PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 35


__ADS_3

***


Suasa riuh kantin membuat Vana mengurungkan niatnya ke sana. Ditambah lagi manusia-manusia yang berdiri padat sampai menjerit, pasti dia tidak bisa memasuki kantin.


Entah apa yang terjadi di sana, Vana tak mau tahu. Balik kanan niat melangkah, tetapi tertahan saat satu suara memanggil namanya.


Wanita itu berbalik, seketika mendapati satu cowok yang berdiri tak jauh dari belakangnya dengan satu tangan tenggelam di dalam saku.


“Agil? Kamu, kok, di sini? Nggak masuk kelas?” tanya Vana melirik ke sekelilingnya.


“Tadinya mau, cuman karena lima menit lagi bel, yaudah aku tunggu aja.”


“Emangnya kamu dari mana, Gil?”


“Dari kantor guru, ada perlu.”


Vana menganggukkan kepalanya mengerti, menatap Agil yang menatapnya dengan tatapan lekat. Serius sekali cowok itu memperhatikannya, membuat dia jadi risih.


“Aku duluan ke kelas, ya. Bye.” Vana berlalu, setelah melambaikan tangannya kepada Agil. Bukannya dia menghindar, hanya saja dia tengah menjaga hati. Takut perasaan dulu kembali utuh seperti semula, membuatnya sesak.


Agil hanya memandanginya dari jauh, menatp punggung kecil Vana yang sampai mengecil dan tertelan di tikungan.


“Gue bakal balikin hak lo atas Saga, Va. Gue janji! Atau jangan sebut gue sahabat kecil lo.” Bertekad dalam hati, cowok itu memandang lurus ke depan. Tak mau menoleh sedikit pun ke masa lalu yang sempat membuatnya jatuh, hingga terluka sangat dalam.


Biarkan itu jadi benteng diantara dirinya dan Vana, toh, percuma jika dia kembali berjuang. Vana sudah memiliki pawang dan sangat sulit untuk memisahkan mereka karena status yang bukan main-main.


Kalo dia boleh jujur, dia ingin kembali pada lima tahun lalu dan tidak akan membiarkan Vana meninggalkannya sangat jauh, hingga sampir saja dia tidak bisa menemukan wanita itu lagi.


Betul, dia tidak boleh egois. Vana bukan boneka yang bisa dimainkan dan disakiti sesuka hati. Dia yang membuat Vana pergi, dialah yang harus menanggung penyesalannya. Untungnya Vana tidak membenci. Wanita itu masih tersenyum hangat seperti dulu, melambai pada Agil dengan sapaan persahabatan.


“Anggap aja, ini sebagai permintaan maafku, atas apa yang aku lakukan dulu, Va. Aku menyesal! Menyesal setelah kau benar-benar pergi.”


Setelahnya, Agil menjauh dari tempat itu menuju tempat tavoritnya. Rooftop. Biasanya dia ke sana hanya sekedar menenangkan pikiran, atau memikirkan rencana untuk membuat Saga sadar atas Vana.


***


Di sisi lain, Saga dan Elsa yang masih berada di rooftop tengah berbincang-bincang serius, menikmati taman luas belakang SMA Andara dari atas sana.


“Aku nggak mau tahu Ga, intinya kamu harus cepat-cepat cerai sama dia! Aku yang bakal pikirin rencananya nanti,” ujar Elsa mengelus rambut hitam Saga yang basah, karena pria itu menyiramnya dengan air. Gerah!

__ADS_1


“Aku nggak mau, nanti kamu malah bener-bener cinta sama dia! Ga, aku nggak mau kamu bagi sayang kamu ke dia. Kamu cuma punya aku!” tegas gadis itu sekali, matanya mulai memerah menahan sesuatu.


Sementara di hadapannya, Saga hanya menunduk dalam diam, meremas botol kosong di tangannya penuh kesal dan emosi. Biarlah itu sebagai pelampiasan. Dia tidak mau melukai Elsa.


“Gue ke kelas.” Saga berdiri, menepuk belakang celananya yang berabu, kemudian melangkah meninggalkan Elsa yang tumben sekali tidak mengekorinya.


“Aku nggak terima kamu jadi milik orang lain, Ga. Aku yang berhak atas kamu.” Tanpa diminta, caira-cairan bening di kelopak matanya meluruh keluar, membuat aliran sungai kecil dia kedua belah pipi putihnya.


“Elsa, lo ngapain di sini?” Satu pertanyaan itu, membuat Elsa tersentak. Refleks menghapus air matanya, seraya memalingkan wajah.


“A–agil? Gue nggak papa. Hmm ... gue mau ke kelas dulu.”


Cowok yang ternyata adalah Agil itu mengangguk singkat, membiarkan Elsa berlalu dari hadapannya. Matanya fokus pada satu objek yang mengambil alih perhatiannya.


Perlahan dia mendekati benda itu, kemudian berjongkok dengan satu kaki menumpu, mengambil sebuah ... liontin. Seperti milik Vana.


“Ini bukannya punya Vana?”


Dia ingat betul pada liontin itu. Tiga bulan dia menabung untuk menempah kalung itu di toko. Wajar, dulu dia masih SD, jadi harus menabung untuk mendapatkan sesuatu.


Dia mana mau meminta kepada orang tuanya ini itu. Seandainya dia minta pun tak akan diberikan, karena orang tuanya telah membiasakan hidup mandiri dan berusaha sendiri untuk mendapatkan sesuatu.


Bukan karena keadaan ekonomi, tetapi memang itu prinsip ayahnya. Ayahnya tidak mau suatu saat nanti Agil akan tumbuh menjadi cowok manja dan malas untuk bekerja.


Tangannya bergerak membuka liontin yang berbentuk bintang itu, seulas senyuman terbit di wajahnya. Di sana terdapat dua wajah anak kecil yang sangat ia rindukan kenangannya.


“Vana masih simpan kalung ini.”


Kalung yang sangat berarti dalam sejarah masa kecilnya, bahkan dulu dia sangat senang sekali bisa membelikan kalung itu untuk Vana.


“Aku bukan mau ambil hati kamu Va, tapi cuman mau bantu kamu dapatkan hak kamu yang sesungguhnya. Aku nggak suka liat kamu tersakiti karena dia. Biarkan aku merubah semuanya dan jadikan ini permintaan maafku.”


***


Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa-siwi SMA Andara membubarkan diri dari kelas mereka dan berjalan memenuhi koridor menuju parkiran.


Vana masih membereskan buku-bukunya. Hari ini, Vana sukses tak mendapatkan satu pun ilmu tambahan, disebabkan pikirannya yang kacau. Entahlah! Banyak sekali yang ia pikirkan saat ini. Hal itu membuat ke-fokus-an belajarnya hilang sepenuhnya.


Dia juga tak tahu, kenapa hidupnya begitu sesulit ini, padahal seharusnya masa SMA seperti ini menjadi masa yang penuh dengan kebebasan dan kenangan bersama teman-teman, tapi tidak untuk Vana. Dia terlalu miris untuk mendapatkan semua itu.

__ADS_1


“Woy, Va. Ngelamun bae, lo dari tadi! Mikirin apa, sih? Buruan itu nyusun bukunya!” pungkas Ryn lelah menunggu Vana yang ternyata malah melamun.


“Ha? I–i–iya, Ryn.”


“Lo kenapa, sih, Va? Kalo lo punya masalah, atau mau ngeluarin unek-unek sini ke gue. Gue siap dengerin lo,” tutur gadis yang notebennya adalah sahabat Vana itu.


“Enggak, Ryn. Nanti aja. Kayanya ... gue belum bisa cerita sekarang.” Vana menyampirkan tas di bahunya, berjalan bersisian dengan Ryn keluar dari kelas.


“Yaudah, tapi lo jangan suka murung di depan gue gitu Va, kalo lo nggak mau cerita, gimana gue mau nenangin lo?”


“Iya, Ryn. Maaf.”


“Vana.”


Sang empunya nama mendongak, mendapati beberapa orang cowok yang berdiri di hadapan mereka. Dira beserta jajaran.


“Iya, Di? Ada apa?” tanya Vana kikuk, setelah baru saja tersadar dari lamunannya.


“Pulang bareng aku, ya?” kata Dira penuh harap, menginginkan jawaban memuaskan dari Vana.


“Yuk! Tapi kita makan dulu ya, Di? Gue laper.”


“Sip!”


Baru saja mereka ingin melangakah, tiba-tiba, satu tangan kekar mencekal lengan Vana membuat langkah mereka terhenti.


“Vana pulang bareng gue,” ucap satu pria dengan sorot mata tajam yang ditujukan pada saru cowok lainnya. Saga.


“T–t–tap—”


“Lo, pulang bareng gue, Givvana!” tegas Saga tak ingin dibantah. Nampaknya pria itu benar-benar tak mau ada satu hama pun di sini.


“O–oke.” Pasrah. Vana mengikuti langkah besar Saga, membuatnya kewalah mengekori. Ini Saga sedang marah atau bagaimana?


Di belang sana, Dira masih diam di tempatnya menatap kepergian Vana san Saga yang semakin jauh melangkah.


“Mundur, Bro. Vana udah ada pawang,” peringat Ega menepuk bahu Dira menguatkan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2