
***
Saga yang tengah menatap aneh istrinya yang sedang memasak, membuat sang empu yang ditatap risih akan tatapan itu. Dia takut, kalau-kalau Saga benar sudah curiga akan identitasnya yang palsu.
Sedari tadi, pria itu sama sekali tak mau mengalihkan sedetik pun kedua netranya dari Tisya yang menyamar sebagai Vana.
Semoga saja Saga tidak curiga, pikirnya. Gadis itu pura-pura fokus pada masakannya ketika berusaha menghindari tatapan Saga yang mencari celah kebohongan di wajahnya.
“A–a–apa, sih? Lo liatin gue mulu dari tadi!” kesal Tisya akhirnya membuka suara.
Tunggu. Saga baru tahu suara Vana berubah saat ini. Biasanya wanita itu berbicara dengan suara cempreng dan melengking, tapi sekarang ... berbeda.
“Lo lagi batuk, Va? Kenapa suara lo serak gitu?” tanya Saga, seraya mendekatkan tubuhnya ke arah Tisya yang sudah kalang kabut.
“Uhuk, uhuk! Iya. Udah dari kemaren sebenarnya, cuman baru kerasa sekarang.”
“Dih, giliran gue tanya pura-pura batuk lu! Mau cari perhatian? Minum obat ntar!”
“Iya.” Tisya membalas sekenanya.
“Buruan itu masaknya! Gue udah laper pake banget.”
“Iya.”
***
Vana baru saja melangkahkan kaki memasuki lift untuk menuju lantai 4, tepat di mana apartemen-nya berada.
Tiba-tiba, satu buah tangan kekar langsung membekap mulutnya, kemudian menarik wanita itu menjauh dari lift sebelum tertutup dan membawanya kabur.
Orang itu tak peduli dengan rontaan Vana yang memukuli lengannya, sejurus kemudian mereka sudah berada di dalam sebuah mobil yang tak asing di mata Vana.
Wanita itu disandarkan di jok bagian belakang dengan kedua tangan dan kaki terikat sempurna. Kemudian mengambil ponsel Vana yang tersimpan tak jauh di dalam tas untuk diberikan kepada Tisya.
“Lepasin gue! Lepasin!” teriaknya mencoba melepaskan ikatan tali itu, tetapi kakinya malah terasa pedih karena tergesek-gesek dengan sangat keras.
“Diam! Atau tidak ada kata ampun untuk kamu!” Orang itu balas membentak, menatap Van dengan sorot mata tajamnya.
Dia lagi. Ya, orang itu. Orang yang sebelumnya juga telah menculik Vana dan membawanya ke gudang dan menyiksa wanita itu di sana.
“Elo lagi? Pasti Elsa ‘kan, yang udah suruh lo buat culik gue?! Lepasin! Lepasin! Tolo—”
Plak!
Seketika Vana mengatupkan bibirnya rapat, kala satu tamparan binasa mendarat di sebelah pipinya, hingga wanita itu refleks tertoleh ke samping. Perih.
__ADS_1
Gery menyeringai puas setelah melihat Vana yang sekuat tenaga menahan air matanya untuk tidak melesat sekarang. Setelahnya, cowok itu melajukan mobil ke satu arah yang Vana pun tak tahu akan dibawa ke mana.
Apa dia akan disekap di gudang lagi? Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Dia harus memikirkan cara untuk bisa selamat dari si iblis Elsa dan Gery.
“Lepasin gue, atau gue bakal cari cara biar kalian ditangkap polisi!” Tampaknya Vana tengah mengancam, tetapi jatuhnya malah menjadi lelucon membuat Gery tertawa keras.
“Lo lagi ngelawak? Gimana lo bisa lapor polisi? Tangan dan kaki lo diikat dan HP lo ada di gue! Jangan ngaco, deh!”
“Ahk! Lepas!”
“Diam! Mau gue tutup mulut lo? Nggak cukup cuman tangan dan kaki yang diikat?!”
Bentakan Gery sangat menyeramkan di telinga, membuat Vana kicep dan tak berani lagi melakukan apa pun. Biarlah dia dibawa dulu, setelah itu dia akan kabur sejauh-jauhnya.
Diam. Dia diam bukan karena apa-apa, tetapi sedang memikirkan strategi bagaimana cara agar dia bisa membebaskan dirinya nanti ketika sudah keluar dari mobil.
Wanita itu menatap sengit punggung kekar Gery, bersiap memukulnya, tetapi takdir tak memungkinkan untuk melakukan itu. Tolonglah, dia sedang diikat. Bagaimana caranya dia melakukan itu?
Gery bergerak mengambil benda pipih di dalam saku. Menelepon seseorang di seberang sana. Vana dapat mendengar percakapan itu dengan jelas, mengingat volume suara cowok itu bukan kaleng-kaleng.
“Iya, bos. Ini dia udah ada di gue. Nanti gue bawa ke sana aja langsung.”
“Oke, bos.”
“Siapin aja duitnya. Gue bakal ngelakuin yang terbaik buat lo, bos.”
Melihat wajah garang Gery itu sangat membosankan. Dia muak! Ingin rasanya cepat-cepat keluar dari mobil dan mencakar-cakar wajah tampan cowok itu.
Sebenarnya dia akan dibawa ke mana oleh jelmaan kuyang ini? Kalau di gudang hari itu, dia akan mudah keluar karena Tisya selalu melintas dari sana. Dia hanya tinggal berteriak saja, pikirnya.
Vana yang malang. Padahal Tisya sudah sekongkol dengan tragedi penculikan ini. Banyak orang munafik di sekitarnya. Dia harus hati-hati dalam bergaul.
***
Malam hari telah tiba. Di dalam salah satu apartemen gedung pencakar langit, tampak dua orang yang sedang berada di depan TV yang menyala.
TV itu tengah menampilkan drama korea yang biasanya Vana selalu bersemangat menonton. Beda dengan hari ini. Vana palsu itu tampak malas dan hanya fokus pada camilannya.
“Va, besok lo nggak bisa pergi bareng gue, soalnya gue udah janji sama Elsa mau jemput dia.” Saga membuka suara, memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.
“Yaudah, sih, gue juga nggak mau diboncengin lo.” Tak menyangka Vana akan menjawab seperti itu. Hal itu sangat menyebalkan di mata Saga.
Pria itu menatap lekat Tisya yang asik dengan camilannya. Tanpa sadar, tubuhnya semakin dekat dengan gadis itu dan ....
Cup!
__ADS_1
Satu kecupan hangat mendarat di pipi Tisya, seketika membuat gadis itu terpaku dengan mengunyah pelan sisa-sisa makanan di mulutnya.
“Ha ... l–l–lo ... ci–ci*m gue?” Gadis itu bertanya dengan suara yang bergetar. Masih shock atas perlakuan Saga tadi. Sedangkan pelaku yang sudah melakukan itu hanya santai, malah menampilkan senyum manisnya.
Sial! Dia malah ‘dag dig dug’ sekarang. Bisa dipastikan wajahnya memerah, bahkan rasa panas sudah menjalar ke seluruh tubuh. Seketika senyuman khas-nya terbit dengan sempurna, hingga menampilkan deretan gigi putih yang tidak rapi.
Ah ... rasanya dia tidak ingin pergi jauh dari sini. Dia akan menyamar sebagai Vana lebih lama lagi.
***
Sudah cukup lama Vana dibawa melaju dengan mobil bersama Gery, hingga matahari pun sudah tenggelam dari cakrawala, berganti dengan bulan yang bersinar terang malam ini.
Beberapa lama kemudian, mereka berhenti di sebuah gedung pencakar langit yang di halamannya banyak sekali kendaraan-kendaraan yang terparkir.
Tempat apa ini? Bisa dibilang, mereka sudah berada di kota sebelah yang jaraknya tidak dekat dengan kota tempat Vana tinggal sebelumnya. Orang-orang yang keluar dari gedung bawah itu membuat Vana bergidik, memprediksi apa yang akan terjadi padanya.
Jangan bilang, Gery akan menjualnya di tempat maksiat ini? Bisa dilihat dari senyuman smirk yang terbit di wajah cowok itu.
Sebelum pergi ke sini, terlebih dulu mereka bertemu dengan Elsa hanya sekedar memberikan ponsel Vana yang nantinya akan diserahkan lagi kepada Tisya. Hal itu dilakukan untuk menyempurnakan penyamaran.
Gery menyeret Vana keluar dari mobil itu, masih dengan kedua tangan terikat, tetapi ikatan di kakinya sudah dilepaskan terlebih dulu.
“Aku nggak mau!” Vana meronta, menahan tubuhnya agar tidak terseret, tetapi tenaganya tak cukup kuat melawan Gery.
“Ikut gue, atau gue bakal ngelukain lo di sini!” ancam cowok itu horor, tetapi masih ada keberanian Vana untuk menolak.
“Nggak mau! Lepasin gue! Lepasin!”
Plak!
Lagi dan lagi, cara Gery membuat Vana diam sungguh kasar, hingga menampar pipi mulus wanita itu untuk yang kedua kalinya.
Sial! Rasa perih yang sebelumnya saja masih belum hilang, malah ditambah lagi oleh si iblis ini dengan yang lebih kuat. Apa jadinya pipi Vana sekarang?
Akhirnya Gery dengan mudah menyeret wanita itu dari sana, memasuki gedung pencakar langit itu langsung disuguhi aroma tak sedap dari orang-orang yang berlalu lalang. Alkohol.
‘Sumpah, lebih baik gue didorong ke jurang, daripada dijual kaya gini,’ batin Vana menangis, tetapi dia tidak mau Gery melihat tangisannya.
Mereka memasuki satu lift yang akan membawa mereka ke lantai atas. Sejurus kemudian mereka sudah berada di lantai tiga dan memasuki salah satu ruangan mewah bernuansa putih.
Apa ini?
“Selamat datang, Gery! Akhirnya, udah lama gue nunggu!” sapa seorang pemuda lebih tepatnya langsung menghampiri Gery dan Vana.
Pemuda itu menatap mesum ke arah Vana, membuatnya bergidik dan mendecih jijik. Apa dia akan dijual dengan pemuda tampan ini? Kalau iya ... tak apa. Setidaknya jangan om-om.
__ADS_1
‘Astaga, apa-apaan gue ini?’
Bersambung ....