
***
Vana mendongak, terkejut melihat siapa orang yang mengatakan kata-kata penuh arti itu padanya.
Orang itu membantunya berdiri, saling berhadapan dan menatap manik berembun satu sama lain.
“A–apa, Di?” tanyanya gugup, benar-benar masih belum menyangka atas ucapan itu.
“Aku sayang sama kamu, Va. Bukan sebagai temen kamu, ataupun sebagai seangkatan OSIS sama kamu, tapi sebagai seorang cowok normal.”
“Aku tahu, aku udah terlambat dan nggak bakalan mungkin bisa milikin kamu lagi, tapi jujur, Va. Aku nggak bisa mendam lebih lama perasaan aku, karena aku tahu. Aku harus secepatnya buang jauh-jauh perasaan ini dan biarin kamu bahagia sama jodoh kamu yang sebenarnya.”
“Dira,” lirih Vana berbisik. Suaranya hilang, dibawa derasnya air hujan.
Kedua netra hitamnya kembali berair. Dira, suka padanya? Sejak kapan?
“Aku udah tahu semuanya. Aku tahu, kalo kamu sama Saga itu ... tapi jangan khawatir, Va. Aku nggak bakalan bocorin rahasia ini ke siapa pun, sama kaya gimana temen-temen Saga simpan rahasia ini dari lama.”
“Malam ini, memang malam yang menyakitkan buat aku. Di mana saat aku nyatain sayang ke kamu, tapi kamu sendiri nggak bisa balas itu semua. Tapi jangan salah, Va, malam ini juga aku janji ke diri aku sendiri dan kamu, kalo aku bakalan lupain perasaan keju ini dan kenal kamu sebagai sahabat, kaya apa yang kamu pikirkan selama ini.”
“Kenapa kamu ungkapin perasaan kamu, sedangkan kamu sendiri tahu, kalo kamu udah terlambat?” tanya Vana lagi sedari tadi menyimak. Tak tahan lagi membendung air matanya.
“Karena, kalo nanti perasaan ini udah menghilang dan kamu nggak pernah tahu kalo aku sayang sama kamu, itu jauh lebih menyakitkan, Va.”
“Jangan menjauh dari aku. Aku masih pengen kita temenan. Aku nggak mau setelah kamu tahu ini, kamu jauhin aku.”
Vana menggeleng, “Aku nggak benci sama kamu, aku nggak akan ngejauhin kamu. Karena kamu satu-satunya cowok yang selama tiga tahun ini mampu buat aku ngerasa bahagia, diperlakukan sebagai seorang putri dan selayaknya seorang wanita. Bahkan Saga sendiri ... nggak pernah ngelakuin kaya apa yang kamu lakuin ke aku, Di.”
Entah kenapa, setelah dia mengungkapkan semua itu, hatinya terasa lega. Apalagi setelah mendengar penuturan Dira yang tak disangka dan berkorban mengabaikan perasaanya demi hubungan rumah tangga dirinya dengan Saga.
“Makasih ya, Di.”
Refleks, wanita itu menghamburkan diri ke pelukan Dira, menangis haru di dalam dekapan cowok yang selalu menyemangatinya dan menjadi ayah kedua untuknya.
“Kamu tahu apa yang lebih indah dari kerlap-kerlip bintang di langit, Va?”
Kali ini, bukan Dira yang berbicara, tapi seseorang yang berdiri di balik tubuhnya. Entah datang dari mana, tapi Vana merasa ada banyak orang yang berada di kawasan itu saat ini. Walaupun yang terlihat hanya Dira dan siapa cowok itu?
Agil.
“Ketika kita melihat orang yang kita cintai bahagia, walaupun bahagianya bukan bersama kita. Itu pemandangan yang lebih indah, Va. Dan itu yang akan aku dan Dira rasain nanti,” kata cowok yang ternyata adalah Agil.
Sumpah, Vana masih belum mengerti dengan semua ini. Kenapa kedua cowok ini aneh sekali?
“Ha?” Wanita itu mengerutkan alisnya bingung, melirik ke arah Dira meminta jawaban, tetapi cowok itu malah membalasnya dengan senyuman.
“Aku, sebagai sahabat kecil kamu yang selama ini udah asal-asalan ngerubah rasa sayang dan cinta yang seharusnya atas dasar persahabatan.”
“Aku, juga sayang sama kamu, Givanna. Awalnya aku rasa ini hal yang biasa, tapi setelah aku jalanin dan rasakan lebih dalam, ternyata ini rasa sayang yang spesial. Buat kamu.”
__ADS_1
Agil tersenyum manis, berjalan semakin dekat hingga sudah berdiri di hadapan Vana yang sekarang posisinya berada di antara kedua cowok yang mengaku sebagai pangerannya.
“A–ih–ini maksudnya apa, sih?! Kenapa kalian berdua aneh banget, sumpah!” Kesal Vana masih belum mengerti apa yang sudah terjadi.
“Intinya kita berdua udah terlambat dan nggak terpaksa harus merubah rasa sayang kita jadi rasa sayang yang wajar tanpa melibatkan lawan jenis, tetapi sebagai sahabat dan teman.” Santai sekali Dira mengatakan itu. Kedua cowok ini tak peduli dengan Vana yang rasanya ingin berlari jauh, seraya berteriak ‘Aku tak mengerti’.
“Nggak usah dipikirin. Teman?” Agil mengangkat ibu jarinya, seperti apa yang mereka lakukan dulu.
Seketika Vana yang semula panik, berubah rileks. Tersenyum manis dan menautkan ibu jarinya kemudian berakhir dengan berjabat tangan.
“Woy! Minggir lu berdua, jangan sampek gue timpuk ni!”
Kedua cowok itu berdiri tegap balik kanan kemudian berlari menjauh dari tempat itu.
Vana yang semula ingin melangkah, karena melihat siapa yang datang langsung ditahan oleh satu tangan kekar. Membuatnya berdiri kembali ke posisi awal. Untung saja hujannya mereda sejak frame Agil tadi.
“Givanna.”
Tak menyahut, dia biarkan Saga menatapnya lama, walaupun bibirnya sulit sekali diajak kompromi. Ingin tersenyum malu, tapi ia setel wajahnya segarang mungkin.
“Vana.”
“Va.”
“Sayang.”
“Permaisuriku.”
Tak tahan, Vana melayangkan kepalan tangannya ke arah dada pria yang berdiri lima centi dari tubuhnya. Sebenarnya bukan kesal, hanya saja dia pura-pura garang untuk tidak geer. Menjaga image kan dia benci sama pria itu.
“Kamu ini. Kalo hati aku copot terus diambil orang lain gimana?”
“Nggak usah basa-basi. Mau ngomong apa? Mau maki gue lagi? Mau ngerendahin gue lagi? Atau mau gampar gue di sini, buruan!” todong Vana menatap Saga serius dengan napas yang memburu.
Masih sakit hati dia.
“Iya! Aku mau maki kamu lagi, mau ngerendahin kamu lagi dan mau gampar kamu juga,” kata Saga santai berjalan semakin rapat dengan Vana, tapi wanita itu malah melangkah mundur.
“Dasar, Vana! Udah cantik! Gemesin, pintar, baik, rajin, idup lagi! Kamu tahu nggak, kamu itu pantes banget buat aku!” teriak Saga yang katanya itu adalah makian dan merendahkan.
Sial, hampir aja Vana tersenyum. Sumpah, dia tak tahan ingin segera mendengar Saga mengatakan, ‘ini cuman prank. Maaf’.
“Sayang, kejadian tadi cuman suprise buat kamu, karena dua katak Afrika itu. Aku udah tahu mereka itu lacnat, karena udah sayang sama kamu, makanya kami buat suprise ini, terutama ini ide dari dua gembel Kutub Utara tadi.”
“Heh!”
Vana benar-benar tak tahan dengan ucapan Saga itu. Satu kepalan tangan lagi mendarat di dada bidangnya. Itu dia sengaja menghina Dira dan Agil atau bagaimana?
“Aku nggak mau ngomong panjang lebar, yang jelas ... ini cuman suprise. Prank! Dan kamu harus tahu, kalo si tua bangka Al juga ikut-ikutan.”
__ADS_1
“What?!”
Al? Kalian tahu nggak, sih, gimana rasanya kesal dan bahagia di saat yang bersaamaan? Kesal sudah dikerjain dan bahagia karena Saga. Ini juga Saga. Sejak kapan, dia jadi aku kamu? Alay sekali!
“Sebenarnya aku sepupu dekat Azka. Azka cerita kalo dia lagi cari istri sahabatnya yang hilang, hingga akhirnya dia kasih foto kamu ke aku dan gitu. Kita kerja sama.” Al. Cowok itu keluar dari dalam mobil yang Vana sendiri pun tak tahu itu mobil siapa.
Berati benar dugaanya, kalau di sini ada banyak orang, termasuk geng Saga. Sial!
Saga menggamit kedua tangan istrinya, menggenggamnya erat, seakan tak mau melepaskannya lagi. Ada banyak kucing kelaparan di sekitar mereka.
Vana itu ibarat ikan asin. Sedangkan Dira, Agil dan Al sebagai kucingnya. Sedetik saja Saga lengah, ikan asinnya akan diambil oleh ketiga kucing itu.
“Sekarang aku mau ngilangin gengsi aku dan mau ngomong yang se-jujur-jujurnya ke kamu. Aku ... pernah nyolong uang mama lima rebu buat siomay, Va.”
“Anjir!” umpat Vana kesal. Malas dia selalu dibercandain selerti ini.
“Aku serius. Vana, aku Saga Praja Askara. Kalo kamu?”
Kan, Saga itu ... ck! Entahlah!
“Ck! Awas lah! Bagus gue pulang aja ke rumah papa!” tukas wanita itu mulai melangkah, lagi-lagi lengan Saga menghentikan aktivitasnya.
“Givanna. Aku, Saga Praja Askara, malam ini disaksikan oleh beribu bintang yang cahayanya kembali bersinar terang, ingin mengatakan, bahwa aku mencintaimu dengan tulus. Nggak ada kata ‘tapi boong’ lagi, ini serius. Aku cinta sama kamu, sebagai seorang istri dan aku janji dengan disaksikan oleh kaum-kaum jomblo yang meresahkan di sekeliling kita, bakalan jaga dan perlakukan kamu, layaknya seorang wanita. Bukan, tapi seorang istri.”
Saga menarik tubuh Vana ke dalam dekapannya, ternyata kebahagiaan dalam cinta itu sangat mudah didapatkan. Cukup serius dan mengerti akan perasaan yang kita miliki, maka kamu akan menemukan cinta sejatimu dan akan bahagia. Mudah ‘kan?
“Ciee, ciee, piwwit! Aseek! Gue yakin, bakal punya keponakan bentar lagi.”
“Gue malah pengen nonton live streaming proses bikinnya.”
“Gue nunggu giliran aja dah.”
“Kalo gue nunggu malaikat mau jemput lo lo pada.”
“Berisik, jomblo!” teriak Saga membuat orang-orang di sana mengatupkan mulutnya rapat. Tersindir. Terutama geng Saga yang berisik sekali, kecuali Vino yang malas mengikuti jejak sesat sahabat-sahabatnya.
“Kita bakalan pindah ke rumah baru, Yang. Aku udah ngomong sama papa,” kata Saga di tengah sibuknya teman-temannya bercanda ria.
“Ha? Buat apa? Kenapa nggak di apart aja?” tanya Vana seperti tak terima.
“Va, rumah sendiri itu jauh lebih baik. Lagian aku udah beli rumahnya. Tinggal kita pindah aja nanti.”
Vana mengangguk pasrah, mengeratkan genggamannya dengan Saga, kemudian bersandar mesra di bahu pria itu.
“Maaf, ya?”
Lagi-lagi Vana mengangguk, tersenyum ke arah sang suami. Saga itu meminta maaf untuk kejadian di apart tadi, sekaligus kesalahannya di awal-awal pernikahan. Vana memang sudah memaafkan itu. Ikhlas dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Bersambung ....
__ADS_1