PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 32


__ADS_3

***


Suasana apartemen yang sunyi, Saga dan Vana baru saja sampai di apartemen mereka setelah cukup lama berkeliling di Indomarket.


Melemparkan asal kemeja putihnya, pria itu membanting tubuh di atas kasur, lelah yang ia rasakan setelah menghabiskan waktu lama membawa barang-barang milik Vana yang sedikit berat.


Memejamkan mata sesaat, membiarkan waktu terus berputar, yang penting dia harus istirahat untuk saat ini.


Entah kenapa mulai dari tadi pagi banyak sekali hal-hal aneh yang dilakukan Saga kepada istrinya. Yang biasanya tak pernah ia lakukan pun kerap terjadi membuat Vana menggeleng takjub.


Bingung, tetapi ia mencoba terlihat biasa saja saat menyadari bahwa Saga memang seperti itu. Berlaku manis hanya angin-anginan. Maksudnya sesuai mood.


Di sisi lain, Vana yang tengah membereskan belanjaannya pun terhenti kala merasakan seseorang mengintip dari jendela dapur yang tak tertutup. Terlihat dari sudut matanya.


Sedikitnya wanita itu berpikir bahwa itu adalah Saga, tetapi perasaannya mulai menyangkal, saat orang itu tak tampak lagi di sana.


Mana mungkin itu Saga. Untuk apa pria itu mengintip dari luar jendela? Sedangkan dia bisa masuk ke apartemen itu kapan saja.


“Ck! Kenapa tiba-tiba perasaan aku nggak enak gini, ya. Kek ngerasain hawa-hawa panas gitu,” gumam wanita itu, buru-buru menyelesaikan kegiatannya.


Setelahnya, dia berjalan dengan langkah cepat memasuki kamar, langsung mendapati Saga yang tengah tergeletak aestethic di atas kasur.


“Dasar, kebo! Belom juga buka sepatu, udah enak-enaknya tidur.”


Tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk membukakan sepatu pria itu, kemudian menjauhkan kemeja yang sebelumnya dilemparkan asal oleh pemiliknya.


“Kenapa, sih, gue harus berjodoh sama cowok bungkusan Saga? Kek, apa ya gitu?


Setelah itu, Vana berjalan memasuki kamar mandi, melepaskan kemeja putih yang terasa sumuk di tubuhnya.


***


“Lo. Diam dulu di sini, gue bakal culik lagi si jalang itu terlebih dulu, supaya lo dengan mudah bisa masuk ke apartemen itu sebagai Vana. Ingat! Lo nggak boleh jatuh cinta sama Saga. Saga cuman punya gue!”


Elsa menyeringai puas, setelah cukup lama dia meyakinkan Tisya yang semula tak mau bekerja sama dengannya, tapi akhirnya setuju setelah gadis itu mengancamnya.


Dia hanya tidak suka ada orang yang membantah, apalagi merenggut kebahagiannya. Dia hanya mau Saga menjadikannya satu-satunya. Tidak lebih dari itu.


Apa yang sudah menjadi miliknya, jangan sampai diambil oleh orang lain, apalagi sampai hilang dari genggamannya. Begitulah Elsa, yang memiliki sifat egois dan tak mau mengikhlaskan. Padahal belum tentu Saga itu adalah jodohnya kelak.

__ADS_1


Orang yang menjadi objek peringatan itu hanya mengangguk pasrah, dengan tubuh yang masih terikat di atas kursi kayu, tak lupa Gery tetap berdiri di sana mengawasi.


“Tenang, Tisya. Ini nggak berlangsung lama, kok,” cicit gadis itu tersenyum smirk. Menampilkan wajah jahatnya yang sangat kontras sekali.


“Aku pergi dulu, ya. Gery, jangan sampe yang ini kabur lagi.”


“Oghey!”


Elsa berjalan menjauh dari kamar lantai bawah yang berada di rumahnya, setelahnya gadis itu menaiki unduhan anak tangga dan memasuki kamarnya.


***


Drt, drt!


Suara ponsel yang bergetar. Vana yang berada di meja belajar dengan buku-buku di hadapannya sontak menoleh ke arah benda pipih yang tergeletak di atas kasur. Milik Saga.


Mengembuskan napas malas, kembali fokus pada buku-buku di hadapan. Tak lupa handphone yang menampilkan drakor.


Itu gimana ceritanya belajar sambil nonton drakor, Va?


“Agh ... hao.”


“Ehm ....”


[Temenin, ya? Aku tunggu loh, Yang.]


“Hm ....”


[Ck! Dari tadi ‘hm hm’ mulu, ih!]


“Iyaa ...!”


[Yaudah, aku tunggu. Bye!]


Tut, tut!


Sambungan telepon terputus, Saga yang nyawanya masih belum terkumpul sempurna terdiam sejenak, melamun. Kebiasaan orang malas kalo bangun tidur.


“Hoam ... Va, ikut gue, yuk,” ucap pria itu dengan nada malas, menoleh ke arah Vana yang duduk membelakanginya.

__ADS_1


“Males!” pungkas Vana cepat, tak memperdulikan tatapan kesal suaminya.


“Bentar doang, ih! Palingan satu jam. Yang!”


“Ogah! Males gue, jadi obat nyamuk. Palingan lo mau ngapel sama Elsa ‘kan?!”


“Udah, ayo! Va, gue nggak mau lo tinggal sendirian di sini! Gue takut lo diculik!”


Tiba-tiba Vana teringat pada orang misterius yang terus mengawasinya. Saat itu juga wanita itu berdiri, dengan cepat mengangguk menerima tawaran Saga. Tak apa dia menjadi obat nyamuk, asal terbebas dari penculik.


***


Mobil Saga berhenti di depan sebuah mall besar yang berada di pusat kota. Jangan lupakan wajah datar Vana yang sedari tadi hanya diam, sibuk dengan pikirannya.


Satu buah masker terjulur di hadapan Vana, sedangkan si pemberi hanya diam menatap.


“Apa?” tanya wanita itu menaikkan satu alisnya.


“Lo nggak lihat, ini masker? Buta mata lo? Mau tahu fungsinya? Buat dipake!” Jawaban ketus Saga yang sangat menyebalkan.


Menerima dengan kasar masker itu, kemudian memakaikannya di tempat seharusnya. Satu lagi, Saga mengulurkan jaket hoodie biru laut kepada Vana.


“Mau nanya lagi? Ini jaket! Buat nutupin tubuh lo! Pake!”


“Iya, tapi kenapa gue harus pake ini?” tanya Vana mutlak.


“Bawel banget, sih! Nurut aja kek, sekali-kali!”


“Iya, iya!” Terpaksa, Vana menuruti perintah suami lucnut-nya itu, setelahnya dia menatap Saga dengan penuh tanda tanya.


“Elsa belum dateng, gue nggak mau kalo sampe Elsa tahu, kalo gue bawa lo. Ayo masuk, ntar kita pisah meja, tapi tetep lo harus ada di hadapan gue. Gue nggak mau lo kenapa-napa, Va.”


Basi!


Sesampainya mereka di dalam mall itu, mereka pun langsung memasuki salah satu resto dan mengambil dua meja yang berdekatan.


Vana berada di meja sudut membelakangi meja Saga, sedangkan pria itu berada di samping meja Vana, dengan menghadap ke arah Vana. Supaya nanti Elsa tidak curiga, jadi Vana harus memakai jaket itu dengan sempurna, alias menutup bagian kepalanya pula.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2