PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 21


__ADS_3

***


Gemericik air hujan yang sangat deras, membuat cuaca pagi ini lumayan dingin, hingga membuat sebagian insan malas untuk beranjak dan lebih memilih meringkuk di balik selimut mereka.


Diantaranya adalah, kedua pasutri yang berada di kamar yang terpisah, tetapi berlindung di bawah atap yang sama. Saga dan Vana.


Kedua orang itu masih memejamkan matanya sempurna, terlelap damai di balik selimut tebal yang hangat. Kalau bukan ini hari Minggu, pasti Vana akan berada di toilet sekolah untuk bersih-bersih.


Kring, kring, kring!


Suara alarm berbunyi di samping tubuh seorang wanita di sana, tetapi nampaknya wanita itu sama sekali tak terusik dengan suara dering yang amat bising itu. Kalah dengan suara derasnya hujan.


“Hoaam ... Ya Allah, aku di mana ini? Kenapa dingin sekali? Apa aku udah di Surga bareng mama?” lirih wanita itu, masih dengan mata tertutup, seraya mengeratkan selimut di tubuhnya.


Dia mengingau, Guys.


“Hoam ... ck! Jam berapa sih ini?!” kesalnya, kala suara alarm di atas nakas lagi dan lagi berbunyi. Benar-benar mengganggu tidurnya!

__ADS_1


Pukul 05.00.


Beranjak dengan malas dari atas kasur, kemudian berjalan memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu, melakukan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


***


Di sebelah kamar Vana, ternyata Saga sudah bangun entah sejak kapan. Pria itu berada di kamar mandi, menatap wajahnya yang kusut di depan cermin. Nggak kalah tampan sama Lutung Kasarung.


Menguap, Saga mengambil sikat gigi dan dengan asalnya mengambil sesuatu yang dia kira itu adalah odol.


Ini Saga kenapa, woy?


“Anjrot, sabun muka. Siapa sih ini yang naruh di sini? Kurang kerjaan banget.”


Entah mulai tidak waras, atau bagaimana. Yang jelas dia lupa, bahwa dirinyalah yang menaruh skin care di kamar mandi. Depresi tingkat pro.


Setelah cukup lama dia berada di dalam sana untuk membersihkan diri, kemudian karena tengah tidak waras dia salat terlebih dahulu, sebelum akhirnya berjalan ke dapur untuk sarapan.

__ADS_1


Pria itu hanya memakai setelan baju santai dan celana sepaha, padahal cuaca cukup dingin pagi ini. Hujan masih belum reda, bahkan malah semakin deras, karena alam semesta menangis melihat Saga salat.


Minwhile Saga : Kampret lu, thor! Berdosa banget.


***


Di ruangan dapur apartemen itu, Vana sudah berada di sana, berkutat dengan alat masak dan bahan-bahan mentah yang akan diolahnya.


Tadinya wanita itu akan memasak udang, tetapi urung saat mengingat Saga sangat membenci udang. Padahal kan udang itu makanan favoritnya. Jadi dia hanya memasak omelet istimewa yang cocok di cuaca dingin sekarang.


Baru saja omelet itu mendarat rapi di dalam piring, tiba-tiba Vana tersentak kaget saat dua buah tangan kekar melingkar sempurna di perutnya. Apa ini? Tarik napas ... buang. Nggak boleh halu, Va.


“Kenapa? Yaudah kali, lanjutin aja masaknya, nggak usah sampe shock gitu,” ujar orang yang berada di balik tubuh Vana.


Bukan, Va. Ini bukan halusinasi, tapi ini realita. Apa Saga memang sudah tidak waras? Semoga saja begitu, karena jika pria itu waras, dia tidak akan mau bersikap manis, karena kebungkus oleh gengsi.


Karena Vana masih ngambek, yasudah. Dia pura-pura tidak peduli dan malah melepaskan tangan Saga dari perutnya. Padahal dalam hati dia sangat senang sekali.

__ADS_1


__ADS_2