
Flashback on*
Saga melajukan mobilnya dengan serius, membelah jalanan ibukota yang sangat padat sekali oleh kendaraan yang berlalu lalang, memenuhi jalananan.
Sedari tadi pria itu hanya diam saja, tak ada niat untuk membuka suara, meskipun Elsa sudah memancingnya untuk mengatakan sesuatu. Dia hanya membalas dengan anggukan dan gelengan, atau tak membalas sama sekali.
Membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di kediaman Elsa yang berada sedikit jauh dari apartemen miliknya. Itu juga disengajakan olehnya.
“Turun!” perintah Saga datar, tanpa melihat, ataupun melirik ke arah Elsa yang menatapnya dengan wajah kesal.
“Kok malah kamu sih, yang jutek sama aku? Udah jelas-jelas kamu yang salah!” timpal Elsa kesal, melipat tangannya di dada.
“Eheh, seorang Saga Praja Askara tidak pernah salah, Nona. Turun gih! Istirahat, tenangin pikiran!”
“Yang, kamu apaan, sih?! Aku lagi ngambek loh, intinya aku kecewa sama kamu!” Elsa masih diam di tempatnya, tak mau menuruti perintah kekasihnya itu.
“Aku bakal jelasin, Sayang. Tapi nggak sekarang.”
Satu tangan kekar Saga terulur mengelus sayang puncak kepala Elsa dan mengacak rambut gadis itu gemas. Setidaknya Elsa tenang untuk saat ini.
“Awas! Aku nggak mau dipegang-pegang sama kamu!” tukas si gadis menepiskan kasar lengan Saga dari kepalanya.
Cukup lama mereka terdiam di dalam mobil mewah milik Saga. Pria itu hanya fokus menatap wajah Elsa yang kesal, sedangkan orang yang ditatap terus mendumel tanpa rem.
“Yaudah, aku mau pulang dulu, pasti aku jelasin, kok.” Sekali lagi, Saga berusaha membujuk, semoga kali ini Elsa tidak menolak.
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi, gadis itu keluar dari sana, masih belum menutup pintu mobilnya, tetapi menatap serius wajah Saga, seeprti menyiratkan sesuatu.
“Pokonya kamu harus cerai sama dia secepatnya. Aku tahu kamu sayang sama aku. Kamu nggak mungkin milih dia ‘kan?”
Perkataan itu membuat Saga kicep. Entahlah. Dia pun masih bingung dengan perasaanya. Akankan dia dapat memilih satu diantara istri dan kekasih cinta pertamanya?
Pria itu tersenyum singkat seraya mengangguk, menstarter mesin mobil kemudian melaju meninggalkan Elsa yang masih diam di tempatnya dengan pandangan kosong setelah mobil Saga tak tampak lagi di netra hitamnya.
“Aku nggak mau kehilangan kamu, Ga,” lirih gadis itu memegang dadanya yang terasa sesak, tertampar oleh kenyataan yang hampir menjauhkannya dari Saga.
***
Seorang wanita yang berada di dalam kamar mandi, tengah berendam di dalam bath tub dengan air hangat yang mampu membuatnya sedikit rileks.
Sejenak wanita itu memejamkan matanya, tak terasa buliran-buliran bening itu kembali berjatuhan, untung saja langsung tersapu oleh air shower.
Vana menyandarkan kepalanya di tempat yang sudah disediakan di dalam bath tub itu. Sumpah, baru kali ini dia merasakan sakit separah ini. Bahkan ketika demam karena masuk selokan pun rasanya tak lebih parah ini.
Bukan hanya fisiknya saja yang terluka, tapi mentalnya juga tersiksa, ditambah lagi batin yang setiap harinya selalu tak pernah membaik.
“Seharusnya aku tolak aja itu perjodohan, pasti nggak bakal semenderita ini. Andai mama masih ada, pasti dia nggak bakalan kasih aku buat nikah muda kaya gini,” gumamnya menumpukan wajah, membiarkan jatuhan air shower membasahi tubuh.
“Kenapa hidup aku semanis ini, Ya Allah? Kapan aku bahagia atas pernikahan ini? Apa akan selamanya seperti ini?”
Tok, tok, tok!
__ADS_1
Vana mendongak, mendengar suara ketukan pintu dari balik kamar mandi. Pasti itu Saga.
“Lo di dalam?” Suara bariton seseorang terdengar, benar ‘kan? Itu adalah suara Saga.
“Iya, aku di dalam!” jawab Vana berteriak, memakai baju handuknya, kemudian berjalan mendekati pintu.
Entah sadar atau tidak, dia tidak peduli dengan Saga yang akan melihatnya hanya memakai baju handuk sebatas lutut saja. Toh, bagian privasinya tidak terlihat.
Ketika dia membuka pintu, tak menemukan sama sekali keberadaan Saga di sana. Ke mana pria itu? Apa tadi Vana hanya berhalusinasi? Biasanya, jika wanita itu bersedih terlalu dalam, dia akan mendengar suara seseorang yang ia sayangi, tetapi bukan mistis. Itu hanyalah halusinasi.
Dulu sebelum dia menikah juga sering mendengar suara Gibran saat sedang terluka. Karena menurutnya, hal itu akan mengobati perasaanya yang kacau.
Vana mengembuskan napasnya lelah, berjalan ke arah kasur dan mendudukkan tubuhnya di sana.
***
Di dalam kamar yang berbeda, Saga merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kenapa setiap berhubungan dengan perasaan, mood-nya selalu memburuk?
Padahal sebelumnya, dia tidak pernah seperti ini. Jangan-jangan benar kalau dia sudah seratus persen mencintai Vana, bahkan posisi Elsa pun sudah tergeser. Mungkin.
“Ahk! Yawloh, Vana! Kamu berdosa banget sama perasaan aku!” geram pria itu menjambak rambutnya, menatap lampu di atas seperti mencari pencerahan di sana.
“Mana tahu ‘kan, gengsi dan ego takut sama cahaya lampu, terus keluar dari tubuh gue.”
Bersambung ....
__ADS_1