PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 6


__ADS_3

\*\*\*


“Gue suami lo!” jawab Saga melendotkan tubuh Vana di daun pintu apartemen yang sudah terkunci.


Vana meringis, kala punggungnya terhantam oleh daun pintu itu. Meronta mencoba melepaskan cekalan Saga di kedua pundaknya, tetapi tenaganya tidak cukup, untuk melawan pria itu.


“Lepasin gue! Gue mau pergi!” ucapnya dengan suara yang bergetar menahan tangis. Tidak. Dia dia tidak boleh menangis di hadapan pria bereng*ek itu.


“Kalo gue bilang enggak, ya enggak! Lo mau gue kasarin?!” Bukannya melepaskan cekalannya pada bahu Vana, Saga malah semakin mencengkramnya kasar.


Sorot mata tajamnya tak lepas sama sekali dari manik mata Vana yang sudah berkaca-kaca dan memerah.


“Lo nggak ada hak, buat ngatur-ngatur gue! Lepasin!”


Plak!


Satu tamparan kuat mendarat di pipi mulus Vana, setelah wanita itu berteriak menepiskan dengan kasar tangan Saga dari bahunya.


“Berani ya lo, bentak-bentak gue, ha?” seringai Saga, tetapi kali ini dengan volume pelan.


“Lo nggak boleh pergi!” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Saga mendudukkan kasar tubuh Vana di atas lantai, kemudian berlalu menaiki satu per satu unduhan anak tangga untuk menuju kamarnya.


Vana terduduk lemas, bersandar pada tembok sebelah pintu utama apartemen. Memegang pipinya yang terasa berdenyut, serta pinggangnya yang amat sangat sakit, karena dia terbanting dengan kasar tadi.


“Pa ... aku mau pulang,” lirihnya seraya menderaskan aliran air mata, masih dengan tangan yang memegang sebelah pipinya.


Cukup lama wanita itu terduduk di lantai, seraya menangis hingga jam sudah menunjukkan pukul 23.10.


Meraba saku celananya, mencari benda pipih yang sebelumnya dia masukkan ke dalam saku celana jeans-nya. Baru menyadari, bahwa ponselnya juga diambil oleh Saga.


“Sial! Gue terlalu bodoh!” ruruknya pada diri sendiri.


Perlahan wanita itu berdiri dari duduknya dan berjalan dengan tertatih-tatih menaiki unduhan anak tangga, untuk menuju kamarnya yang berada di sebelah kanar Saga.


Sesampainya di dalam kamar yang berukuran minimalis itu, Vana mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.


Netranya berhenti pada satu titik yaitu laci nskas, mengingat di sana terdapat sesuatu hal yang berstatus privasi miliknya.


Sebuah buku diary dia simpan di dalam laci nakas itu. Mengambilnya dengan cekatan, membuka lembar demi lembar buku yang berisi curahan hati itu.


*17 Juli 2020*

__ADS_1


Cinta yang tak semestinya.


Hari ini adalah hari ke-6 aku menjadi ketua OSIS di SMA Andara. Di tahun kedua aku berada di SMA itu, akhirnya aku mendapatkan jabatan yang sangat berharga.


Tadi pagi, aku menemukan satu orang Siswa yang notabennya adalah siswa brandal di Andara. Entah kenapa, aku malah menyukainya. Menyebalkan!


Dia adalah, Saga Praja Askara


Vana tersenyum miris, membaca lembar ke sekian dari buku hariannya. Menutup dengan perlahan buku harian itu, kemudian menyimpannya kembali di laci nakas.


POV Vana


Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, tetapi aku masih setia membuka mata, mengeluarkan cairan-cairan bening yang tak henti sedari tadi.


Kepalaku terasa sakit sekali sekarang, serta napas pun terasa panas, sulit untuk memejamkan mata. Yang kulakukan sekarang hanyalah menangis dan menangis.


Mungkin aku terlalu bodoh, menangisi orang yang tak semestinya pantas untuk ditangisi. Untuk apa aku menangis? Hanya membuang tenaga dan air mata.


Cinta telah membutakan segalanya, hingga aku benar-benar bodoh hanya karena cinta. Menyesalkah? Tentu saja! Aku sangat menyesal sudah membuatnya benci padaku.


Jika kalian berpikir bahwa aku membencinya, itu salah besar. Aku menyukainya, sejak pertemuan pertama kami di gerbang SMA Andara, saat aku menghukumnya.


Itulah yang kutakutkan. Aku tak ingin membuat Saga semakin membenciku, jika dia tahu bahwa aku mencintainya.


Aku bahagia menikah dengannya, bahkan aku amat sangat bahagia. Sekarang, aku tidak akan peduli dengan perasaanya. Yang jelas, aku akan tetap mencintainya.


Biarlah waktu yang menjawab, sampai mana hati ini bertahan akan perlakuannya yang menjengkelkan. Biarkan dia membenciku sampai kapanpun, aku tidak peduli.


Aku mengembuskan napasku lelah, menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih itu. Tak lama, mataku pun terpejam, menyusul semua orang ke dalam mimpi.


\*\*\*


Suara bising ayam jantan berkokok, seketika membangunkanku dari alam bawah sadar yang bertolak belakang dengan realita. Huft ...!


Aku merasakan sinar mentari masuk dari celah-celah jendela, menerpa wajahku, hingga aku sulit untuk membuka mata.


Menoleh ke arah handphone, kemudian melihat jam yang tertera di beranda awal benda pipih itu. Sudah jam 07.00.


Aku kesiangan. Untung saja hari ini adalah hari Sabtu, jam masuk sekolah adalah jam 09.00. Jadi aku tidak perlu risau jika terlambat.


Menyibakkan selimut, aku berjalan dengan susah payah mendekati kamar mandi, karena kepalaku masih sangat pusing sekarang ini.

__ADS_1


Sebenarnya aku malu ke sekolah, karena aku akan bertemu Dira nantinya. Apa yang akan kukatakan, karena aku sudah melanggar janji?


\*\*\*


Author POV


Vana tengah berada di dapur sekarang, berkutat dengan alat-alat dapur, memasak sesuatu yang berbau barum di sana.


Memang dia hanya memasak tumis udang, tetapi entah kenapa masakannya itu benar-benar menggugah selera.


Suara derap langkah kaki seseorang terdengar semakin jelas, di balik tubuh Vana. Wanita itu berbalik, mendapati Saga yang sudah berdiri di belakangnya, memakai masker menutup mulut dan hidungnya.


“Buang masakan lo itu!” perintah cowok itu datar. Kini, kedua tangannya sudah berada di dalam saku abu-nya.


Vana mengerutkan alisnya, menatap tumis udang yang sudah siap ia hidangkan di dalam piring yang berbentuk daun.


“Lo nggak denger? Gue bilang buang, ya buang! Mau lo gue buat kaya tadi malam, ha?!”


“Tapi kenapa harus dibuang?” tanya Vana, hampir tak terdengar, karena dia masih demam sekarang dan kondisinya juga melemah.


“Gue nggak suka udang, apalagi nyium baunya yang buat gue mual, tau nggak! Gue alergi!” bentak Saga, kini matanya sudah memerah berair. Sepertinya dia sedang menahan alergi. Pantas saja dia memakai masker.


“Maaf,” lirih Vana, membalikkan tubuhnya siap membuang makanan yang baru saja selesai dimasak dengan susah payah itu.


Langkahnya terhenti, teringat pada seseorang yang sangat menyukai udang.


‘Dira kan suka udang. Apa aku kasih ke dia aja, ya? Sebagai permintaan maaf.’


\*\*\*


Di SMA Andara.


Saga baru saja menghentikan mobilnya di parkiran sekolah, yang masih ramai dengan siswa-siswi yang mengobrol.


Akhir-akhir ini, memang pria itu jarang terlambat lagi, dengan dalih ‘malas dihukum oleh Vana. Tak sopan dihukum oleh istri,’ katanya.


Di belakangnya, Vana juga baru saja sampai dengan membawa sepeda pink kesayangannya. Bukan dia tidak punya motor, tetapi dia memang tidak bisa mengendarai motor.


Gibran begitu aneh. Dia membelikan putrinya motor mahal, padahal jelas Vana tidak bisa menggunkannya. Alhasil, motor digudangkan untuk sementara.


Pernah Dira mengajari Vana mengendarai motor, tetapi malah tertabrak angsa milik tetangga, sampai masuk ke dalam selokan. Satu minggu Vana demam pada hari itu. Sial!

__ADS_1


Vana melirik sekilas ke arah Saga yang bermain dengan ponselnya, seperti menunggu seseorang, tetapi nampaknya Saga tak peduli dengan keberadaanya. Sudahlah!


Bersambung ....


__ADS_2