
[Agil]
Di tengah koridor yang menuju ke kelasnya, Vana tak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal betul, tak asing di kedua netranya.
“Agil?” gumamnya, perlahan senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.
Wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa, mengejar orang yang bernama Agil itu, karena si cowok berjalan dengan langkah lebarnya.
“Agil!” panggilnya setengah berteriak, seketika membuat beberapa pasang mata teralih fokus ke arahnya, termasuk Agil yang merasa namanya dipanggil.
Cowok itu berbalik, mengerutkan alisnya seperti mengenali wanita yang berada di hadapannya itu.
“Vana?”
Vana mengulum senyumnya, benar tak menyangka dapat bertemu kembali dengan sahabat oroknya.
“Eh, serius kamu Vana? Sumpah, cantik banget. Hampir aja aku nggak kenal,” ucap Agil memuji, tak sadar tangannya terulur mencubit gemas pipi wanita itu.
“Iyalah bener. Kamu pindah ke sini? Kok nggak bilang-bilang aku, sih?!” rajuk si wanita melipatkan tangannya di dada.
“Gimana aku mau kasih tahu, Va. Nomor kamu aja nggak punya,” balas Agil memasang raut sendu.
“Iya deh, iya. Kamu masuk kelas berapa?” tanya Vana akhirnya sedikit kepo.
“Kelas IPA 3. Aku lagi cari sepupu aku kelas sana juga, soalnya aku nggak tahu kelasnya di mana. Kamu bisa anter nggak?”
“E ... IPA 3, ya? A–a–aku nggak tahu. Soalnya kelanya udah dipindah,” balas Vana menolak. Bukan apa-apa dia seperti itu, hanya saja dia tak mau bertemu dengan Saga nanti.
“Aku duluan ya, Gil. Kamu tanya aja sama murid di sini!” Vana pamit, mengundurkan diri kemudian berlari kecil menjauhi Agil yang mengerutkan alisnya gemas.
“Makin cantik aja kamu, Va. Buat perasaan aku amburadul aja,” gumam Agil di tengah lapangan, menatap punggung Vana yang semakin mengecil, kemudian hilang di belokan.
__ADS_1
“Woy! Dari tadi gue cari, nggak tahunya di sini!” teriak seseorang heboh, menepuk pundah cowok itu, hingga dia tersentak kaget, sekaligus malu.
“Bisa nggak sih, lo! Nggak usah ngagetin gitu?!” tanya Agil kesal, menepiskan tangan kekar seseorang yang baru saja memukulnya pelan.
“Yaelah ... gitu aja ngambek lo! Udah ayok ke kelas. Temen-temen gue pada mau kenalan sama lo,” ucap siswa SMA yang ternyata adalah ... Saga. Ya, ternyata sepupu Agil adalah Saga. Dan Vana tidak tahu tentang itu.
“Segitu fans-nya ya, temen lo ke gue?” tanya Agil PD, sekaligus menyugar rambutnya kece.
“Bangke! Gue lelepin juga lo di botol Aqua!” damprat Saga, melingkarkan tangannya di bahu Agil, kemudian berjalan untuk menuju ke kelas IPA 3.
“O iya. Temen lo yang lo bilang tinggal di kompleks Pajajaran itu namanya siapa? Sekolah di mana? Kenalin dong, ke gue,” tutur Saga tersenyum geli.
Agil terdiam sebentar. Yang dimaksud Saga itu adalah Vana. Dia tidak mau Vana ataupum Saga kenal, kemudian mereka terpesona satu sama lain. Yang pantas memiliki Vana itu hanyalah dia, pikirnya. Dia kan tidak tahu, bahwa Vana dan Saga sudah menikah muda.
“E ... siapa, ya? Gue lupa namanya, Bro. Rumahnya udah nggak di komplek itu juga deh, kayanya,” balas Agil beralibi.
“Nggak jelas lo!”
\*\*\*
Di dalam satu ruang kelas yang riuh, tampak dua orang siswi yang tengah menyiapkan barang-barang mereka, sembari mengobrol asik, mengabaikan tiga cowok yang sedari tadi memperhatikan.
“Udah ngobrolnya? Buruan lah, kita udah lapar, nih!” sarkas satu cowok melipatkan tangannya di dada. Sebut saja namanya Alfin.
“Iya, sabar dong. Udah, Va?” tutur Ryn mengalihkan pandangannya ke arah Vana yang malah mendudukkan kembali tubuhnya di kursi.
“Kok lo malah duduk lagi?!” tanya cewek itu sedikit kesal.
“Dira mana?” Bukannya menjawab pertanyaan Ryn, justru Vana malah balik bertanya pada Bira yang menatapnya datar.
“Dia kan sakit, jadi kagak masuk,” jawab cowok itu datar. Selalu saja.
__ADS_1
“Ha? Sakit?”
‘Apa karena nungguin aku di simpang kompleks rumah?’ batin Vana sedikit meresapi perkataan Bira.
“Kemarin dia nungguin lo sampek larut di simpang.”
Entah kenapa, Vana semakin merasa bersalah pada Dira. Sumpah, itu bukan kemauannya membiarkan Dira menunggu. Lagian handphone—nya disita oleh Saga, makanya tidak bisa memberi kabar Dira.
Sedikit nyeri mendengar Dira sakit karena menunggunya. Satu pikiran terlintas di dalam otak. Apa setelah ini Dira akan membencinya?
“Gue nggak ke kantin deh. Kalian duluan aja!” perintah Vana, tak mau menatap keempat orang yang berada di hadapannya.
“Yaudah deh, nanti gue bawain makan, ya? Bodygurd, ayo kita berangkat!” Ryn berseru melangkah lebih dulu, diikuti oleh Ega dan Alfin, sedangkan Bira masih diam di tempat.
Vana merenung, entah bagaimana caranya agar dia bisa meminta maaf pada Dira secepatnya. Dia tidak tahu di mana alamat cowok itu. Yang lebih ditakutkan lagi, cowok itu akan marah padanya.
“Kalo lo mau, gue bisa anter! Gue jemput lo di halte,” ujar Bira tiba-tiba, seperti tahu isi pikiran Vana, kemudian berjalan meninggalkan wanita itu di dalam kelas sendiri.
Vana mengembuskan napasnya lelah, menumpukan wajah pada telapak tangan. Saat ini, hatinya tengah bermain teka-teki. Memilih mana yang benar dan mana yang tak pantas untuk dipertahankan.
‘Apa selamanya Saga bakal benci sama gue?’
Menutup mata sempurna, sukses berteriak kala satu orang cowok tiba-tiba berdiri di hadapannya dengan senyum khas yang selama ini Vana rindukan.
“Agil? Kamu ngapain di sini?” tanya wanita itu memundurkan sedikit wajahnya, agara tidak terlalu dekat dengan si cowok.
“Gue? Mau nemuin lo lah. Mau ber-nostalgia,” jawab Agil santai, mendudukkan tubuhnya si samping Vana.
“Gu—”
“Woy! Sini lu!”
__ADS_1
Baru saja Agil ingin berkata, tiba-tiba saja beberapa orang berdiri di ambang pintu kelas itu. Salah satu dari mereka berteriak dengan tatapan horor, dengan tangan yang tenggelam di dalam saku.
Bersambung ....