
***
Malam hari telah tiba. Saat ini, Vana tengah berada dalam mobil Al. Mereka melaju sudah dari beberapa waktu lalu, untuk menuju tempat asal Vana tinggal.
Sebenarnya, dia belum diperbolehkan dokter untuk pulang, mengingat luka benturan yang ada di kepala wanita itu belum mengering, bahkan masih mengelyarkan darah sedikit demi sedikit.
Al benar-benar tak tega pada wanita itu. Padahal sebelumnya dia berniat untuk menjadikan wanita itu sebagai wanita malamnya, tetapi urung saat melihat kondisi dan air mata Vana yang memohon kepadanya.
“Kamu mau makan dulu?” tanya Al, mengehntikan mobilnya di baju jalan dan menatap Vana yang sedang memejamkan matanya.
Wanita itu hanya menggeleng dengan respons. Terlalu malas untuk berbicara dan membuka mata, karena dia rasa sakit di kepalanya membuat ia gamang, jika membuka mata.
“Oke.”
Mereka pun kembali melaju, hingga akhirnya berhenti di sebuah gedung tinggi yang di mana terdapat beratus apartemen yang tak ada satu pun yang kosong.
“Ini ‘kan, apartemen kamu itu?”
Vana membuka matanya, menoleh ke kanan. Matanya berbinar, melihat gedung-gedung yang sangat ia rindukan.
“Iya. Huft ... akhirnya. Makasih banyak ya, Al. Mm ... kamu boleh pulang,” kata Vana sembari menuruni mobil hitam milik Al yang terhenti itu.
“Iya, sama-sama. Hati-hati, Vana!”
Sekali lagi, Vana hanya mengangguk dan tersenyum singkat pada pemuda itu, kemudian dia berjalan dengan tertatih-tatih memasuki gedung apartemen.
Langkahnya terhenti di depan sebuah lift, menunggu hingga pintu lift tersebut terbuka untuknya.
__ADS_1
Senyuman yang tak luntur sedari turun dari mobil Al tadi, sangat jelas menggambarkan betapa bahagianya dia dapat kembali ke apartemen-nya, terutama bertemu dengan Saga yang ia rindukan.
Tepat di depan salah satu apartemen yang berukuran besar, Vana menghentikan langkahnya. Berdiri di depan pintu utama dan mengetuknya.
“Kok, nggak ada sahutan, sih? Apa Saga lagi nggak di rumah?” gumamnya menerka-nerka.
Mengamati pintu yang berada di hadapannya itu, akhirnya terbuka menampilkan ... siapa dia?
Wanita itu membulatkan matanya, mengamati sosok perempuan yang berdiri di hadapannya dengan raut datar, seperti tak ada masalah yang terjadi.
“Siapa?” Suara bariton seseorang yang bertanya kepada sosok perempuan itu, hingga seorang pria menyembul dari balik sana, membuka lebar-lebar pintu.
“Aku nggak tahu dia siapa,” jawab Tisya angkuh, menjatuhkan kedua tangan yang sebelumnya bersedekap di dada saat Saga berdiri di sampingnya.
“Seharusnya saya yang tanya sama kamu, kamu itu siapa?” Vana mulai membuka suara, setelah beberapa saat wanita itu tercenang dengan seorang yang mirip dengannya.
“Lo nanya gue? Gue Givanna, istri dari Saga Praja Askara,” ujar Tisya begitu angkuhnya dia menatap sinis ke arah Vana yang masih bingung harus berbuat apa. Apa maksud semua ini? Apa ini hanya kejutan dari Saga.
Cukup lama mereka terdiam, menatap satu sama lain, hingga akhirnya suara berat Saga memecahkan keheningan itu.
“Gue nggak tahu lo siapa, intinya Vana nggak ke mana-mana dan dari kemaren-kemaren dia udah ada di sini. Gue bisa simpulkan, kalo lo itu cuman pembohong yang pura-pura jadi Vana, iya ‘kan?!”
Seketika si iblis Tisya melebarkan senyuman tengilnya, mendengar penuturan tak terduga dari Saga. Benarkah pria itu lebih mempercayai dirinya.
“Dan gue nggak mau tahu lo itu siapa, silahkan pergi dari apartemen gue,” sambung pria itu menatap datar Vana yang berdiri terpaku di tempatnya.
“Ga, ini gue, Vana. Gue Vana yang asli! Gue bisa kasih lo bukti, kalo gue Vana yang asli, Ga. Please, percaya sama gue!” bela Vana samar-samar, karena setelah insiden kecelakaan itu suaranya menghilang entah kenapa.
__ADS_1
“Gue nggak percaya sama lo! Siapa pun lo, tolong jangan usik hidup gue! Jangan jadi benalu di rumah tangga gue!” Jelas sekali terdengar nada penekanan di ucapan pria itu. Itu artinya ... Saga benar-benar tidak percaya pada Vana yang malang.
“Lo denger ‘kan, suami gue bilang apa? Ngapain masih di sini? Mending lo pergi, deh, sebelum satpam yang ngusir lo dari sini.” Kali ini Tisya yang berbicara. Jangan lupakan nada bicaranya yang sok lembut, menggambarkan seorang Vana yang sebenarnya.
“Mendingan Anda diam, kalo cum—”
“Lo yang diam! Bukannya gue udah suruh lo pergi?! Kenapa masih di sini? Apa perlu gue usir dengan cara kasar?!”
Tak menyangka, Saga malah membentaknya dengan sorot mata tajam yang ia pancarkan kepada Vana asli yang tersakiti.
“Ayo, kita masuk!”
Bruak!
Pria itu membanting kasar pintu utama apartemen, setelah sebelumnya menarik tangan Tisya masuk ke dalam sana.
“Ga, buka pintunya! Dia itu orang lain, yang cuma nyamar jadi gue! Dan gue yakin dia punya niat jahat! Saga, buka pintunya!”
Di luar sana, Vana masih berteriak-teriak tak jelas, padahal kedua orang yang berada di dalam sana sudah pasti tak dapat mendengarnya.
“Ga, buka pintunya!”
Wanita itu terus mengetuk-ngetuk pintu dengan kencang, walaupun tenanganya tak cukup kuat untuk melakukan itu, membuat stamina-nya drop secara drastis hingga wanita itu sukses terduduk di lantai.
“Givanna.”
Bersambung ....
__ADS_1