PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 38


__ADS_3

***


“Lo harus bantu gue, cupu. Kali ini nggak main-main, gue butuh bantuan lo,” ucap seorang gadis kepada satu gadis lainnya di dalam sebuah gudang tua.


“Saya siap, bantu Mbak, asalkan ... Mbak jangan macem-macem sama makam kedua orang tua saya,” balas satu gadis lainnya dengan mantab. Elsa dan Tisya.


“Selagi lo nurut, gue nggak bakalan ngelakuin itu! Intinya, lo harus bertindak saat ini juga dan gue nggak mau tahu, jangan sampe ada yang curiga kalo lo itu bukan Vana.”


“Tenang, Mbak. Saya udah tahu semua tentang Vana. Mbak nggak usah khawatir. Baik Saga atau siapa pun, nggak akan ada yang curiga.”


Elsa tersenyum menyeringai, matanya fokus melihat wajah Tisya yang sangat mirip dengan Vana, walaupun masih ada perbedaan, tetap saja jika dilihat hanya sekilas, terlihat sama.


“Dan tugas lo, harus bisa buat Saga sama Vana pisah. Hal pertama yang harus lo lakuin adalah, meng-copy paste tanda tangan Vana.”


“Siap, Mbak. Saya bakal lakuin apa pun, yang Mbak perintah.” Tisya tetsenyum, tak kalah dengan senyuman lebar Elsa, lebih tepatnya menyeringai.


Setelahnya, kedua gadis itu meninggalkan gudang dan memasuki satu mobil yang terparkir tak jauh dari sana, kemudian melaju ke satu tempat tujuan.


***


Vana masih membereskan buku-bukunya. Bel pulang SMA Andara baru saja berbunyi. Terlebih dulu dia menyelesaikan menyalin tugas yang berada di papan tulis, sedangkan Ryn sudah duluan pergi ke kantin.


Biasanya setelah pulang sekolah, mereka langsung ke kantin untuk mengisi perut. Hitung-hitung nongkrong juga, menunggu waktu jam tiga sore.


Wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa, karena suasana sepi di dalam kelas, cukup membuatnya gelisah dan ketakutan.


Untungnya, masih banyak siswa-siswi yang bercengkrama di koridor, jadi dia tidak perlu merasakan kesendirian lagi di sana.


Sesampainya di kantin, buru-buru Vana mendudukkan tubuhnya di samping Ryn, meletakkan tas di atas mejanya.


“Va, lo mau makan apa?” tanya gadis itu menatap sahabatnya yang langsung meleguk satu gelas air putih setelah menuangkannya.


“Samain aja, Ryn.”

__ADS_1


“Eh, BTW Saga masih nunggu lo. Dia belum pulang.”


Seketika Vana menegangkan tubuhnya menatap serius ke arah Ryn dengan bola mata bulatnya.


“Hah? Mau ngapain? Sekarang dia di mana?”


“Lagi di rooftop, bareng sama temen se-geng-nya lah.” Ryn menggeserkan satu mangkuk mie ayam yang baru dibuat, ke arah Vana. Lalu disusul saus dan kecap.


“Biasanya juga dia nggak pernah nungguin gue. Buat apa coba?!” Kesal. Entah kenapa dia malah merasa tak enak ditunggu seperti ini.


“Itu artinya dia peduli sama lo!” sarkas Ryn, menggeplak bagian belakang kepala sahabatnya itu gemas.


“Ck! Males gue!”


“Va, lo masih lama?” Tiba-tiba suara bariton seseorang membuat Vana terlonjak, hingga dia tersedak kuah mie ayam yang baru dileguknya.


“Masih! Lo duluan aja sana!” usir Vana menatap sekilas suaminya, kemudian kembali fokus pada mie ayam.


“Yaudah, tapi nanti lo harus langsung pulang ya, jangan ke mana-mana!” Saga memperingatkan.


“Lagian ngapain, sih, nunggu-nunggu segala!” gumamnya kesal, tetapi Ryn masih dapat mendengarnya.


“Hilih, giliran ditinggalin lo juga ngomel-ngomel!”


***


Sepuluh menit Saga melaju dengan motornya, kemudian sampailah pria itu di sebuah apartemen pusat yang di mana apartemennya berada di sana.


Setelah memarkirkan motornya, Saga berjalan memasuki gedung tinggi itu dan berhenti tepat di depan lift. Setelahnya, dia sudah berada di lantai empat, tepat di depan apartemen miliknya.


Gerah yang ia rasakan setelah kakinya memasuki kamar. Tanpa pikir panjang lagi ia pun memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya di dalam sana.


Saga itu bukan tipe pembersih akut, dia hanya rajin mandi karena tidak mau merasakan lengket di tubuhnya ataupun gerah karena sudah beberapa jam beraktivitas di sekolah.

__ADS_1


Tidak perlu waktu lama, setelah selesai membersihkan dirinya, pria itu keluar dari kamar mandi langsung mendapati Vana yang sudah menduduki tepi ranjang dengan baju santainya.


“Va, lo udah balik? Sejak kapan?” Saga bertanya. Aneh, pikirnya. Secepat ini Vana sampai apartemen.


“Lo nggak lihat gue ada di sini?! Itu artinya gue udah sampe!” Jawaban ketus wanita itu berikan.


Kebiasaan. Vana pasti selalu tak santai jika ditanya yang menurutnya itu sangat aneh. Dia tidak suka menjawab pertanyaan yang seharusnya tak pantas untuk dipertanyakan.


Salah satunya ya, itu. Pertanyaan Saga tadi. Membuatnya kesal.


“Kebiasaan lo kaya gitu! Emang salah, kalo gue nanya? Buruan, siapin gue makanan, Va. Laper!”


“Lo mau makan apa?” Sebelum Vana beranjak, terlebih dulu dia bertanya kepada sang suami. Malas dia harus masak ulang, karena terkadang Saga tidak suka ini dan itu.


“Apa yang ada! Buruan!”


“Iya!”


***


“Ryn, lo tahu nggak? Gue tuh, akhir-akhir ini masih bingung gitu ke Saga. Soalnya sikapnya dia itu beda banget. Beda banget lah, pokonya.” Vana kembali membuka suara, menghisap minumannya dengan menggunakan sedotan.


“Kan bagu, itu artinya lo nggak perlu merasa tersakiti lagi sebagai seorang istri,” balas Ryn santai.


“Iya, sih. Tapi ya gitu, deh. Gue masih nggak percaya, Ryn. Siapa tahu aja itu cuman pencitraan dia ‘kan?”


“Lo nggak boleh suudzon gitu, Va. Mungkin Saga emang bener berubah. Mungkin dia udah cinta sama lo.”


“Mudah-mudahan, aja. Mau tahu nggak, dia juga sering banget bantu gue kerjain rumah, mulai dari nyupi piring, beresin rumah, apalagi suka bantu gue masak. Pokonya seneng, deh.”


“Pfft, kenapa lo nggak bilang ke Saga buat cari pembantu?” Ryn ini benar-benar kepo.


“Ck! Saga nggak mau gue jadi istri manja, yang nggak tahu kerja. Lagian udah cukuplah, waktu santai gue waktu di rumah papa. Sekarang giliran tugas gue sebagai seorang istri. Gue juga nggak berharap Saga nyariin pembantu. Lagian kerjaan rumah nggak berat-berat amat, kok.”

__ADS_1


“Ekhem! Gue tinggal nunggu keponakan aja, dah!” cicit Ryn tersenyum menggoda, langsung mendapatkan cubitan gemas dari Vana.


Bersambung ....


__ADS_2