
***
Vana melangkahkan kakinya, perlahan demi perlahan menyembunyikan erat potongan kaca yang amat tajam itu. Padahal tangannya sudah terluka akibat genggamannya yang terlalu erat.
“Udah? Ayo tidur!”
Menggeleng, buru-buru Vana mendorong tubuh Al yang berjarak hanya beberapa centi darinya, kemudian berlari cepat mendekati pintu keluar.
Tidak semudah itu. Tangannya sudah dicekal erat oleh si cowok dan ditarik menjauh dari pintu dengan menggeram horor.
“Kau mau kabur, ha? Kamu pikir bisa? Jangan mencari masalah denganku, atau kau harus bermain lebih lama lagi untukku!” Teriakan Al bukan main-main. Terdengar jelas bahwa cowok itu sedang menahan emosi. Apalagi melihat wajahnya yang memerah menyala.
“Lepasin gue! Atau wajah tampan lo, bakal gue lukain!” Vana tidak takut, mengangkat satu tangannya yang bebas dengan serpihan kaca, dekat sekali dengan wajah Al.
“Benarkah? Apa kau sedang menakut-nakutiku? Dengarlah, Jalang! Aku yang akan melukaimu lebih dulu!”
Bruk!
Tubuh Vana terpental, kala satu dorongan kuat membuatnya tak bisa mengendalikan tubuh, hingga punggungnya terbentur sangat keras di tembok kamar itu.
Potongan kaca yang semula digenggam terjatuh ke lantai, membuatnya semakin pecah dan menghasilkan satu kepingan yang lebih tajam.
Al mengambil kepingan kaca itu dan mendekati Vana yang tengah meringis memejamkan matanya.
Belum menyerah, wanita itu mengangkat kakinya menendang kaki si cowok, bersyukur tendangannya terasa hingga membuat cowok itu terduduk di lantai.
Buru-buru dia bergerak gesit kembali ke arah pintu dan berhasil memegang ujung knop. Syukurlah tak dikunci.
Srek!
“Awh!”
Seketika kedua netra Vana yang sebelumnya redup, membulat merasakan sesuatu yang tergores di satu lengannya. Mendongak, mendapati Al yang sudah tersenyum puas, karena telah berhasil melukai wanita itu.
“Bi*dap!”
Bruak!
“Ahk!” Satu tendangan lagi berhasil Al dapatkan, kali ini mendarat di perutnya. Refleks cowok itu bergerak mundur, sedangkan Vana memanfaatkan kesempatan itu untuk lari.
Darah tak berhenti bercucuran dari lengannya yang terluka. Goresan lukanya lumayan panjang. Tidak perlu waktu lama rasa perih sudah berhasil membuat wanita itu gusar, hingga sakitnya menjalar ke ubun-ubun.
Dia terus berjalan di tengah dinginnya hawa malam. Tak tahu mau ke mana, bahkan dia belum pernah ke kota padat ini sebelumnya.
Rasa takut, lelah dan sakit berpadu menjadi satu. Jadilah menyebabkan tubuhnya terasa lemas, seakan tak sanggup lagi untuk berjalan. Tidak! Dia tidak selemah itu, jangan bodoh!
Kalau saja tadi dia tidak melawan, pasti tangannya tak akan terluka dan ia pun tak merasakan ketakutan dan kedinginan seperti ini. Kan dia bisa kabur besok, sebelum Al bangun. Dasar, bodoh!
“Sekarang aku harus ke mana? Uang aja nggak punya. Gara-gara si iblis jantan dan betina itu, aku jadi menderita kaya gini! Dasar, iblis!” teriaknya di tengah bisingnya suara kendaraan yang berlalu lalang. Setidaknya teriakan itu sedikit meredakan emosinya.
“Handphone juga diambil! Secara nggak langsung, mereka itu udah nyuruh aku buat bunuh diri!”
__ADS_1
“Givanna!”
Seseorang memanggil namanya dan dia tahu siapa orang itu. Al Fikri Hersya Wijaya. Tanpa pikir panjang wanita itu berlari menjauh, padahal stamina tubuhnya sudah sangat minus.
“Jangan lari! Woy!”
Benar ‘kan? Itu Al. Mau ngapain lagi cowok itu? Jangan sampe Vana ditahan lagi.
“Berhenti, Givanna! Jangan lari! Givanna, awas!”
Bruak!
Suara teriakan itu menghilang, sayup-sayup Vana mendengar suara langkah kaki orang-orang yang mendekat. Apa yang terjadi? Gelap. Semuanya gelap. Cahay lampu jalan yang sebelumnya terang meredup, hingga akhirnya menghilang dari kedua netranya.
Seorang pemuda berlari, menyingkirkan orang-orang yang hanya bisa menonton. Tak tahu diri, bahkan ada yang menikmati insiden mengenakskan itu.
“Givanna.” Pemuda itu mengangkat tubuh sang wanita yang menjadi korban dalam kecelakaan beberapa menit lalu.
Nanar dia menatap darah yang menggenang di jalan. Entah kenapa, ia1 benar-benar khawatir pada wanita yang saat ini tengah digeletakkan dalam pangkuannya. Seperti ... entahlah!
Suara sirine terdengar semakin kuat, kala satu ambulan datang dan berhenti tepat di hadapan Al. Tanpa pikir panjang, cowok itu langsung mengangkat Vana dari sana dan memasuki ambulan yang akan membawa mereka ke rumah sakit.
***
Di dalam sebuah ruangan yang berhawa dingin, terdapat dua orang dengan posisi berbeda. Salah satu diantaranya tengah terbaring tak sadarkan diri di atas brangkar khas rumah sakit, sedangkan yang satunya sibuk merecoki, berusaha membangunkan orang itu.
Dia pun tak tahu, entah kenapa dia sangat penting sekali dengan keselamatan Givanna yang notabennya adalah orang asing. Padahal biasanya, cowok itu sangat cuek dengan orang-orang, bahkan dengan wanita yang tengah ia sewa sekali pun.
Sedari tadi cowok itu terus berbicara, hingga mengeluarkan kata-kata ajaib untuk membangunkan sang putri tidur yang tak tahu diri ini. Bisa-bisanya dia membuat orang khawatir.
Lega, saat jari jemari yang ada di genggamannya bergerak tak kentara, tetapi dia bisa merasakan pergerakan halus itu.
Seulas senyuman terbit di sudut bibirnya, menatap lekat wajah putri tidur yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya untuk sadar.
“Ah ... akhirnya,” gumamnya mengembuskan napas lega. Sepeduli itukah dia pada Vana?
Berbeda halnya dengan Al, Vana justru malah mengerutkan alisnya bingung. Kenapa masih pemuda itu? Bukankah di alam bawah sadarnya tadi dia sedang bersama Saga?
‘Kok dia? Saga di mana?’ batin wanita itu bertanya. ‘Gimana caranya biar aku bisa lepas dari dia? Atau aku pura-pura amnesia aja? Oke.’
“K–k–kamu siapa?” tanya Vana meringis, memegangi kepalanya yang pura-pura sakit, padahal tidak.
“Aku? Kamu nggak tahu aku? Aku, calon suami kamu.”
“Cih! Kagak lah! Kagak jadi amnesia gue! Enek liat muke lu, malah ngaku-ngaku calon suami lagi!” Kan, Vana itu memang ajaib.
***
Di satu pagi yang cerah, kedua insan baru keluar dari tempat perlindungan dan perteduhan mereka.
Sesuai janji, pagi ini Saga tidak berangkat bersama Vana palsu, karena dia akan menjemput Elsa untuk berangkat ke sekolah. Atas pemintaan Elsa tentunya.
__ADS_1
“Lo naik ojek aja, Va. Intinya jangan naek sepeda lo, itu remnya blong. Ntar lo nyusruk!” peringat Saga sudah siap dengan motornya.
“Iya,” jawab Tisya lempeng, melirik sekilas sebuah sepeda yang tertonggok di garasi pribadi milik Saga dan Vana.
Saga mengangguk, setelahnya cowok itu melaju kencang meninggalkan halaman luas apartemen yang terdapat banyak kendaraan pemilik masing-masing apartemen yang terparkir rapi.
“Waktunya, kesempatan gue buat cari tanda tangan Vana.” Tisya tersenyum puas, balik kanan kembali memasuki gedung tinggi itu dan memasuki lift, berakhir di lantai empat.
Gadis itu memasuki apartemen dengan mudah, tidak ada sandinya lagi. Entah kenapa Saga melepaskan sandi apartemen-nya. Padahal banyak sekali barang berharga yang tersimpan di sana.
Menggeledah isi lemari mengangkat satu per satu lipatan-lipatan baju dengan perlahan. Takutnya jadi berantakan, pasti Saga akan marah. Mengingat betapa OCD-nya pria nakal itu.
“Pokonya, gue harus dapat tanda tangan itu, sekarang juga!”
Ketemu! Dia menemukan sebuah map yang di mana berisi banyak sekali berkas-berkas yang tersusun rapi dan cantik. Hal yang pertama kali terlihat adalah buku nikah.
Begitu mudahnya gadis itu mengambil salah satunya, kemudian membukanya tak tahu malu dan melihat dengan teliti sebuah tanda tangan yang harus dia copy paste-kan.
“Ternyata bukan orangnya doang, yang sederhana, tapi tanda tangannya juga. Vana, Vana, bego banget, sih, jadi orang.”
Setelahnya, Tisya merapikan kembali berkas-berkas resmi itu dan menyimpannya di tempat asal, serta merapikan pakaian-pakaian yang sedikit berantakan.
Beres! Saatnya dia berangkat ke sekolah.
***
“Al, tolong biarin gue pulang ...,” lirih seorang wanita dengan wajah sendu, membiarkan air matanya berjatuhan dan mengalir di pipi.
“Nggak! Gue nggak bakalan biarin lo pergi. Lu nggak ingat, perjuangan gue yang udah nolongin lu, ha?”
“Iya, gue ingat, tapi please izinin gue balik. Atau gue bakal bayar semua uang yang udah lo keluarin buat gue.” Memelas, rasanya tak ada pilihan lain, selain memelas dan meminta belas kasihan, karena kabur dan berbuat kasar hanya akan memperparah keadaan.
“Nggak bisa, Givanna! Gu—”
“Gue mau pulang, Al. Gue mau pulang.” Suaranya sudah tak terdengar lagi. Samar karena diiringi dengan tangisan.
Al terdiam menunduk. Memainkan ujung sepatunya di besi penyangga brangkar, di mana Vana tengah terduduk menangis.
“Please, biarian gue pergi. Lo nggak berhak buat nahan gue di sini, Al. Lo cuman orang asing, sedangkan gue punya keluarga yang nunggu gue di sana.” Sulit memang berbicara sembari menangis, tapi dia paksakan juga menjelaskan untuk meyakinkan cowok keras kepala itu.
Sudah cukup lama Vana membujuk Al, tapi pemuda itu tak mengindahkan sama sekali permohonannya. Ia hanya menjawab ‘Tidak, tidak dan tidak’.
Vana pun sudah mengatakan bahwa dia sudah mempunyai suami, tapi lihatlah pemuda itu. Tetap kekeh dengan pendiriannya. Dasar, keras kepala!
“Nggak! Udah kesekian kalinya gue bilang enggak, Givanna! Itu artinya lo nggak bisa maksa gue lagi!” Berakhir dengan satu bentakan, Al berdiri dari duduknya. Melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.
“Lo nggak punya hak buat ngatur-ngatur gue, Al! Harus berapa kali gue bilang ke elo!”
Perkataan itu membuat Al kicep dan refleks menghentikan langkahnya. Sejenak dia terdiam, merenungi kata-kata itu. Benarkah, dia tidak punya hak? Apa dia berdosa, sudah menahan Vana yang sudah menjadi milik orang lain?
Berbalik, pemuda itu berkata, “Gue bakal antar lo balik.”
__ADS_1
***
Bersambung ....