PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 14


__ADS_3

***


Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki mendekat, Saga berusaha mengumpulkan nyawanya menyadari lengan seseorang hinggap di wajah, menyentuh lukanya.


“Shhh.” Pria itu meringis, perih saat satu kapas berisi obat luka ditekan dengan pelan pada wajahnya yang terluka.


“Awh, pelan-pelan Yang, sakit ini!” tukas Saga menahan pergelangan tangan Vana yang berkutat di wajahnya.


Vana mematung seketika, mendengar Saga memanggilnya dengan sebutan ‘yang.’ Wah, langkah sekali. Apa sejak berantem tadi otak Saga terbentur.


Saga yang menyadari suasana berubah menjadi romantis, langsung menimpali dengan berkata, “Nggak usah geer, lo! Gue ngira lo itu Elsa, makanya keceplosan.”


Vana tak peduli dan tak mau tahu. Dia kembali fokus pada luka pria itu, mengabaikan omelan-omelan Saga yang tak henti-hentinya. Dasar cerewet.


“Mau makan apa?” tanya Vana setelah dia selesai dengan alat P3K. Berdiri kemudian menyimpan kembali kotak itu di laci nakas. Sejenak menatap Saga yang tampak berpikir. Lama!


“Gue mau ... terserah lo aja, yang penting nggak mengandung racun,” jawab Saga santai, mengambil ponselnya dari atas nakas.


Vana megembuskan napasnya kasar, berbalik untuk keluar dari kamar Saga, berhenti di ambang pintu sejenak seraya bergumam pelan, “Ya kali, gue nggak ngasih racun!”

__ADS_1


***


Jam menunjukkan pukul 20.00. Kebetulan ini malam minggu, Vana tengah bersantai ria duduk di balkon, ditemani oleh cemilan ringan, serta kopi susu hangat.


“Eum ... malam mingguku nikmat sekali,” gumamnya menyengir ke arah bulan yang menyorotnya dengan cahaya terang.


Tring!


Satu pesan masuk muncul dari ponselnya. Dengan malas wanita itu membuka lockscreen dan membuka satu aplikasi chat yang berada di laci notifikasi. WhatsApp.


Rynto👹


Online


Dira juga ikut loh


Males. Enakan bobo😴


Cih! Gaya lo! Awas nyesel, soalnya laki lu lagi bareng Elsa🙃

__ADS_1


Buru-buru Vana mematikan ponselnya. Huft! Terserah! Nggak penting juga! Mau dia jalan sama Elsa kek, Ana kek, Rapunzell, Sofia. Vana tidak peduli. Biarkan saja karma yang menjawab seberapa lama Saga mejadi fakboy.


Kembali ke posisi semula. Duduk di kursi santai, dengan kaki yang terlipat, memegang satu gelas kopi susu hangat, serta ditemani oleh lilin aromateraphy. Itu akan lebih rileks daripada dia harus mencuci mata di fun fair. Yang ada bukannya mencuci mata, justru malah mengotori mata.


“Ekhem!”


“Ahkanjayyani!” teriak Vana terkejut, saat seseorang berdehem tepat di belakang telinganya. Bang*at!


“Kenapa sih, lo?! Emangnya gue hantu apa? Orang ganteng gini juga!” kesal seseorang di sana, refleks Vana mengernyitkan alisnya bingung.


“Kok kamu di sini? Bukannya lagi ke fun fair, bareng Elsa?” tanya wanita itu, terdengar menohok.


“Ha? Kalo gue lagi di fun fair, terus yang berdiri di sini siapa dong?” Saga menyetel seketakutan mungkin, tetapi malah mendapatkan semburan kopi susu dari Vana.


“Anjis lo! Nggak ada akhlak! Masuk neraka lo, berdosa sama suami!” damprat pria itu, tetapi tak Vana pedulikan.


“Gue mau ngajak lo ke fun fair. Buruan siap-siap, gue tunggu sepuluh menit!” ucap Saga kemudian, setelah beberapa menit mereka terdiam.


“Hih! Kenapa ngajaknya aku? Cewek-cewek kamu yang segudang itu ke mana?”

__ADS_1


“Nggak usah geer lo! Gue cuman nggak mau aja jadi suami durhaka, pergi tanpa ngajak istri. Kalo nggak, gue juga malas boncengin lo!”


Bersambung ....


__ADS_2