PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 43


__ADS_3

***


“Givanna.”


Vana mendongak, menatap lurus ke satu titik. Di sana, Al berdiri tegap kemudian mulai berjalan dengan langkah pasti mendekati Vana yang terduduk di lantai. Setelahnya, dia berjongkok tepat di hadapan wanita itu.


“Lo masih di sini, Al?” tanya Vana lemah, menatap wajah fresh orang yang berada di hadapannya dengan tatapan sayu.


Pemuda itu mengangguk, menyentuh kedua bahu Vana dan menatap wanita itu tepat di manik.


“Kenapa masih di sini? Apa masih kuat dengan sambutan pedih kaya tadi?”


Pertanyaan itu membuat benteng pertahanan Vana runtuh, hingga akhirnya dia menangis terisak, tak peduli Al akan melihatnya selemah ini.


“Harapan yang sia-sia. Gue terlalu bodoh rindu sama orang yang bahkan nggak tahu dan nggak sadar sama kehilangan gue,” cicit Vana melemah. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang sengaja ditekuk.


“Nggak mau pulang?”


Mendongak, wanita itu mengangguk membiarkan tubuhnya dibawa Al pergi dari sana. Sudah cukup sakit bertahan di tempat itu.


Mereka kembali memasuki mobil Al yang ternyata masih terparkir di seberang sana. Ternyata pemuda itu mengikuti Vana, bukan pergi ataupun pulang ke rumahnya.


Dia juga sudah mendengar semua percakapan Vana, Saga dan Vana KW di apartemen tadi.


Mobil itu melaju, membelah jalanan pusat kota yang masih saja ramai akan kendaraan yang sibuk berlalu lalang, termasuk Al dan Vana.


Entah ke mana mereka akan pergi. Tiba-tiba saja pikiran Vana kosong dan tak sadar bahwa dia masih memiliki ayah. Untuk saat ini, dia tidak terpikir dengan siapa pun, hanya rasa sakit yang ia rasakan di lubuk hatinya.


Air mata sedari tadi meluncur tanpa tahu tempat, tak bisa dihentikan walaupun dia sudah memaksa cairan itu untuk tidak keluar lagi.


Sudah cukup dia mencintai Saga. Hari ini dia tahu, bahwa pria itu tidak benar-benar mencintai dirinya, sampai-sampai tak bisa membedakan mana dirinya yang sebebarnya.


Dia yakin, kalau Saga memang mencintainya, pria itu akan sadar atas kehilangannya dan merasakan perbedaan antara dirinya dengan Vana jadi-jadian tadi.


“Aku bakal bantu kamu, Va,” ucap Al dengan yakin, menatap lurus ke arah depan, sembari sibuk bergelut dengan setir mobiil.


Vana menoleh, menatap pemuda itu seperti tidak tertarik, karena rasa sakit hatinya yang lebih besar.


“Kayanya nggak perlu, Al. Rasanya gue nggak mau lagi berhubungan sama Saga. Biar aja nanti dia tahu sendiri dan gue bakal pergi sejau-jauhnya,” kata Vana memelas. Terdengar nada lelah terselip di sana.


“Lagian bentar lagi juga bakalan pisah, kok, setelah kita tamat SMA,” sambung wanita itu lagi, melupakan sejenak bebannya yang tak sanggup ia pikul.

__ADS_1


“Kok, kamu ngomong gitu? Perceraian itu bukan jalan terbaik dalam masalah rumah tangga, Givanna! Aku yakin, pasti ada jalan lain yang nggak harus buat kamu atau Saga pisah.”


“Entahlah, gue nggak tahu harus apa. Gue sama Saga udah janji bakalan pisah setelah lulus SMA. Awalnya gue takut itu bakal terjadi, tapi sekarang ... gue malah pengen hari itu cepat sampai di depan mata. Gue pengen cepat-cepat hilang dari kehidupan Saga.”


Al mengangguk, menggerakkan kepalanya ke arah Vana yang bersandar di kepala kursi. “Aku bakal tetap cari cara buat selesaikan masalah kalian. Jangan mudah nyerah, Givanna. Karena sampai kapan pun kamu nggak akan pernah berhasil. Semangat! Tuhan punya rencana indah di balik masalah ini!”


***


Dua minggu berlalu, tepat setelah kedatangan Vana ke apartemen yang malah disambut dengan luka dan tamparan masalah.


Selama dua minggu itu juga, dia berada di luar kotadan tinggal di hotel atas paksaan dari Al. Bukan hotel tempat maksiat itu, tetapi hotel lain. Sedangkan Al, tetap tinggal di rumahnya yang tak jauh dari hotel itu.


Saat ini Vana tengah menikmati sejuknya angin sore dan melihat pemandangan dari atas sana, sembari menunggu senja tiba. Selalunya dia seperti itu, karena menurutnya orange-nya langit senja mampu membawa semua masalah yang tengah ia rasakan.


“Ternyata Al itu orang baik. Cuman nggak ada otak aja suka mainin perempuan.” Wanita itu bergumam seraya terkekeh kecil, menyesap teh hijau kesukaannya.


Akhir-akhir ini dia benar-benar melupakan Saga di sana, karena mengingatnya, hanya akan membuat luka di hati yang telah ia obati, berdarah kembali.


Besok, Al akan mengantarnya kembali ke apartemen untuk mengatakan yang sebenarnya. Seketika, sekelabat bayangan Saga kembali muncul di pikirannya, membuat hatinya perih. Sial!


***


Dia hanya ingin melampiaskan emosi yang akhir-akhir ini susah sekali dikendalikan. Setelah dia tahu yang sebenarnya, dia merasa bahwa ia adalah orang terbodoh yang pernah hidup di bumi ini.


Beberapa hari sebelumnya ....


Dari awal, sebenarnya dia sudah curiga dengan Vana yang sedikit berbeda. Itu sebabnya, dia sedikit menjaga jarak sebelum dia tahu apa yang terjadi.


Dia juga merasa, bahwa Vana beberapa minggu terakhir ini sering sekali bersikap aneh, yang padahal biasanya tak pernah dilakukan oleh Vana asli.


Mulai dari menggunakan make-up, shopping berlebihan, sampai menjual sepeda kesayangannya.


Dia tahu, ada perubahan pada diri Vana, tetapi masih belum sadar tentang fisik antara istrinya dan Vana palsu itu.


Ia menyadari ada yang berbeda, ketika Tisya tersenyum kepadanya karena dia membelikan sebuah kalung mutiara yang berharga mahal.


Beda memang. Vana yang asli itu memiliki lesung di kedua pipinya. Sedangkan, yang ini ... berbeda. Pun Vana asli tidak pernah menyukai barang mahal apa pun itu. Walaupun dia menyukai barangnya, tetapi jika harga barang itu terlalu berlebihan mahalnya, dia tidak akan suka. sedangkan ini ... mendekati matre.


Dari situlah Saga merasa Vana yang tengah bersamanya, sangat berbeda dengan wanitanya.


Di hari tepat di mana Vana mengunjungi apartemennya, dia shock melihat Vana yang terluka dan terlihat lesu dan lelah. Sebenarnya dia tahu, bahwa itulah istri yang sebenarnya, makanya dia tak berani bermain fisik, tetapi ide cemerlang tiba-tiba muncul hingga dia masih menolak untuk menerima Vana.

__ADS_1


Saat ini dia hanya mencari bukti saja sebenarnya, karena kepercayaannya sudah sepenuhnya mengatakan bahwa Vana yang bersamanya itu palsu.


Sekarang, dia ingin mengunjungi rumah Elsa. Tadi gadis itu memintanya untuk datang, karena mereka akan mengadakan makan malam bersama.


Entah kenapa, hari ini dia merasa emosinya semakin menggebu. Dia pun tak tahu entah apa sebabnya. Apa mungkin hari ini dia akan menghadapi sesuatu? Entahlah.


Dua puluh menit motornya melaju kencang, hingga akhirnya berhenti di sebuah rumah megah di komplek perumahan elit. Rumah Elsa.


Sebenarnya dia disuruh datang tepat pukul 19.00, tetapi karena pikirannya sedang kacau, jadinya dia datang satu jam lebih awal. Siapa tahu Elsa butuh bantuannya.


Pria itu berjalan mendekati pintu utama rumah, seketika kedua alisnya tertaut, kala mendengar suara seseorang yang tak asing di indra pendengarnya.


Akhirnya, dia dapat melihat dua orang gadis yang sedang bercengkrama di halaman belakang. Pria itu bersembunyi di balik tembok samping pintu, agar dapat mendengar lebih jelas percakapan itu.


“Aku udah kasih kamu bonus dua minggu, biar bisa dekat sama Saga. Harusnya kan kerja kamu cuman satu minggu doang. Ya nggak papa lah, yang penting tugas kamu berhasil nanda tanganin surat perceraian ini. Ini gaji kamu dan kamu boleh balik ke habitat kamu,” ujar Elsa dengan senyuman smirk-nya. Menggenggam sebuah map cokelat yang isinya surat perceraian.


“Sama-sama. Aku juga mau bilang makasih ke kamu. Kalo kamu butuh bantuan aku, tinggal telepon aja. Aku bakalan ready kapan pun.” Dan itu ....


“Akhirnya gue dapet bukti,” gumam Saga berbisik geram.


“Tapi ... apa kamu nggak ada niat lepasin Vana dari Al? Kasian tahu, dia jadi jalang, ups! Hahaha!” Kedua gadis itu tertawa, membuat Saga muak.


“Biarin aja dia di sana! Kalo bisa, selamanya nggak usah balik-balik lagi. Bagus ‘kan? Jadi aku nggak perlu susah-susah nyingkirin dia.”


“Elsa!” Tak tahan, akhirnya Saga menghampiri kedua gadis iblis itu. Menyorot tajam keduanya bergantian. Seram.


“Ga? Kamu ...?”


Plak, plak!


Dua tamparan yang mendarat di kedua pipi yang berbeda. Jelas saja Tisya juga harus mendapatkan pelajaran.


“Ga, ak—”


“Apa?! Gue udah denger semuanya, Elsa, jangan pura-pura bego!” teriak Saga sangat menyeramkan. Hawa di tempat itu mendadak panas.


Pria itu mengambil benda dari tangan Elsa dan merobeknya dengan brutal. Lalu melemparkan potongan-potongan itu tepat ke kedua iblis yang berdiri di hadapannya.


“Kita putus!”


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2