpa berpikir panjang, pria itu pun langsung membersihkan luka dengan antiseptik, mengoleskan obat luka, kemudian dibaluti dengan perban kecil. Tak jarang, dia meniupnya karena itu pasti sangat pedih sekali.
“Lo mau ke mana, sih?!” tanya si pria kesal, mengeratkan perban di goresan luka itu. Sedangkan Vana, sedari tadi dia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Degupan jantungpun sudah berpacu 5 kali lebih cepat dari biasanya. Saga peduli padanya? Benarkah?
“Itu ... tadi mau ke supermarket mau belanja keperluan dapur,” jawab Vana ragu. Tatapan Saga benar-benar mematikan.
“Gue benci sama lo, Va. Udah nyusahin mulu, idup lagi!”
Pria itu berdiri dari duduknya menyimpan asal kotak P3K yang sebelumnya berada di tangan. Melangkah keluar dari kamar itu, seraya bergumam kecil melanjutkan kalimatnya.
“Tapi gue sayang.”
Bersambung ....
Sesuai janji|•
Sorry for typo|•
__ADS_1