PASUTRI MUDA

PASUTRI MUDA
part 49


__ADS_3

***


Hari ini Saga dan Vana beserta teman-teman sejajaran mereka tengah mengadakan piknik kecil-kecilan. Tempatnya di belakang rumah pasutri mereka, dengan udara yang super sejuk.


Kebetulan di sana terdapat rumput hijau nan segar yang terbentang luas, juga ada danau kecil yang menurut mereka itu sangat indah.


Kalau saja itu tidak dalam, pasti mereka sudah mandi di sana, berenang bebas seperti ikan yang berenang di dalam laut. Sayangnya danau itu kecil dan sudah pasti kedalamannya tak terjangkau. Menyeramkan.


Saga dan Vana hanya duduk santai sedari tadi, memperhatikan teman-temannya yang asik memainkan permainan di kejauhan sana.


Kita maklumkan saja bumil yang duduk di samping Saga itu. Dia mana bisa ikut bermain dan berlari seperti teman-temannya.


Vana bersandar di bahu suaminya, memeluk lengan kekar Saga, sedangkan satu tangan pria itu bergerak mengelus surai panjang milik istrinya.


“Pinjem HP,” pinta Vana memelas, rindu dia menonton drakor. Sudah dua hari ini Saga melarangnya bermain ponsel.


Pria itu memberikan sebuah ponsel ber-cover pink milik sang istri, langsung ditepis oleh empunya.


“HP kamu, ini nggak ada datanya. Miskin sekali yang punya!” kata wanita itu, mengembalikan ponselnya ke arah Saga.


“Bawel banget, sih! Pengen ci–lok.” Sengaja Saga mempelesetkan perkataanya melihat respon Vana yang tak bagus.


Memberikan ponselnya kepada wanita itu, dia mengambil alih ponsel Vana dan memeriksa semua aplikasi yang terinstal di sana.


“Tumben nggak ada musuh gue,” gumamnya, kala biasanya walpaper semua aplikasi chat Vana menggunakan foto aktor-aktor Korea.


“Mereka itu cuman lebih ganteng dari gue, jadi gue nggak perlu khawatir,” tuturnya random, beralih ke aplikasi Yutup.


“Buset, Yang, begini apa data kamu nggak habis, orang semua drakor pada di-download. Ntar kalo aku ngirim foto aku RAM-nya penuh, gimana?!” omelnya menunduk ke arah Vana yang terbaring dengan pahanya sebagai bantal.


Vana tak menghiraukan, fokus ke arah ponsel Saga yang menampilkan funny para idol K–pop. Wanita itu cekikikan sendiri, mengabaikan suaminya yang sudah memasang raut kesal.


“Denger, nggak, aku ngomong apa?” tanya pria itu menyetel nada bicaranya sesantai mungkin.


“Ya, abisnya kamu pulang kerja selalu sore, kan aku bosen. Jadinya aku nonton drakor aja sambil nunggu kamu pulang.” Akhirnya Vana menjawab, memanyunkan bibirnya beberapa centi membuat Saga gemas melihatnya.


“O, yaudah kalo gitu mulai besok aku pulang siang aja, biar bisa nemenin kamu, ya?”


Ia mengangguk, mendudukkan tubuhnya menghadap sang suami, kemudian menghamburakan diri ke dalam dekapan pria itu.


“Yaelah, nih pasutri! Romantisan mulu!” timpal Azka iri, berjalan mendekat seraya melemparkan kaleng bekas minuman ke arah Saga. Untungnya pria itu refleks mengelak.


“Makanya lo buruan nikah, dah! Depresi bener liat orang sweet kaya gini,” balas Saga tersenyum miring menyindir.


Azka yang tabah hanya mengelus dadanya singkat, berlari seperti kelinci kembali ke arah teman-temannya.


Dasar, pengganggu!


***


Saga dan kedua orang tuanya termasuk Gibran tengah dilanda ketegangan dan kekhawatiran.


Saat ini mereka berada di lorong rumah sakit, tepatnya di depan ruangan operasi yang di mana di dalamnya Vana sudah siap mengeluarkan bayi yang selama sembilan bulan ia rawat dalam perutnya.


Tadinya dia ingin melahirkan secara normal saja, tetapi stamina tubuhnya tak memungkinkan dan takut jika nanti dipaksakan hanya bisa separuh jalan, hingga akhirnya berujung operasi juga.


Takut yang Vana rasakan, ketika melihat bayangan benda-benda tajam yang ia lihat dari ruangan yang sepenuhnya terbuat dari kaca, hingga dia bisa melihat bagaimana isi perutnya yang sudah terbuka. Menyeramkan.


Sebenarnya tidak ada rasa sakit sedikitpun, mengingat sebelum dilakukannya persalinan, wanita itu terlebih dulu di suntik obat bius hingga sebatas lehernya.

__ADS_1


Ternyata proses persalinan itu tidak berlangsung lama seperti apa yang ia pikirkan sebelumnya. Hanya dalam jangka waktu kurang dari 30 menit, perutnya sudah tertutup kembali, tetapi meninggalkan bekas luka. Tidak seperti sedia kala.


Dia tidak mengisahkan itu, yang penting dia hanya ingin buah hatinya yang sangat ia tunggu sejak lama. Ia juga tak perduli dengan tubuhnya yang akan berkembang setelah melahirkan. Mungkin Saga juga tidak mengisahkan itu.


Sekilas dia mendengar dokter mengatakan bahwa bayinya berjenis kelamin perempuan. Sesuai harapannya.


Belum lagi sempat ia melihat bayi kecilnya, para suster itu langsung keluar membawa sang bayi menemui Saga yang berada di luar ruangan.


Tidak bisa ‘kah para suster ini membiarkan Vana melihat wajah putrinya sebentar saja? Menyebalkan!


“Bu, kita langsung pindah ke ruangan intensif sekarang, ya!” ujar salah satu suster yang masih tertinggal.


Vana hanya mengangguk singkat, membiarkan brangkarnya didorong entah ke mana. Sekarang dia hanya bisa pasrah saja.


Lihatlah! Bahkan Saga dan yang lainnya sudah tidak lagi di sini. Ke mana mereka? Apa mereka sengaja meninggalkannya di sini? Jahat sekali!


Ketika brangkar terhenti, ia merasakan tangan seseorang menggenggam tangannya, tersenyum haru menatap wajah lelah sang istri, tetapi tertutupi dengan raut bahagia.


“Anak kita mana?” tanya wanita itu pada Saga yang sibuk merapikan peralatan bayi di atas nakas.


Mereka akan menginap dulu di sini selama tiga hari dan itu memang anjuran dari dokter bagi ibu yang bersalin dengan cara caesar.


“Masih di ruangan bayi, ada mama sama papa kok, di sana.”


“Kapan aku bisa liat anak kita, Sayang?” rengek wanita itu menghentakkan kakinya pelan, lupa bahwasanya dia tengah sakit.


“Satu jam lagi.”


“What?!”


“Nggak perlu khawatir. Anak kita mirip sama aku, kok,” kata Saga aneh.


Sakila Afhwa Askara. Itu adalah nama putri kecil Saga dan Vana. Putri kecil cantik yang wajahnya mirip sekali dengan wajah sang ayah. Hidung mancung, serta alis yang terlukis dengan sempurna. Hampir seluruh sisi wajahnya mirip dengan Saga.


***


Empat tahun berlalu ....


“Ayah!” teriak seorang gadis mungil yang berlari menghampiri seorang pria yang tengah berkutat dengan laptop di hadapannya.


Pria itu menoleh, tersenyum pada putrinya dan membawa gadis kecil itu ke dalam pangkuannya, mengecupi seluruh wajah dan membiarkan gadis itu bermain dalam pangkuannya.


“Mama mana?” tanyanya mengelus puncak kepala gadis kecil itu.


“Itu,” tunjuk Sakila ke arah daun pintu. Di sana Vana berdiri dengan segelas susu di tangan.


Melangkah, wanita itu mendekati ayah dan anak yang menatapnya kompak, kemudian menyodorkan segelas susu di tangannya ke arah sang suami langsung Saga ambil alih.


Pria itu mengerti, Sakila berlari menghindari minum susu. Betapa payahnya gadis kecilnya itu jika sudah berurusan dengan susu.


“Minum dulu susunya, nih. Enak tahu,” kata pria itu ke arah Sakila yang sibuk dengan keayboard laptop, hingga tulisan yang Saga ketik hancur karena ulah putrinya.


‘Masih gue pantau,’ batin Vana bersedekap dada. Selalunya Sakila itu menurut sekali dengan ayahnya.


Benar ‘kan? Gadis kecil itu langsung meleguk segelas susu dari tangan ayahnya hingga tandas tersisa.


‘Fuck,’ batin Vana lagi. Butuh perjuangan sekali tadi dia membujuk Sakila untuk minum susu, tetapi tak diindahkan. Giliran Saga?


Sakila itu ayah-an sekali. Tidak mau sedetik saja jauh dari ayahnya. Sedangkan Vana, selalu diabaikan. Oke, kita ganti judul menjadi ‘Givanna yang ter-abaikan’.

__ADS_1


Vana pernah iseng bertanya kepada Sakila.


“Sakila anak siapa?”


Sakila menjawab semangat, “Mama!”


“Sakila sayang siapa?” tanyanya lagi, berharap Sakila akan menjawab sama seperti tadi.


“Ayah!”


“Kok ayah? Sayang mama, dong,” bujuk Vana gemas melihat putrinya.


“Ayah!”


“Mama, do—”


“Yaudah, kali kalo dia sayangnya sama aku, kamu bisa apa? Kan ada aku yang sayang sama kamu,” timpal Saga bergabung dengan Vana dan Sakila. Jangan lupakan senyuman smirk-nya yang menyebalkan.


“Ila juga sayang Mama!” teriak Sakila tak terima Saga mengatakan bahwa hanya dia yang menyayangi Vana. Padahal kan, Sakila juga.


Memang Sakila sayang dengan keduanya, tetapi tak adil, alias berat sebelah. Maksudnya 70 persen ke Saga, sisanya ke Vana.


***


Vana sumuk, tak bisa tidur dan sibuk sekali dari tadi menggeser-geserkan tubuhnya mencari posisi nyaman di atas kasur.


Diliriknya Saga yang tertidur pulas di sampingnya, kemudian meraih tangan suaminya yang bebas lalu melingkarkan di perutnya. Sedangkan Sakila tidur di kamar yang berbeda, ditemani oleh pengasuhnya.


Terkejut, Vana membulatkan matanya melihat Saga yang terbangun karena ulahnya yang lasak.


“Maaf,” cicit Vana merasa bersalah.


“Kenapa, sih, belom tidur? Ini udah jam satu loh, Yang. Bukannya jam satu siang loh, ya. Jam satu pagi ini,” tutur Saga dengan mata mengantuknya.


“Aku nggak bisa tidur. Dari tadi udah merem, tapi nggak ngantuk-ngantuk. Malah ketakutan karena kamu tidur, nggak ada yang nemenin.” Wanita itu menarik-narik ujung kaos Saga di balik selimut, menatap suaminya dengan wajah puppy eyes.


Saga tersenyum jahil, medekatkan wajahnya dengan wajah sang istri yang berubah pucat pasi.


Vana menaikkan satu alisnya, malah membuat Saga semakin mengulum senyumnya membuat tubuh Vana memanas. Bagaimana tidak? Saga semakin dekat dengannya hingga kini tubuh mereka sudah menempel satu sama lain.


“E ... sayang, aku rasa Sakila belum butuh adek,” ucap Vana dengan suara serak. Sial! Pasti Saga sudah berpikiran macam-macam.


“Kenapa harus nunggu Sakila butuh adek? Kita nglekauin itu semata-mata bukan cuma karena mau nambah anak, tapi ....”


Tak!


Saga mematikan lampu tidur meja di nakas, tersisa lampu tidur gantung di atas, menimbulkan cahaya remang


“Will you unite with me?” bisik pria itu tepat di belakang telingan Vana.


“I will.” Vana membalas, tersenyum malu.


Menutupi tubuh mereka dengan selimut sepenuhnya, menguatkan cinta dengan ditemani oleh cahaya remang-remang yang menurutnya itu sangat romantis.


“I love you.”


“I love you too.”


T H E E N D . . . .

__ADS_1


__ADS_2