
***
Vana dan Al baru saja berhenti di depan apartemen, tepat malam hari. Entah bagaimana ceritanya, yang jelas mereka menghabiskan ssatu hari itu di resto.
Bukan apa-apa, itu hanya sebagai tanda persahabatan, bukan karena hati mereka menghabiskan waktu, tapi karena pertemanan.
Vana mengembuskan napasnya, menetralkan degupan jantung yang berpacu empat kali lebih cepat dari biasanya. Ada rasa takut, sakit dan malas menginjakkan kaki di apartemen itu.
Drt, drt!
Suara getaran ponsel. Membuat mereka refleks menghentikan langkah, sebelum memasuki lift untuk menuju lantai 4.
“Halo, ada apa?”
“Sekarang?”
“A–a–apa nggak bisa besok aja? Yaudah, tunggu saya sampai jam 9 malam.”
Al berbicara serius dengan orang di seberang sana. Raut wajahnya yang berubah kecewa membuat Vana mengerti dan mengangguk pasrah.
“Nggak papa, Kak. Kerjaan Kakak lebih penting. Aku bakal urus semuanya dan janji bakalan kabur lagi,” ucap wanita itu tersenyum ramah.
“Huft ... makasih, Va.”
“Hey, justru aku yang harus bilang makasih, karena Kakak udah banyak berkorban buat aku. Makasih banyak ya, Kak?”
“Iya, sama-sama. Aku pergi dulu, ya? Strong!” Al mengangkat tangan kanannya memberi semangat, sebelum akhirnya melanhkah menjauh dari gedung apartemen dan memasuki kembali mobilnya.
Sekali lagi, Vana mengembuskan napasnya pasrah. Apa dia bisa menahan air matanya nanti? Ah ... dia mulas! Terlalu deg-degan hingga perutnya pun terasa acak-acakan.
__ADS_1
“Ayo, Va, buruan!” monolognya dan memencet tombol lift, menunggu hingga pintunya terbuka.
Rasanya lama sekali saat ini dia lift-nya berjalan. Apa karena dia yang gugup? Tak berapa lama, pintu lift terbuka dan dengan langkah pasti wanita itu masuk ke dalam sana.
Berdiri tegang di depan pintu apartemen, masih menimang-nimang apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa dia harus mengakhiri hubungannya dengan Saga?
Ah, tidak. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan Al, bahwa dia akan tetap mempertahankan rumah tangganya. Entahlah, kalau kejadian nanti bisa ditoleransi.
Di dalam sana, Saga tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur, lelah yang ia rasakan karena satu hari ini sibuk berdiskusi demi sebuah rencana. Bukan mencari Vana, tetapi rencana lain.
Baru saja pria itu selesai membersihkan tubuhnya, hingga akhirnya tubuhnya lebih segar dari sebelumnya.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu yang membuatnya langsung bangkit, walaupun kakinya sulit untuk berjalan, tetapi ia paksakan juga.
Cklek!
“Mau ngapain lo ke sini?” tanya pria itu to the point, seraya bersedekap dada masih menatap wanita di hadapannya.
“Aku cuman mau mastiin kamu, kalo aku ini Vana yang asli, Ga.” Berusaha biasa saja, padahal tadinya dia mulai down karena pertanyaan Saga yang seperti tak suka.
“Iya, gue tahu! Dan gue juga mau mastiin lo, kalo gue udah benci banget sama lo. Jijik sama lo yang udah tidur sama laki-laki lain, cih! Dan gue mau, lo pergi dari sini!”
Vana terpaku, benar-benar tak menyangka dengan respon Saga yang malah merendahkannya. Bukannya meminta maaf, ataupun menyambutnya dengan hangat.
Matanya terasa perih, tak sanggup lagi berkata-kata. Benteng pertahanan yang susah payah ia bangun runtuh kembali, membuatnya ingin jatuh dan menangis saat ini juga.
“Gue nggak sudi, punya istri murahan kaya lo! Pergi! Bawa barang-barang lo dan gue bakal segera urus surat perceraian kita.”
__ADS_1
“Aku, aku nggak ngelakuin apa pun sama Al,” lirih Vana mendongak, menatap Saga dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Nggak usah pura-pura bego. Muka polos lo itu, buat gue muak! Ternyata lo nggak lebih baik dari dua iblis itu!” teriak Saga mengarah kepada Elsa dan Tisya yang dimaksud dengan dua iblis.
“Gue nyesel, udah belain lo sampe penjarain Elsa!”
Vana mengepalkan tangannya, panas mendengar kata-kata pedas yang keluar dari mulut Saga.
“Gue memang nggak lebih baik dari mereka! Gue juga nggak pernah ngelakuin sedikit pun kebaikan buat lo! Tapi gue bukan cewek murahan, yang kaya lo bilang! Gue tahu, gue nggak lebih baik dari iblis, tapi gue nggak pernah ngelakuin hal menjijikkan kaya iblis yang lo maksud!”
“Oke, gue bakal pergi dan bawa barang-barang gue dari sini. Gue bersumpah demi apa pun, gue nggak bakalan balik lagi ke sini, dengan alasan penyesalan lo di kemudian hari!”
Wanita itu berjalan cepat memasuki apartemen, mengambil semua baju-bajunya di dalam almari, kemudian pergi tanpa memperdulikan tatapan Saga yang sulit untuk ditebak.
Tanpa berkata-kata lagi, wanita itu langsung berlari menjauh dari apartemen itu dan keluar menggunakan lift.
Dia tidak peduli Saga akan menceraikannya. Dia tidak peduli kalau pria itu lebih memilih Elsa, daripada dirinya, tapi tolong! Perkataan Saga yang mengatakannya wanita murahan itu lebih menyakitkan dari apa pun.
Sesak, ia berhasil memecahkan tangisnya sembari berjalan di bahu jalan tak tentu arah. Ia benar-benar menyesal telah menuruti permintaan Al untuk datang lagi ke apartemen itu. Ia benar-benar menyesal, bertemu lagi dengan Saga.
“Bodoh! Lo bodoh, Vana, lo bodoh! Lo memang nggak pantes dipasangkan sama Saga yang terlalu pintar. Terlalu pintar menyakiti dan terlalu pintar mengelabui dengan cinta yang pura-pura!”
Detik itu juga, hujan deras mengguyur kota Jakarta, mengguyur Givanna yang menangis histeris, berjongkok dengan kedua lutut ia jadikan sebagai penyangga kepala.
Dia tak peduli dengan hujan yang akan membuatnya demam. Yang jelas, dia hanya berharap air hujan itu akan membawa semua kesedihannya dan memberikan dunia baru untuknya. Memulai hidup baru tanpa adanya Saga yang sama sekali tidak ada secuil pun yang bisa diharapkan dari pria itu.
Semoga saja keinginannya kepada hujan akan terkabulkan.
Entah hujan itu langsung berhenti atau bagaimana, sekarang Vana sudah tak terkena guyuran hujan itu, terlindungi saat satu payung berdiri kokoh di atas kepalanya.
__ADS_1
“Aku sayang sama kamu, Va.”
Bersambung ....