
***
Bel pulang SMA Andara berbunyi nyaring, tak kalah nyaringnya dengan suara teriakan para murid-murid di masing-masing kelas.
Vana masih membereskan buku-bukunya, sedangkan Ryn berdiri di hadapan siap untuk pulang.
“Lo duluan aja, Ryn. Gue mau naik Go–Jek aja,” tutur wanita itu menatap Ryn sekilas, kemudian berjalan diikuti Ryn di belakang.
“Lo nggak mau balik bareng gue aja, Va?” Ryn bertanya, membuat langkah Vana terhenti.
“Nggak usah, soalnya gue mau singgah dulu.”
“Emm ... yaudah, deh. Lo hati-hati, ya. Gue duluan! Bye!” Gadis itu berjalan semakin jauh, meninggalkan Vana yang hanya mengangguk menanggapi. Setelahnya, Vana pun ikut melangkah saat Ryn sudah jauh di sana.
Bruk!
“Awh!”
“Eh, Vancung! Lo bisa nggak, sih, kalo jalan itu liat-liat? Makanya jangan mikirin gue mulu, Yang.” Orang yang bertubrukan dengan Vana itu berucap, membuat sang empu memutar bola matanya malas.
“Apa, sih? Siapa juga yang mikirin lo! Nggak napsu,” balas Vana tak bersemangat. Rasanya malas sekali dia berdebat untuk saat ini. Saga memang menyebalkan.
__ADS_1
“Pulang bareng gue.” Satu kalimat terlontar datar, disertai dengan tatapan dingin Saga yang menelusuri manik mata istrinya.
“Males! Palingan lo ada maunya.”
Baru saja Vana ingin melangkah, karena tak mau terlibat dengan pria itu, tiba-tiba lengannya sudah ditahan sempurna oleh Saga. Menyebalkan!
“Bisa nggak, lo nurut sama gue? Sekali aja! Atau mau gue gendong?”
“Nggak! Nggak perlu!” timpal Vana cepat, membenarkan tali tas yang merosot dari bahunya.
Setelahnya, wanita itu berjalan tanpa mengatakan apa-apa lagi, sedangkan Saga masih berdiam diri di tempatnya dengan senyuman hangat yang terbit di sana.
“Lo bener-bener buat gue gila, Va. Sayangnya gue nggak cinta sama lo! Idihh ... jangan sampek, dah! Amit-amit gue!”
***
Gadis yang bernama Tisya itu menggeleng kecil, tampak raut takut tersirat di wajahnya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
“Ah, gue tahu, kok, jawaban lo, ck! Gue bakal bayar lo berapa aja dan bakalan kasih apa pun yang lo minta asal lo mau nurutin gue!”
“Nggak.” Tisya berguman pelan, seraya terus menggeleng semakin kencang.
__ADS_1
“Belagu ya, kamu. Nggak papa, kok, kamu nggak aku suruh buat ngelakuin hal aneh,” cicit Elsa, mengelus pelan pipi mulus Tisya.
‘Akan gue pastiin, sebentar lagi Saga bakal pisah sama Vana dan gue, bisa miliki Saga selamanya.’
***
“Sayang, lo mau ke mana?” tanya seorang pria yang tengah mengejar seorang wanita yang tak memperdulikannya sedang menuju parkiran.
Vana mendesis sinis, membiarkan Saga semakin dekat dengannya, hingga pria itu pun sukses mencekal satu pergelangan tangannya.
“Apa, sih?” tanya wanita itu geram, menatap suaminya dengan horor.
“Pulang bareng gue, Yang,” tutur si pria memelas, kemudian tanpa meminta izin langsung menarik Vana memasuki mobil hitamnya.
Terpaksa wanita itu menurut, duduk dengan tangan yang terlipat di dada. Jangan lupakan wajah manyun dan lucunya dengan pipi yang menggembung.
“Gue mau ke Indomarket!” sarkas Vana, tanpa menatap orang yang sudah duduk di sampingnya siap mengemudikan mobil.
“Siap, Yang. Bakal gue anterin, kok,” balas Saga tersenyum manis menatap dalam wajah cantik dan lucu istrinya.
“Stt, jangan panggil gue dengan sebutan itu! Jijik, tahu nggak!”
__ADS_1
“Yaudah, Beb.”
Kok Saga ngeselin, sih?!