PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 48


__ADS_3

***


Rasanya waktu cepat sekali berlalu, seiring dengan berputarnya dunia secara aktif tanpa henti. Kedua pasutri yang beberapa tahun lalu baru saja menginjakkan kaki di salah satu universitas, sudah berhasil mendapatkan satu tittle yang hanya diraih dalam jangka waktu dua tahun.


Hal itu memang sengaja dibicarakan, bahwasanya Saga dan Vana mendapatkan waktu dua tahun untuk menjalani masa-masa kuliah mereka. Tetap saja nilai yang sudah membantu keduanya untuk mendapatkan kuliah dua tahun itu.


Awalnya Vana dilarang keras oleh Saga untuk masuk perguruan tinggi, karena pria itu mengatakan Vana cukup bertugas mengurusnya dan anak mereka kelak.


Vana tidak perlu bekerja, cukup dirinya saja yang mencari uang, tetapi wanita itu bersikeras tetap ingin kuliah padahal dia sudah tak minat lagi mencari pekerjaan.


Satu tahun sudah dia lulus sarjana, tetapi tak ada satu pun pekerjaan yang dia minati.


Sekarang dia hanya fokus mengurus suaminya saja. Saga yang sudah bekerja di perusahaan milik keluarga Askara, tentu saja hanya memiliki waktu yang sedikit untuknya.


Itu sebabnya dia kerap bepergian untuk mengisi waktu ketika Saga sedang bekerja, bahkan tak jarang wanita itu mengunjungi suaminya ke kantor.


Sedikit kabar tentang Elsa, gadis itu sudah dibebaskan setelah kelulusan SMA. Namun sudah tiga tahun belakangan ini, batang hidungnya tak pernah lagi muncul, bahkan rumahnya sudah tak ada lagi yang menempati.


Menurut informasi yang didapatkan Azka dan Bayu, Elsa pindah ke Belgia menyusul kedua orang tuanya yang ketika insiden penangkapannya itu sudah tinggal di sana.


Itu sebabnya dia tak pernah lagi terlihat, tetapi itu sangat menyenangkan bagi Vana. Dia tidak perlu khawatir adanya pelakor di rumah tangga mereka.


Saga baru saja memasuki kamar, langsung merebahkan tubuhnya yang lelah di samping istrinya yang tengah merenungi perjalanan singkat masa-masa kuliahnya.


Tersenyum, pria itu mendudukkan tubuhnya, menggendong sang istri ala bridal style, hingga membuat Vana berteriak histeris terkejut.


“Ih, kamu apaan, sih? Turunin!” pinta wanita itu dengan wajah lucunya, tetapi Saga malah ssmakin jahil, menidurkan tubuh mereka di atas ranjang kembali.


“Kamu belom pengen dede bayi, Sayang?” tanyanya berbisik menepikan rambut Vana yang mengganggu pandangannya.

__ADS_1


“Enggak! Awas, kamu bau! Mandi sana! Baru pulang aja udah buat emosi!” kesal Vana mencubit-cubit lengan suaminya pelan, tapi Saga tak merasakan apa pun.


“Yaudah, iya. Tapi kalo udah selesai mandi kamu mau, ya?”


“Iya!” jawab wanita itu asal, padahal dia pun tak tahu entah mau apanya.


Semangat 45, Saga memasuki kamar mandi dan buru-buru membersihkan tubuhnya. Hanya membutuhkan waktu lima menit setelah itu selesai kembali mendekati istrinya yang pura-pura tertidur.


“Sayang,” panggilnya berjongkok di samping ranjang tepat di hadapan Vana.


“Nggak usah pura-pura bego! Bangun!” perintahnya menepuk-nepuk pelan pipi wanita itu, membuat sang empu refleks membuka mata kesal.


“Sayang, aku ....”


Saga menaiki ranjang, menggulingkan tubuh mereka hingga posisi Vana berada di atas tubuhnya.


“Ya Allahhumma bariklana. Sayang, ini masih jam delapan. Gila kali, ngantuk jam segini!”


“Awas, awas, awas!” Vana mendorong tubuh suaminya, memetintahkan dengan nada tak santai.


“Bentar doang, ih,” rayu Saga mengelus-elus pipi sang istri yang sudah terbaring di sampingnya.


Entah bagaimana ceritanya, hingga akhirnya mereka pun melakukan itu. Hubungan halal yang selama empat tahun ini mereka jagakan. Hingga akhirnya Givanna sudah benar-benar menjadi milik Saga seutuhnya.


Kebayang nggak, sih, selama empat tahun dari awal pernikahan mereka nggak ngelakuin itu?


***


Sudah beberapa hari ini Vana terus saja merasakan mual yang teramat sangat. Diam-diam wanita itu pergi ke dokter dan dugaannya benar. Dia tengah mengandung.

__ADS_1


Saga bilang itu hanya masuk angin biasa. Mana tahu dia! Sotoy sekali memang Saga itu.


“Makanya kamu jangan duduk di balkon mulu, tuh angin jadinya usil masuk-masuk badan kamu!” omel pria itu menatap Vana kesal. Sedangkan wanita itu hanya diam saja, mengulum senyumnya diam-diam.


“Besok-besok kalo udah sembuh, sekalin tidur di balkon sampe Subuh. Ntar bukan angin doang yang masuk, tapi aer embun, awan, planet-planet jugak!”


Lihatlah ketika pria itu sedang mengomel seperti itu. Lucu sekali, seperti ibu yang sedang memarahi anaknya.


“Bisa nggak, dengerin aku ngomong dulu?!” Akhirnya Vana membuka suara, kesal mendengar ocehan Saga yang membuat kupingnya panas.


“Aku hamil,” sambungnya setelah sang suami menurut, mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


***


Kedua pasutri yang tengah dilanda kebahagiaan itu tampak semangat sekali setiap hari mereka, walaupun kelahiran sang buah hati masih jauh, tetapi tetap saja rasa kebahagiaan yang teramat sangat bagi mereka setiap hari itu sangat menyenangkan.


Saga pun sangat posesif kali dalam mengurus kehamilan sang istri. Menurutnya semua makanan itu tidak bagus dan hal itu membuat Vana kesal. ‘Terus aku mau makan apa?’ kesalnya karena Saga hanya memperbolehkannya makan sayur dan buah saja.


Awalnya pria itu tidak mengizinkan Vana untuk meminum air putih sembarangan, tapi setelah didamprat oleh mamanya, terpaksa dia menurut saja.


“Saga, istri kamu itu hamil, bukan kanker! Ada-ada aja kamu ini!” tajam Regina—Mama Saga.


“Yaudah, iya! Tapi jangan salahin Saga kalo Vana keracunan makanan!”


“Kamu pikir sayur dan buah itu nggak bisa menyebabkan keracunan, kalo mengkonsumsinya nggak seimbang? Udah, Va, kamu makan aja apa yang kamu mau, tapi hati-hati!” peringat Regina pada menantunya itu.


Kalah! Saga mengembuskan napasnya kesal. Ini sebenarnya yang suaminya Vana, Regina atau dirinya? Menyebalkan sekali! Baru tahu dia sayuran dan buah bisa menyebabkan keracunan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2