
***
Sunyinya suasana malam hari ini tetap saja tak bisa menandingi kesunyian yang dilanda seorang wanita yang tengah duduk sendiri di balkon kamarnya.
Sedari tadi wanita itu terus berdiam diri, menghayati sesuatu yang akhir-akhir selalu mengganggu pikirannya.
Memang dia tidak diganggu oleh orang misterius itu lagi, tetapi entah kenapa dia merasa hubungannya dengan Saga akan segera berakhir.
Entahlah, dia juga tidak menginginkan itu sebenarnya. Hanya saja pikirannya memaksa untuk memikirkan hal itu.
Jujur saja, dia tetap mencintai Saga di sini. Perasaanya masih sama seperti satu tahun terakhir saat dia tak sengaja memandang raut tengil Saga yang membela diri saat hendak dihukum.
Kejadian itu membuat Vana tersenyum-senyum sendiri saat mengingatnya. Bodohnya, seharusnya dia tak perlu melakukan itu. Untuk apa dia mengingatnya, sedangkan Saga hanya menganggap itu kejadian sepele dan tak berharga sama sekali.
Itulah yang terjadi saat kita mencintai seseorang. Sesuatu hal yang sepele akan terasa sangat manis, bahkan sulit untuk dilupakan.
Akhir-akhir ini Saga senang sekali membantunya. Hal biasa mungkin, tetapi baru kali ini dia merasa bahwa ada desiran aneh saat Saga menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.
Pria itu kerap membelikannya hadiah spesial, memberikannya suprise, bahkan tak jarang mengajak Vana ber-have fun saat hari Minggu tiba. Padahal sebelumnya itu tidak pernah terjadi.
Sikap manis Saga seminggu terakhir ini membuat Vana bingung. Antara senang dan ragu. Benarkah Saga mencintainya? Atau hanya sekedar pencintraan saja?
Suara derap langkah kaki yang semakin kuat mendekat membuat Vana tersadar dari lamunannya. Wanita itu menoleh dan mendapati Saga yang berdiri di sampingnya.
‘Dari mana dia?’ batin wanita itu bertanya, takut dia mau bertanya langsung.
“Kenapa belum tidur?” tanya Saga dengan nada datarnya, tetapi tatapan hangat yang ia berikan.
Mana mungkin Vana mengatakan, bahwa dirinya telah menunggu pria itu, bisa gawat nanti.
“Aku, belum ngantuk,” jawabnya, pura-pura menyesap teh hijau yang digenggam di dalam gelas.
Saga mengambil teh itu, menggantinya dengan segelas susu.
__ADS_1
“Makanya jangan kebiasaan minum teh malam-malam. Itu bakal buat kamu susah tidur, minum susu!” katanya santai, melirik Vana yang langsung meleguk susu buatannya.
‘Gue nggak mau, Va. Gue nggak mau pisah sama lo.’
“Udah? Yuk, kita tidur!”
Vana hanya mengangguk singkat, berjalan mengikuti langkah Saga memasuki kamar dengan satu tangan yang digenggam oleh pria itu.
Kemudian dia mendudukkan sang istri di tepi ranjang, lalu melepaskan jaket dan sepatunya. Biarlah tak usah mandi. Dingin juga, sudah malam.
Satu kecupan mendarat di dahi Vana, membuat wanita itu membulatkan matanya sempurna. Hampir saja dia terbatuk, terjungkal dan terjerembab karena perbuatan tak terduga suaminya.
***
Pagi harinya, Vana membuka mata dengan berada di dalam pelukan Saga. Hah? Apa-apaan ini?
Buru-buru wanita itu melepaskan tubuhnya dari kedua tangan kekar Saga dan mendudukkan tubuhnya takut.
“Ini Saga nggak ngapa-ngapain gue, ‘kan?” tanya wanita itu entah pada siapa, entah kenapa dia takut sekali. Padahal kalaupun mereka melakukan itu sah-sah saja.
Pagi ini dia tidak berangkat bersama Saga, karena dia masih takut dengan pria itu. Padahal Saga tak melakukan apa-apa padanya.
Dia pergi bersama Agil, tak sengaja bertemu dengan cowok itu ketika dia menunggu taksi tadi.
“Aku rasa, hubungan kamu sama Saga udah membaik, ya?” Agil membuka suara, melirik sekilas ke arah Vana yang fokus menatap ke depan sedari tadi.
“Gitu lah, aku juga nggak tahu Saga akhir-akhir ini sikapnya beda banget sama dulu. Dia nggak kau kasarin aku lagi dan ... ya beda banget pokonya,” jelas Vana santai, msmbiarkan Agil mengetahui itu.
“Itu artinya aku nggak perlu jalanin rencana aku, dong, buat Saga sadar. Kan dia udah sadar.”
Vana menoleh, mengerutkan alisnya bingung.
“Iya, sih, tapi kayanya kamu harus tetap bantu aku. Saga bersikap manis kaya gini bukan berarti hubungan kita udah aman. Kan kamu tahu sendiri si Elsa yang ngebet banget minta aku sama Saga pisah.”
__ADS_1
“Serius?!”
***
“Mana suratnya? Aku mau kasih ke pengadilan,” ujar Elsa mengulurkan tangannya ke arah Saga. Saat ini, kedua orang itu tengah berada di taman belakang SMA Andara.
“Belom.” Hanya itu yang terlontar dari mulut si pria, tapi sukses membuat gadis yang duduk di sampingnya naik pitam.
“Kok, belom, sih?! Kamu emang sengaja nggak mau pisah sama dia, atau apa?!” teriak Elsa berdiri dari duduknya. Menyorot tajam ke arah Saga yang hanya santai bersedekap dada.
“Vana nggak bakalan mau, kalo aku suruh tanda tangan, apalagi kalo dia tahu itu surat apa.”
“Ya, kamu nggak perlu bilang ke dia, kalo itu surat cerai. Suruh tanda tangan aja!”
“Kamu pikir dia nggak bisa baca, ha?! Jangan bego, deh!” Bukan hanya Elsa yang tersulut emosi sekarang, tetapi Saga pun lebih dari itu.
Elsa benar-benar egois. Kenapa dia tak mengikhlaskan saja Saga dengan Vana, jika memang dia mencintai pria itu?
“Ga, kamu ... ck! Aku nggak habis pikir sama kamu. Dulu kamu yang bilang ke aku, kalo kamu bakalan cerai sama dia secepatnya. Tapi apa? Kamu munafik, Ga,” cicit Elsa mulai menjatuhkan buliran-buliran kristal dari kelopak matanya.
“Maaf, Sa kalo aku udah ingkar janji ke kamu, tapi sifat egois kamu perlahan demi perlahan udah mengikis rasa cinta aku ke kamu! Kamu terlalu sibuk dengan perasaan kamu, sampe kamu lupa kalo aku bukan cowok yang bisa dengan mudah kamu miliki.”
Elsa tercenung, menatap dalam manik mata Saga dengan kedua netra yang memerah menahan tangisan yang ingin memuncak. Tidak. Dia tidak boleh menangis. Dia harus memperjuangkan cintanya.
Perlahan dia menyeka bekas air mata yang sebelumnya terlanjur jatuh, kemudian menggenggam erat kedua tangan Saga.
“Ga, aku nggak mau kamu jadi milik orang lain, aku, aku, aku nggak bisa biarin kamu pergi ... please ngertiin aku, Ga, aku cinta sama kamu.”
“Kenapa selalu aku yang kamu suruh buat ngertiin kamu? Kenapa kamu nggak coba, buat ngertiin perasaan aku. Aku juga punya hati yang bisa bebas berlabuh ke mana aja senyaman aku, kamu nggak bisa maksa hati aku untuk nggak bergerak dan tetap di kamu.”
“Ha? Jadi maksudnya kamu benar-benar cinta sama istri kamu itu, ha?!” teriak Elsa dengan napas yang memburu. Dadanya pun sudah naik turun menahan luapan emosi yang tak mau sedikit pun berniat untuk mereda.
“Nggak! Aku nggak bakal biarin kamu cinta sama dia, Ga! Aku nggak mau! Aku nggak mau!” Elsa berlari jauh, meninggalkan Saga yang masih duduk di tempatnya memandang gadis itu dengan tatapan iba.
__ADS_1
“Maaf, Sa, tapi aku udah nggak bisa cinta sama kamu lagi. Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa cinta sama Vana.”
Bersambung ....