
**
Elsa sudah sampai di sebuah tempat penyekapan Vana yang di gudang tua. Lumayan jauh keramaian. Hanya ada beberapa rumah. Pun berjarak jauh dari sana.
Dia memasuki gudang itu, langsung mendapati sosok wanita yang sudah diikat dengan rapi dalam keadaan yang mengenaskan. Beberapa luka lebam sudah terbit di wajahnya.
“Aku datang, Jalang!” seringai Elsa, merentangkan tangannya, kemudian berjongkok tepat di hadapan Vana.
Gadis itu mengelus pelan wajah lebam Vana, beberapa detik kemudian menampar keras wajah itu, hingga bercak darah mengalir dari sudut bibir Vana.
Wanita itu hanya diam, percuma rasanya dia berteriak dan meminta dilepaskan, malah kedua orang itu semakin gencar memukulnya.
“Gue benci banget sama lo, Jalang!”
Plak, plak, plak!
Vana memejamkan mata, rasa sakit tamparan itu tak sebanding dengan rasa sakit perbuatan Saga selama ini. Memang tidak menyelakai fisiknya, tapi menyelakai batinnya.
Dia berharap, Elsa akan segera membunuhnya, hingga dia tidak perlu merasakan penderitaan semakin lama.
“Lo udah hampir rebut Saga dari gue dan dengan nggak ada otaknya lo malah buat Saga cinta sama lo!”
Plak!
Mungkin di sinilah amarah Elsa sudah menjadi-jadi. Dia meluapkan segala kekesalannya, hingga melakukan hal yang tak wajar kepada orang yang dinyatakan tak bersalah.
“Aku nggak pernah maksa Saga buat cinta sama aku. Yang kutahu, dia cuman benci, nggak ada yang rasa lain, selain kebencian—”
“Bacot!”
Plak!
Benar-benar anarkis. Habis sudah Vana babak belur. Tamparan dan pukulan terus dilayangkan, tanpa rasa iba melihat wanita yang sudah tak berdaya itu.
Buk!
__ADS_1
Elsa menginjak perut Vana dengan sepatu tumitnya, detik itu juga wanita itu berhasil memejamkan matanya. Lelah! Sakit dan lemas, berpadu menjadi satu dalam tubuhnya.
“Semoga aja lo bener-bener mati di sini!”
Setelahnya, Elsa pun pergi dari gudang itu dan diikuti oleh orang suruhannya yang sebelumnya mengeratkan tali di tubuh Vana yang sudah tak bisa melakukan apa-apa.
Rasanya, seluruh tenaganya sudah hilang karena Elsa. Bahkan untuk menangis saja tak cukup kuat dilakukan.
“Papa,” lirihnya. Menyandarkan kepala di tiang yang diikatkan dengannya. Perlahan demi perlahan air mata itu jatuh tanpa diminta. Keluar begitu saja meluapkan kesedihan yang mendalam.
***
Seorang pria baru saja menuruni mobil yang sudah terparkir rapi di halaman luas apartemen. Pria itu melangkah memasuki apartemen dengan tergesa-gesa dan memasuki lift menuju lantai empat.
Sesaat kemudian, sampailah dia di lantai empat dan langsung memasuki apartemen miliknya.
Lebih dulu Saga mengecek kamar Vana, kalau-kalau wanita itu belum tidur dan harus di-ruqyah terlebih dahulu.
Cklek!
Melangkah semakin dalam, pria itu membuka pintu kamar mandi, siapa tahu Vana sedang mandi kembang tujuh rupa. Tidak mungkin orang mandi jam 00.18, kalau bukan mandi kembang ‘kan?
Tidak ada juga.
“Buset, apa masih di luar bareng temen-temennya? Mana mungkin dia pergi bareng temen-temennya. Orang tadi temen-temennya lagi kumpul sama temen-temennya. Eh, apa, sih?”
Keseriusan mulai melanda pikirannya. Seketika pikiran buruk terlintas begitu saja tanpa permisi.
“Nggak mungkin Vana kabur. Kalo seandainya kabur juga nggak bakalan dibukain pintu sama bapaknya,” gumam pria itu meletakkan tangan di pinggang.
Mulai menyusuri pandangannya ke sekeliling, berharap mendapatkan petunjuk apa pun di sana. Nihil!
“Hoam ... gue udah ngantuk. Yaudahlah, paling besok balik lagi.”
Saga melangkahkan kakinya keluar dari kamar Vana, setelahnya dia memasuki kamarnya dan bergegas membersihkan diri di kamar mandi.
__ADS_1
***
Jam sudah menunjukkan pukul 05.50. Saga masih meringkuk di balik selimutnya, disertai dengan dengkuran halus yang keluar tak beraturan.
Biasanya alarm pria itu setiap pagi adalah Vana, tetapi berhubung Vana tidak ada dan dia pun lupa menyetel alarm, yasudah pasti pria itu akan terlambat. Padahal ini hari Senin.
Di sisi lain, Vana baru saja membuka matanya, menyesuaikan netranya dengan cahaya lampu yang masuk, kemudian menguap sejenak.
Wanita itu meringis, merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Wajahnya terasa pedih, bahkan untuk mengerjap pun sakit.
“Awh ... kenapa aku masih di sini, Ya Allah? Sampai kapan aku di sini?” gumam wanita itu dengan suara yang bergetar menahan sesutu.
Ada rasa takut juga yang menyelimutinya, merasakan hawa-hawa kesendirian di dalam gudang tua yang memancarkan bau amis.
Berkali-kali wanita itu menggoyangkan lengannya, berharap tali yang mengimat sedikit mengendur dan bisa terlepas.
Rasanya mustahil. Lelah sudah dia mencoba melepaskan tali itu, tetapi tak ada tanda-tanda keberhasilan. Ikatannya kuat sekali.
“Tolong! Tolong! Tolong! Siapa pun, tolong!” Wanita itu berteriak, mengarahkan kepalanya ke kanan dan kiri, supaya suaranya dapat menembus tembok gudang itu.
“Tolong! Tolong saya!”
“Tolong ...!”
“Siapa pun orang yang ada di luar, lepasin saya!”
Percuma! Mungkin, memang nasibnya yang akan mati di dalam gudang itu. Tenggorokannya tercekat, haus. Siapa yang akan memberikannya minum?
***
Benar seperti dugaan, bahwa Saga akan terlambat hari ini. Lihatlah! Dia berdiri di tempat yang terpisah beserta jajaran-jajaran murid yang terlambat. Panas, terjemur oleh matahari.
Sedari tadi pria itu fokus pada barisan kelas XI IPA 2, mencari keberadaan seseorang yang sedari malam ia cari-cari.
Malah Elsa sudah memasang wajah horor, sedari tadi memperhatikan Saga yang tatapannya tak teralih sama sekali dari kelas Vana.
__ADS_1
Bersambung ...