PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 40


__ADS_3

***


Vana menatap tajam pemuda yang berada di hadapannya. Matanya sudah merah menyala, bahkan dadanya pun naik turun menahan emosi.


Dia tidak boleh lemah. Dia harus terlihat kuat dan bisa melawan pemuda tampan, tapi bre**sek itu! Harus!


Gery? Cowok itu sudah pergi jauh setelah menerima banyak sekali lembaran uang yang diberikan si pemuda yang membeli dirinya. Semahal itu kah dirinya? Bahkan Saga pun tidak membayar Gibran dengan jumlah sebanyak itu dulu.


“Nona, sebenarnya aku belum ingin menyentuhmu untuk malam ini. Siapkan dirimu untuk besok, karena aku tak mau kecewa karena telah membelimu dengan harga mahal.” Pemuda itu membuka suara, melepaskan setelan jas hitam yang membalut tubuh kekarnya


‘Nyenyenye! Sok ganteng lu! Eh, emang ganteng, sih. Nggak, Va! Lo nggak boleh gegabah. Lo harus lepas dari jeratan pemuda iblis tampan itu.


Bagaimana? Kedua tangannya masih terikat. Terpaksa, dia harus memikirkan ide terlebih dahulu.


“O iya. Namaku, Al,” kata Al lagi menglurukan tangan kanannya ke arah Vana, berniat untuk berkenalan.


Mungkin pemuda ini sudah gila! Please, kedua tangan Vana sedang diikat! Bagaimana caranya dia membalas jabatan tangannya. Orang kaya, tapi otaknya miskin!


Vana hanya menatap tangan yang terulur di hadapannya dengan sengit, pun malas menjelaskan kepada pemuda itu bahwa dia tak bisa menggerakkan tangannya. Kurasa, tanpa dijelaskan pun Al sudah tahu.


“Ah, iya. Aku melupakan kedua tanganmu yang terikat. Bagaimana jika kita berkenalan dengan ....”


Al sengaja menggantungkan kalimatnya, menyentuh bibir merah alami Vana, kemudian refleks wanita itu menoleh, agar tangan Al terlepas dari bibirnya membuat cowok itu berdecih geram. Bisa dilihat dari rahangnya yang mengeras.


“Sok jual mahal!” umpatnya, tapi pendengaran Vana masih bekerja dengan sangat baik. Dia dapat mendengarnya dengan jelas.


“Jual mahal pala lo! Nggak usah liat-liat lo, gue tampol, nih!” pungkas wanita itu menggertak si cowok yang malah tersenyum tipis membuat Vana diabetes.


Cukup lama kedua orang itu terdiam, hingga seulas senyuman manis terbit di wajah Vana. Dia mendapatkan ide.


“Sebenarnya aku ini sangat handal dalam bermain di ranjang, jadi aku tidak perlu menyiapkan diriku, karena sudah kupastikan, kau yang akan menyerah duluan, Tuan Al,” ucapnya mengingat perkataan Al sebelumnya.


“Benarkah begitu? Sepertinya tidak sia-sia aku membelimu.”


“Tentu saja tidak.” ‘Karena aku akan membantumu untuk memisahkan tulang dari tubuhmu.’ Menyambung perkataannya dalam hati, tetapi senyuman hangat yang dia tampilkan kepada pemuda yang sudah berjongkok di hadapannya.


Al semakin tergoda, mengembuskan napasnya dan menatap lekat manik mata Vana yang sama sekali tidak terlihat ragu.


“Tapi ... kenapa kita tidak melakukannya malam ini saja?” tanya Vana tersenyum menggoda. Sebenarnya dia jijik dengan dirinya yang seperti itu, tapi ini adalah strategi untuk melarikan diri.

__ADS_1


“Ah, tidak. Aku masih terlalu lelah untuk melakukan itu. Istirahatlah dulu! Karena aku akan menikmati tubuhmu besok,” balas Al santai seraya berjalan menjauh, membuat Vana membulatkan mata sempuran.


Glek!


Tidak. Dia harus kabur malam ini. Jangan sampai pemuda itu terlebih dulu menyentuhnya.


“Bisakah kau melepaskan tali yang ada di tanganku? Aku ingin pergi ke toilet.”


Semoga saja Al mau menurutinya.


“Untuk apa aku harus melepaskan ikatannya? Bukankah aku bisa membantumu di dalam sa—”


“Nggak perlu! Aku bisa sendiri! Tolonglah, tanganku sakit ... ikatannya kuat banget, awh!” Wanita itu meringis, pura-pura menangis memcari simpati.


“Lima menit. Hanya lima menit waktumu ke toilet.” Al mendekatkan tubuhnya pada Vana, melepaskan ikatan tali di lengan wanita itu yang memang terikat sangat ketat, hingga membuat bekas ruam-ruam di sana.


“Ouch, lenganmu terluka,” tutur cowok itu mengelus sekilas lengan Vana, tetapi langsung ditepis oleh sang empu.


“Awas! Aku udah nggak tahan! Makasih!”


Buru-buru Vana memasuki toilet yang berada di dalam ruangan itu dan mencari sebuah benda di sana untuk membantunya kabur dari jeratan Al.


Netranya terhenti tepat di sebuah cermin yang berukuran kecil. Dia mengambil cermin itu dan membantingnya di lantai hingga menjadi pecah berkeping-keping.


Sebenarnya dia bukan mau melukai cowok itu. Hanya saja ... jika dia sulit untuk keluar, terpaksa dia harus menggunakan alat tajamnya itu untuk menghabisi sang lawan.


“Semangat, Va. Lo pasti bisa.”


***


Tisya berjalan mengendap keluar dari apartemen, melirik-lirik Saga yang sudah terbaring masuk ke dalam alam mimpi.


Dia ingin menemui Elsa yang berada di lantai dasar untuk mengambil ponsel Vana yang sudah diambil dari pemiliknya beberapa jam lalu oleh Gery.


Gadis itu memasuki lift dengan tergesa-gesa hingga akhirnya sampailah dia di lantai dasar gedung apartemen dan langsung mendapati Elsa yang berdiri tak jauh dari depan lift.


Ia pun menghampiri gadis itu dengan senyuman manisnya, langsung mendapatkan tatapan tajam dari Elsa, kala gadis itu sempat terkejut dengan kehadirannya.


“Apa, sih, lo buat kaget aja!”

__ADS_1


“Iya, maaf. Mana handphone-nya?”


Elsa menyodorkan sebuah benda pipih yang sebelumnya ia simpan di dalam tas yang ia sandarkan di bahu, langsung diterima oleh Vana palsu yang berada di hadapannya itu.


“Pokonya, kerjaan lo haru beres! Jangan sampe Saga curiga ke lo! Lo harus meranin Vana sebaik mungkin,” tutur Elsa dengan nada penuh penekanan.


Tisya mengangguk singkat, mengangkat satu jempolnya tanda siap dengan perintah Elsa. Setelahnya, cewek itu kembali memasuki lift menuju apartemen Saga.


“Dari mana lo?”


Terlonjak, kala sebuah suara bariton seseorang menyambutnya di depan pintu kamar. Saga.


“Dari ... itu, dari dapur,” jawab Tisya ragu dengan kepala yang tertunduk. Takut dia jika bertatapan dengan Saga.


“Buruan masuk! Gue udah ngantuk banget, Va, lo malah nyalain lampu.”


Mengangguk, dengan senang hati dia mengikuti langkah Saga memasuki kamar. Netranya terus mengikuti gerak-gerik Saga yang menggemaskan.


Padahal ini masih jam 20.00. Kenapa Saga tidur secepat ini? Bahkan drakor yang mereka tonton tadi belum selesai, tapi pria itu malah langsung mengajak Tisya memasuki kamar.


Tisya mendekat ke arah Saga, memastikan bahwa pria itu benar-benar sudah tidur dan tak akan terusik dengannya nanti. Karena dia akan menggeledah semua isi laci dan lemari untuk mendapatkan tanda tangan Vana dan akan meng-copy-nya.


“Aman,” gumamnya, berjalan perlahan demi perlahan mendekati meja nakas yang berada tepat di samping ranjang.


“Semoga aja ada ijazah Vana di sini.”


Suara laci yang terbuka, membuat gadis itu memejamkan matanya, takut Saga akan terusik dan terbangun karena ulahnya itu. Otomatis rencananya akan gagal.


Satu per satu dia membuka berkas-berkas yang terletak di dalam sana, tetapi tak satu pun berisi ijazah atau sesuatu yang berkemungkinan terdapat tanda tangan Vana.


“Buku nikah mungkin? Tapi di mana? Sumpah, gue segen mau bongkar lemari.”


“Tidur, Va!”


Saga ini benar-benar membuat Tisya senam jantung setiap saat. Suka sekali membuat orang terkejut.


“I–i–iya, ini juga udah mau, kok.”


Terpaksa, dia menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya tepat di samping pria yang notabennya adalah suami orang itu. Canggung? Tentu saja.

__ADS_1


‘Untung Saga ganteng. Kalo nggak, nggak bakalan ada kesan manis gue ngelakuin semua ini.’


Bersambung ....


__ADS_2