PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 8


__ADS_3

Vana dan Agil sontak menoleh menatap empat orang di sana. Salah satu dari mereka sudah menyorot tajam ke arah Agil, napasnya pun sedikit memburu menahan sesuatu.


“Iye. Va, aku duluan ke kantin, ya? Kamu nggak mau ikut?” tanya Agil menatap Vana yang sudah kalang kabut.


“Ng–ng–nggak usah, Gil. Kamu duluan aja. Lagian aku nggak laper,” balas Vana menunduk, pura-pura sibuk dengan gawainya, mengabaikan tatapan Saga yang terus memperhatikan.


Agil melangakah mendekati keempat temannya, kemudian sama-sama berjalan meninggalkan Vana kembali di ruang kelas itu sendiri.


Tak berapa lama, satu Siswa memundurkan langkahnya, kemudian berhenti tepat di mana sebelumnya dia beridiri, yaitu kelas Vana.


Saga berjalan mendekat, tetapi Vana belum menyadari bahwa ada seseorang yang menghampiri. Apa yang akan dilakukan Saga?


Grep!


Pria itu mencengkram dagu Vana, membuat Vana sukses menatap manik mata Saga yang tajam, serta tersirat jelas kebencian di sana.


“Gue nggak mau lo deket-deket sama cowok lain, apalagi murid baru yang juga baru lo kenal!” ucap Saga dengan nada penekanan, fokus menatap kedua manik mata Vana dalam.


“Di—”


“Dia nggak cocok buat lo!” seringai pria itu memotong ucapan Vana.


Setelahnya, Saga melangkahkan kakinya dengan langkah berat, lagi-lagi meninggalkan Vana yang berada di kelas itu sendiri.


\*\*\*

__ADS_1


Bel pulang SMA Andara berbunyi nyaring, beriringan dengan sorak sorai seluruh siswa-siswi gembira, khususnya kelas Matematika.


Vana dan Ryn sama merapikan buku-buku mereka yang berserakan di atas meja, kemudian berpindah tempat menjadi di dalam tas.


“Va, lo pergi bareng Bira 'kan?” tanya Ryn, seraya menyampirkan tasnya di kedua bahu. Bira itu adalah sepupu dekar Dira, yang sangat kenal sekali bagaimana sosok Dira yang sebenarnya.


“Iya, Ryn. Lo nggak sekalian mau ikut? Kan Ega sendiri,” tutur Vana menarik lengan Ryn untuk berjalan lebih cepat, takut akan ketahuan oleh Saga.


Tadi, Bira mengatakan bahwa dia akan menunggu di halte waktu sore hari, tetapi Vana malah meminta untuk pergi sepulang sekolah, agar dia bisa beralasan pada Saga.


Wanita itu menghampiri Bira yang sudah siap dengan motor hitamnya, sekaligus helm yang menutup seluruh wajah.


Menerima satu helm yang diberikan oleh cowok itu, Vana menerimanya kemudian memakaikan di kepala tentunya.


Di belakang sana, Ega dan Alfin mengikuti, serta Ryn yang berada di boncengan motor milik Ega.


Lima belas menit motor mereka melaju di jalan raya Ibukota yang padat, akhirnya berhenti di salah satu kompleks perumahan elit dan berhenti tepat di halaman luas salah satu rumah megah di sana.


“Ini rumah Dira?” tanya Vana setengah berbisik, melepaskan helm yang dikenakan, setelahnya mengembalikan pada Bira.


Cowok yang berada di hadapannya itu hanya mengangguk, menarik pergelangan tangan Vana agar memasuki rumah megah itu.


Di dalam sana, Vana mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu dengan senyuman camggung yang entah sejak kapan terbit di wajahnya.


“Eh, kamu yang namanya Vana, bukan? Tante tahu, soalnya Dira pernah nunjukin foto kamu,” ujar wanita paruh baya yang tengah membawakan nampan dengan gelas yang berisikan syrup.

__ADS_1


“Ha? I–i–iya, Tante,” jawab Vana gugup, sekaligus malu.


Kenapa Dira menunjukkan foto dirinya kepada mamanya? Rasanya Vana ingin berlari dari suasana canggung itu sekarang juga.


“Kalo mau lihat Dira masuk aja ke kamarnya, soalnya dia nggak sanggup buat berdiri.”


Vana mengangguk, mencengkram lengan Ryn yang duduk di sampingnya tengah asik bercanda ria dengan Ega.


“Lo duluan aja, Va. Ntar gue nyusul,” kata cewek itu, seperti tahu maksud sahabatnya.


Vana berjalan meninggalkan beberapa orang yang duduk di sofa, menaiki satu per satu unduhan anak tangga, untuk menjenguk Dira yang katanya sedang sakit.


Wanita itu berhenti pada satu buah ruangan, dengan pintu yang tertutup rapar. Membukanya dengan perlahan, memastikan bahwa itu adalah kamar Dira.


Benar saja. Vana langsung melihat ada seseorang yang sedang tertidur di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutup setengah tubuhnya, serta kain komores yang berada di dahi.


\*\*\*


Di dalam sebuah kolam renang yang berada di salah satu apartemen, beberapa jajaran siswa badung tengah berkumpul ria, menghisap masing-masing vape di tangan. Tak lupa, ditemani oleh minuman soda berbagai rasa.


“Ga, gue heran betul deh ke lo. Di sisi lain lo bilang kalo lo benci sama Vana, tapi di sisi lain, lo malah cemburu waktu dia deket sama cowok lain, yang notabennya adalah sepupu lo send—”


“Gue nggak cemburu. Gue cuma nggak mau aja, kalo Vana melanggar fitrahnya sebagai seorang istri. Kan jatuhnya jadi dosa!” potong Saga cepat, meneguk segelas soda yang sudah dituang dari botolnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2